Home » Surabaya Metro

Surabaya Simpang Festival 2010

Dibuka Malam Ini, Ajak Pengunjung ke Masa Lalu
Surabaya - SURYA-
Datanglah ke Jalan Taman Apsari, Jumat (30/4) malam ini, karena di jantung kota Surabaya itu bakal ada acara unik bertajuk “Surabaya Simpang Festival 2010″. Jika tidak pernah datang di festival tahunan Pasar Malam Besar Tong Tong di Deng Haag, Belanda, miniaturnya ada sini.

Acara Surabaya Simpang Festival (SSF) 2010 yang bisa disebut sebagai `menu pembuka` untuk perayaan HUT ke-717 Kota Surabaya ini, hanya akan berlangsung dua hari, yaitu pada Jumat hari ini dan Sabtu (1/5) malam. Namun, pemanasannya sudah dilakukan mulai Kamis (29/4). Yaitu ketika sejumlah pekerja lapangan menyiapkan properti di lokasi acara di sekitar Jalan Taman Apsari Surabaya dan Patung Gubernur Suryo (depan Gedung Negara Grahadi), dan belasan badut berkeliaran di jalanan Surabaya dengan atribut SSF 2010.

Badut-badut ini —di antaranya beraksi pantomim yang mengundang senyum pengguna jalan— membagikan brosur acara SSF 2010 di tiga persimpangan jalan di Surabaya, yakni perempatan Jalan dr Soetomo, Jalan Raya Gubeng dan Jalan Gemblongan. Beberapa anak muda lainnya dengan sabar menerangkan bentuk acara yang digagas Pemkot Surabaya dan Harian Surya ini kepada setiap pengguna jalan.

Menurut panitia pelaksana acara, Dodo Zaman, penyelenggara mengemas acara ini berbeda dengan acara sejenis pada umumnya. Ajang SSF tak sekadar sebagai tempat wisata kuliner, atau lokasi pertunjukan musik dan seni khas Surabaya dan Jatim. Tetapi, lebih dari itu.

Sebab, pertunjukan musik dan seni yang ditampilkan bukanlah dari jenis yang sudah biasa, yang nge-pop, melainkan seni keroncong, seni tetabuhan, permainan perkusi khas dan etnik dll. Sedangkan sajian kuliner yang bisa dibeli para pengunjung di arena SSF, sebagian besar mengandung unsur tempo doeloe.

“Tempat acara yang berada di ruang terbuka (open space) di sekitar Jalan Taman Apsari akan dibuat atraktif tanpa menghilangkan kesan festival itu sebagai festivalnya rakyat,” kata Stella Soedibjo, General Manager Business Harian Surya. Bersama Pemkot Surabaya, Harian Surya memang menjadi pengusung acara ini.

Taman dan fasilitas yang tersedia di sekitar jalan itu dan di seputar Patung Gubernur Suryo, jelas Dodo, akan dirias sedemikian rupa, termasuk melalui aneka pencahayaan (lighting), sehingga memunculkan memori pada suasana dan keakraban Surabaya tempo doeloe yang hadir pada masa kini.

Acara terbuka yang tidak memungut biaya apapun alias gratis untuk para pengunjungnya ini, berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.

“Melalui Surabaya Simpang Festival yang baru pertama kali digelar ini, Surabaya hendak dijadikan sebagai etalase budaya dari kota-kota yang ada di sekitarnya,” kata Wiwiek Widayati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya.

“Dijamin para pengunjung akan terkesan ketika pulang,’’ imbuh Dodo Zaman.

Stella mengakui, SSF terinspirasi acara tahunan Pasar Malam Besar Tong Tong di Den Haag, Belanda. Pasar malam di negeri Kincir Angin itu sudah menginjak tahun ke-52 pada tahun 2010. Di dalamnya menyuguhkan pelbagai tontonan warisan budaya Nusantara. Mulai makanan langka, musik etnik. Suasananya juga dikemas nyaman khas masa lalu.

“SFF 2010 ini akan menghadirkan suasana serupa meskipun belum sebesar Pasar Malam Besar Tong Tong, sebab SSF 2010 adalah kali pertama digelar di Surabaya,” kata Stella.

Di lokasi acara, di sekitar taman, di depan Gedung Negara Grahadi ini, panitia SSF juga akan menyulap kawasan hijau ini menjadi tematik. Di atas taman ini akan berderet belasan tenda taman, serta ada panggung yang ditata artistik di tengah-tengah barisan tenda.

Sementara itu, tata lampunya juga digarap indah, kerlap-kerlip bergelantungan antarpohon. Mirip penerangan taman-taman sebuah cottage. Lantas di bawah tenda-tenda itu akan dihadirkan semua makanan khas Surabaya.

Tidak hanya lontong balap yang akrab di telinga atau nasi bebek yang saat ini sedang populer. Namun, juga makanan yang sudah hilang dari memori, termasuk semanggi, ronde, angsle, dan bubur manggul. Jangan khawatir jika tidak enak. Karena suguhan ini dimasak juru masak hotel-hotel berbintang di Surabaya.

“Semua hotel dan restoran khas dan berkelas di Surabaya akan berpartisipasi,’’ ujar Stella. Acara di atas panggung akan menampilkan pertunjukan keroncong yang langka, musik perkusi khas Madura, hingga tetabuhan Jawa Timuran.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengatakan, konsep acara ini begitu apik, sehingga tidak salah Pemkot Surabaya ikut mendukung. Bahkan, dia berharap SSF tidak hanya dilakukan tahun ini saja, tetapi bahkan menjadi kegiatan tahunan.

“Akan kami pertimbangkan untuk masuk sebagai agenda pariwisata tahunan Surabaya yang pantas dikunjungi,” kata Wiwiek.

Mengapa ada kata `Simpang` padahal lokasi penyelenggaraannya tidak di Jalan Simpang?

Menurut Dodo, di masa lalu di zaman kolonial Belanda, yang disebut kawasan Simpang (yang merupakan kawasan seni dan hiburan elite pada masa itu) adalah area-area yang di dalamnya, termasuk sekitar Jalan Taman Apsari saat ini. Kuncarsono P

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "