Home » Jatim Raya

Makan dan Minum lewat Selang Dimasukkan Hidung

Penderitaan Balita Tanpa Langit-langit Mulut
TUBAN - SURYA-
Sejak lahir, Muhammad Ikhsan tidak memiliki langit-langit mulut atau palatum. Karena itu, balita berusia 10 bulan itu harus meminum susu atau memakan apapun menggunakan selang yang disalurkan lewat lubang hidungnya.

Hanya jalan setapak yang menghubungkan rumah dari kayu di tepi Bengawan Solo tersebut dari jalan makadam yang jaraknya lumayan jauh dari jalan beraspal. Di rumah sangat sederhana itu, Suratno, 30 dan istrinya Wasriatun, 26, warga Dusun Jetit, Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, tinggal. Suratno yang sehari-hari mencari ikan di Bengawan Solo adalah lelaki asal Kanor, Bojonegoro yang letaknya berada di seberang bengawan.

Sedangkan Wasriatun asli kelahiran Jetis. Sepuluh bulan lalu, seorang bayi laki-laki lahir hasil pernikahan mereka. Bayi itu diberi nama Muhammad Ikhsan. “Sejak masa kehamilan hingga lahir, semuanya normal,” kata Wasriatun mengawali obrolan dengan Surya.

Tapi, semua keluarga mulai kebingungan ketika sang bayi berusia dua bulan. Sebab, sejak lahir semua susu yang diberikan sang ibu selalu kembali setiap kali diminumkan. Kondisi Ikhsan pun semakin memprihatinkan kala itu. Tubuhnya semakin kurus karena tak mengonsumsi apapun.

Akhirnya, pihak keluarga memutuskan untuk membawa Ikhsan ke rumah sakit umum Bojonegoro. Memang, lokasi rumah keluarga ini lebih dekat ke Kota Bojonegoro dari pada jarak menuju kota Tuban. Maklum, Rengel adalah kecamatan yang berbatasan dengan Bojonegoro yang hanya berjarak beberapa kilometer saja.

Setelah menjalani pemeriksaan, Ikhsan divonis mengalami kelainan sejak lahir tanpa memiliki palatum. Kelainan ini, dalam bahasa kedokteran disebut palatoschizis. “Sejak saat itu, dokter memberikan selang yang disambungkan ke hidung Ikhsan supaya dia bisa diberi susu. Caranya ya seperti ini, susu dimasukkan suntikan kemudian dialirkan melalui selang,” terang Wasriatun sambil menunjukkan proses pemberian susu yang dilakukan suaminya kepada sang anak. Peralatan suntikan itu dibelinya dengan harga Rp 60.000. Sedangkan selang dan pemasangannya semua gratis karena dia memiliki kartu Jamkesmas dari pemerintah.

Kenapa tidak dioperasi? Menurut Suratno, dokter baru berani mengoperasi jika berat badan anaknya minimal 10 kilogram. Sedangkan saat itu, bobot Ikhsan baru sekitar 7 kg. “Tapi setelah diberi selang, bobotnya terus naik lantaran tubuhnya bisa mendapat asupan gizi melalui susu yang dialirkan dengan selang tersebut. Saat ini bobotnya sudah ada 9,4 kilogram,” sambung lelaki yang beberapa minggu terahir nganggur lantaran debit air bengawan sedang naik.

Dengan selang, kondisi Ikhsan belum sepenuhnya sempurnya. Setiap satu minggu sekali ia harus dibawa ke rumah sakit untuk kontrol dan ganti selang. Selain itu, selang yang dipasang ke hidung dan ditempelkan ke wajah sebelah kanannya menggunakan perekat dari kain warna coklat itu kerap lepas karena ditarik tangan sang bocah. Dan setiap kali lepas, harus dibawa ke rumah sakit untuk diperbaiki lagi. Tentunya harus keluar ongkos transpor meski semua perawatan gratis dengan Jamkesmas.

Kondisi Ikhsan sendiri nampak sehat dan lincah seperti balita seumuranya. Hanya saja, ia belum bisa bicara dan merangkak sama sekali. Bocah ini hanya terlihat senyum dan mengerang saja sambil membolak-balikkan tangan dan kakinya saat dokter Bambang Lukmantono dari Tuban datang ke rumahnya, Jumat (28/5).

Usai melakukan pemeriksaan, dokter Bambang membenarkan bahwa bayi ini tidak memiliki Pallatum. Namun, cara yang terbaik untuk mengatasi itu seharusnya tidak menggunakan selang. Tapi dengan dot khusus penderita palatoschizis. “Selang mudah lepas dan kurang bebas bagi si bayi,” terang Bambang.

Bambang khawatir, jika tidak segera dibuatkan Pallatum di mulut Ikhsan, maka makanan atau minuman yang dikonsumsi dengan mudah bisa mengalir ke paru-paru melalui lubang hidungnya. Hal tersebut berbahaya karena akan merusak paru-paru sang bocah. “Dengan menggunakan selang seperti ini memang sudah bagus. Tapi, akan lebih bagus lagi setelah dioperasi dibuatkan Pallatum menggunakan tulang lunak lain yang ada di tubuh si bayi,” sambungnya. M Taufik

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "