KLOJEN - Surya- Siapa bilang orang Indonesia kere-kere? Biar biaya masuknya dibanderol setinggi langit, toh tiap tahun, ratusan orang kaya nyatanya berebut kesempatan menempuh pendidikan di fakultas kedokteran.
Di Universitas Brawijaya (UB), ada 693 siswa yang mendaftar di Seleksi Program Minat dan Kemampuan (SPMK) Fakultas Kedokteran. SPMK, adalah jalur alternatif masuk ke UB, di luar SNMPTN.
Namanya saja jalur alternatif, tentu saja mematok biaya pendidikan yang lebih mahal dari jalur reguler (SNMPTN). Mau tahu berapa? Untuk Fakultas Kedokteran, biaya yang harus dibayar di semester pertama menembus Rp 134 juta.
Kalau disetarakan dengan dana BOS, uang sebanyak itu cukup untuk menyekolahkan 56 siswa SD di Kota Malang sampai lulus. Atau, biaya itu nyaris setara dengan beasiswa yang diterima seorang siswa di SMA Sampoerna Academy Sawojajar, juga sampai tamat sekolah.
Ngebetnya masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah calon dokter, ternyata tak hanya di perguruan tinggi negeri saja. Di fakultas kedokteran kampus swasta seperti Universitas Islam Malang (Unisma), juga kebanjiran peminat.
Menurut Rektor Unisma, Abdul Mukri Prabowo, pihaknya sampai menolak lebih dari 400 pelamar di fakultas kedokteran tahun ini. “Peminat ada 500 lebih, sementara kuota kami hanya ada 100. Itu pun sudah kami tambah, karena tahun lalu kami masih menerima sekitar 50 saja di fakultas ini,” kata Mukri, Selasa (27/7).
Padahal, biaya pendidikan di Unisma, tak kalah tingginya. Untuk masuk ke fakultas ini, dibedakan dalam empat gelombang yang masing-masing punya harga berlainan, yakni Rp 75 juta, Rp 95 juta, Rp 105 juta, dan Rp 125 juta. Semakin awal mendaftar, semakin murah.
Sementara Pembantu Rektor I UB, Bambang Suharto, mengatakan wajar kalau kedokteran jadi primadona masyarakat. Alasannya, dokter, tetaplah sebuah profesi yang menjanjikan. Ini bisa dilihat dari umumnya para dokter yang hidup berkecukupan.
“Lulusan kedokteran itu tidak perlu pusing cari pekerjaan, mereka bisa buka praktik sendiri,” kata Bambang.
Bambang juga mengungkapkan, pendidikan dokter memang memakan biaya yang sangat besar. Ditambah, pihaknya memang memerlukan dana untuk menyubsidi mahasiswa tak mampu. “Kalau hanya mengandalkan biaya pendidikan dari jalur reguler, kami jelas tidak bisa memenuhinya,” kata Bambang.n ab
Dibaca: 742 kali
Edy Firmansyah
kl yg lewat jalur alternatif tsb mmng org yg mampu(pintar) dan kompeten tdk ada masalah, tp kl tdk mampu tp di paksakn(krn mampu secr materi), bisa2 jd dokter mal praktek.
Wahyudin Khairul Azzam
Itu artinya…. anak orang miskin ( walaupun pintar ) susah menjadi dokter. Atau… dokter itu hanyalah profesi eksklusif orang kaya saja. Pantas jika bisa kesehatan ( baca : berobat ) sangat mahal dinegeri ini. Dan… orang miskin dilarang sakit!