SURABAYA - SURYA- Kebangkitan Srimulat 2010. Tulisan ini tertera di sudut kartu undangan hitam buat Harian Surya untuk pementasan di Gedung Srimulat, Jumat (28/5) malam. Ini salah satu upaya menghidupkan kembali seni lawak bentukan almarhum Teguh ini.
Jarum jam menunjuk pukul 19.30 WIB. Panggung di Gedung Srimulat THR diisi dengan sajian musik pembuka. Di ruang ganti, beberapa pemain duduk rapat di kursi besi. Di kursi lain duduk Martopo. Pria tengah baya ini sibuk mem-briefing para aktor-aktris Srimulat seputar alur cerita pentas malam itu: Hantu Rumah Kosong.
Ada guratan tidak puas di wajah Martopo usai pengarahan sekitar 15 menit itu. “Vera belum datang. Lha, bintang utamanya saja sampai jam segini belum kelihatan,” ujarnya dengan nada gelisah sambil berulang-ulang menatap jam di dinding ruang yang dihiasi kaca cukup lebar itu.
Tak lama muncul Vera. Setelah meletakkan tas, wanita selama enam tahun ini menekuni bisnis kantin di Universitas Airlangga ini langsung menyambar kertas berisi skenario di tangan Martopo. “Wis nggak usah dijelasno. Suarane bising, kupingku kuping tuwo nggak krungu, dadi tak wocone dhewe ae critone,” cetus ibu dua anak ini.
Kirun, tokoh yang ditunggu-tunggu muncul saat waktu hampir menunjuk pukul 21.00 WIB. “Disiplin itu kunci utama dari kegiatan apa pun untuk bisa sukses. Merosotnya Srimulat juga tak lepas dari kurangnya disiplin pemainnya sendiri,” ungkap Martopo.
Wajah Martopo masih belum sumringah. Ternyata masih ada pemain yang belum menampakkan diri. “Kalau sampai waktunya ‘naik’ belum datang, terpaksa dirangkap pemain lain. Ini sudah biasa seperti ini. Sudah bertahun-tahun saya seperti ini. Harus siap kasih petunjuk dadakan jika ada pemain yang nggak datang dan melimpahkan pada pemain lain,” katanya sambil hilir mudik dari ruang ganti ke ruang sisi panggung mengamati persiapan pemain yang harus muncul di panggung.
Seluruh awak Srimulat yang pentas malam itu seharusnya 14 orang. Dari jumlah itu empat di antaranya pemain perempuan. “Srimulat harus diregenerasi. Karena, dari yang senior itu yang masih menunjukkan loyalitasnya kan tinggal mereka ini,” tutur Martopo sambil menyebut nama Didik Mangkuprojo, Vera, Tohir, dan Eko Londo.
“Nek aku manut ae. Wis wayahe introspeksi. Nek aku jik pancet melok main (Srimulat) ini mergo loyalitas. Darah dagingku ya di seni sampai kapan pun,” cetus Didik Mangkuprojo yang sudah memiliki empat orang buyut ini. ACHMAD PRAMUDITO
Editor : jps