Home » Malang Raya

Tidak Tahu Jika Diajak Kampanye

Rumah keluarga Siti Cholifah yang menjadi salah satu korban tewas yang berada di RT 8/RW 02 Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jumat siang (30/7) dipadati petakziah. Wanita yang akrab dipanggil Bu Puput ini meninggalkan empat anaknya yang masih belum ‘mentas’, yaitu Rifki, 25, Farid,19, Mufid,17, dan Fani, 6, tahun. Suaminya, Achmad Holik adalah guru SDN Sananrejo I Turen.

Mata Rifki dan Fani sama-sama masih sembab ketika menerima para pentakziah yang kebanyakan merupakan rombongan pengajian dari berbagai desa termasuk dari kecamatan lain. Suami Puput lebih banyak duduk di ruang tamu rumahnya dan terus menampakkan wajah sedih. “Saya nggak menyangka ibu secepat ini pergi,” kata Rifki ketika bercerita di teras rumahnya sambil memangku adik bungsunya Fani.

Menurutnya, ia mendapat kabar kecelakaan sekitar pukul 08.00 WIB lebih, dari salah satu anggota rombongan istigotsah bahwa ibunya dibawa ke RSSA Malang. Tapi 30 menit kemudian, ia mendapat kabar lagi ibunya sudah tiada. Menurut Rifki Ifan Rosadi, ibunya memang aktif di pengajian dan sering bepergian untuk keperluan itu. “Tadi pagi ya berangkat biasa. Nggak ada pikiran apa-apa,” jelas Rifki.

Namun menurut salah satu pentakziah, meski keluarganya tidak memiliki firasat apa-apa, namun setelah ada kejadian ini, maka anggota pengajian baru menyadari bahwa pertemuan pengajian pada Kamis malam (29/7) seperti menjadi isyarat perpisahan pada teman-teman Puput. “Waktu itu Bu Puput bilang ini pengajian terakhir. Tapi teman-teman bilang belum.Ternyata ada kejadian ini,” kata tetangganya. Kata Rifki, sepengetahuannya, ibunya tidak mengetahui bahwa kegiatan istigotsah yang diadakan di stadion luar Kanjuruhan Kepanjen itu diadakan oleh pasangan Madep Mantep yang mengusung Rendra Kresna-A Subhan.

“Setahu saya, ibu saya kesana karena katanya ada istigotsah yang dipimpin oleh Ustad Haryono,” jelas Rifki. Hal serupa juga ditandaskan oleh Kasnatin, penumpang yang selamat dalam tragedi tersebut. “Ya, katanya ada istigotsah yang dipimpin Ustad Hariyono. Saya tidak tahu kalau acara itu diadakan oleh Pak Rendra,” aku Kasnatin. Menurutnya, kenangan akan kecelakaan itu sangat membekas. Apalagi tetangga dekatnya, Ny Samiani meninggal dunia di tempat kejadian. Dengan posisi berdiri sambil memegang erat besi pegangan di pikap tersebut, ia memang selamat.

Tapi setelah terhenyak sadar, ia langsung teringat oleh Ny Samiani. Ia mencarinya. Katanya sulit mencari keberadaan Bu Sum, panggilan akrabnya karena para korban rata-rata tergeletak bak pindang. “Bu Sum kerudungnya lepas dan banyak darah keluar,” tuturnya sedih. Ny Sumiani meninggalkan tiga anaknya yaitu Agus Suyanto, Eni Mustikoweni dan Heru Subagyo. Ketika jenazah datang diantar mobil ambulans RS Bala Keselamatan Turen, tangis anggota keluarganya juga tak terbendung. Begitu juga para tetangganya.

Hal serupa juga terjadi di rumah Siti Cholifah. Korban luka ringan yaitu Ny Salamah,57, yang rumahnya berdekatan dengan Puput juga mengaku setelah jatuh dari pikap, sempat tergulung-gulung di aspal jalan. “Numplek sak jamu-jamune (tumpah bersama jamu yang saya bawa, Red),” cerita Salamah di rumahnya usai pulang dari RS. Ia mengaku membawa minuman jamu tradisional untuk mengikuti acara itu jika haus. Ia sempat dibawa ke puskesmas namun kemudian dibawa ke RS Bala Keselamatan Bokor Turen. Di antara para korban yang bernama Ningtyas,27, akan menikah pada minggu depan namun mengalami patah paha kiri.

Atas kejadian itu, Rendra Kresna dan para pengurus pada pengusungnya pada Jumat siang langsung mengunjungi RS dan rumah korban. “Saya turut berduka cita. Semua tidak ada yang tahu kapan kita meninggal. Karena itu, saat ini hanya bisa memperbanyak ibadah,” ujar Rendra ketika memberi sambutan pemberangkatan jenazah Siti Cholifah yang dimakamkan di TPU desa setempat. Untuk meringankan para korban, tim Rendra membayar semua biaya pengobatan para korban.

Achmad Andi, Ketua Tim Kampanye Madep Mantep terpisah menjelaskan kegiatan istigotsah tidak menghadirkan Ustad Haryono. “Tadi juga tidak ada, kan?” kata Andi.

Dr Antonius Eko Sunaryo, Kabag Humas RS Bala Keselamatan Bokor Turen menjelaskan sebanyak 14 korban kecelakaan sempat dirawat di RS itu namun tinggal empat korban. Sementara di RSI Gondanglegi, dirawat tiga korban.n (Sylvianita W)

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "