Home » Jatim Raya

Maunya Liburan Jadinya Tahlilan

Andai semua berjalan lancar dan normal, Rahmat Bayu Riyanto, 14, hari ini sudah bisa menikmati liburan di Surabaya bersama dua temannya.

Siswa kelas VIII SMP 8, Kota Madiun ini merupakan salah-satu dari enam korban tewas akibat anjloknya KA Logawa jurusan Purwakarta-Jember pada Selasa (29/6) sore. Ia dan temannya Yoga Prasetyo, 14, dan Gigih, 14, saat itu dalam perjalanan ke Surabaya untuk berlibur sepekan ke rumah nenek Gigih. Namun, belum sampai satu jam KA meninggalkan Stasiun Kota Madiun, kecelakaan terjadi. KA Logawa anjlok dan terjun ke jurang.

“Kalau Rahmat tidak duduk di pintu gerbong,, dia mungkin lain nasibnya. Dia terpental,” kata Yoga kepada Surya kemarin.Rahmat, warga Jl Manggala Mulyo, Kelurhanan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun ini, tak jadi liburan. Malah, tahlilan bisa digelar untuknya.

Kata Yoga, sejak awal dia sudah mengingatkan temannya itu untuk masuk ke dalam gerbong. Sebab, bangku kursi KA masih tersisa satu, tepat di sampingnya. Namun, korban tetap ngotot duduk di pintu masuk gerbong ke-4.

“Sudah saya ingatkan untuk masuk dan duduk di sebelah saya. Sebab, kursi masih sisa untuk satu orang,” terang Yoga.

Yoga kemarin hanya tercenung sendirian di RSUD Panti Waluya, Kabupaten Madiun. Selain Rahmat yang meninggal, Gigih pun juga tak mungkin diajak melanjutkan perjalanan karena dia kini dirawat di UGD rumah sakit dengan luka parah. Sebagaimana Rahmat, Gigih juga terlempar dari gerbong KA.

“Lagi pula, saya juga masih trauma,” kata Yoga, siswa kelas VIII SMK Gamaliel Kota Madiun.

Paman Rahmat, yakni Yanto, 43, mengatakan, keponakannya itu sudah pamitan hendak ke Surabaya, ke rumah nenek temannya.

Yang dia dengar dari keluarga, tak ada firasat apapun dari Rahmat sebelumnya bahwa dia akan meninggal. “Tapi saya belum ketemu bapaknya. Dia masih tak bisa diganggu,” kata Yanto.

Sementara itu, tergulingnya KA Logawa tak akan begitu mudah dilupakan oleh Edi Budiarto, salah satu korban selamat. Pegawai PT KA yang dinas di Stasiun Madiun ini merasakan gerbong yang ditumpangi bergulung-gulung hingga 5 kali.

“Lima kali ngguling-nya, tapi pelan. Ya semua orang teriak histeris. Semua badan rasanya sekarang sakit semua,” kata Edi yang saat ini sedang dirawat di RSUD Panti Waluya.

Saat terguling itulah, kata Edi, dirinya merasakan seperti di dalam kaleng yang dikocok. “Saya tersiram air panas milik pedagang asongan,” kata Edi yang menderita luka di kaki itu.

Edi yang menumpang di gerbong belakang atau nomor 11 mengakui jika saat kejadian laju kereta dalam kecepatan cukup cepat. “Saya kira cuma anjlok, ternyata terguling begitu parah,” kata Edi yang sehari-hari tinggal di Perumahan Wilis, Kediri.nwan

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "