Home » Nasional & Politik

Peraih Unas Tertinggi SMAN 17 Surabaya

Ingin Kuliah, tapi Ayah Lumpuh
Surabaya - SURYA-
Berhasil meraih nilai Unas IPA tertinggi di SMAN 17 Surabaya belum bisa membuat Endah Tri Winingsih bernapas lega. Gadis ini masih harus memikirkan bagaimana bisa kuliah, karena ayahnya lumpuh dan ekonomi keluarga pas-pasan.

Cita-citanya sebenarnya tak terlalu muluk-muluk. Ia cuma ingin menjadi perawat. Dengan harapan kelak bisa merawat sang ayah yang lumpuh serta membantu ibu membesarkan adiknya. Namun, dia tak tahu bagaimana cara mendapatkan biaya kuliah.

Endah tinggal bersama orangtuanya di rumah petak kos-kosan di Jl Kedung Asem III Rungkut Surabaya. Karena kamar indekos terbatas, orangtuanya menyewa dua tempat kos berbeda dalam satu gang. Ayah dan ibu tidur di satu kamar di kos-kosan timur. Sedangkan Endah dan adiknya tinggal di kamar kos-kosan lain yang berjarak sekitar 10 meter dari kos-kosan orangtuanya.

Ditemui di tempat indekos, Endah menyatakan mencoba mengikuti program Beasiswa Bidik Misi (BBM) di Unair untuk Prodi Keperawatan dan Kedokteran. “Tapi, sampai sekarang belum mendapat kepastian,” ungkapnya, Kamis (29/4).

Kalau tidak diterima BBM, Endah yang meraih nilai Unas 53,40 itu akan berjuang mencari dana untuk bisa mengikuti SNMPTN. Saat kuliah berjalan, ia akan mencari pekerjaan paruh waktu. “Tapi saya tidak tahu bisa kuliah atau tidak, karena biaya belum jelas,” ujar gadis kelahiran 25 Desember 1991 itu pasrah.

Anak ketiga dari empat bersaudara itu selalu peringkat pertama di kelas. Nilai Unas kemarin adalah bahasa Indonesia 8,80, biologi 8,60, matematika 9,50, bahasa Inggris 8,75 fisika 9,00, dan kimia 8,75.

Sudah setahun ini, ayahnya, Choirur Rachman, penjual tahu dan tempe keliling, terserang penyakit aneh yang membuatnya lumpuh. “Saya tidak bisa bekerja, karena harus merawat bayi dan suami yang lumpuh,” ungkap Ny Sugiati.

Perempuan ini ingin sekali anaknya bisa melanjutkan kuliah. “Saya hanya bisa berharap mudah-mudahan ada jalan buat anak saya untuk bisa kuliah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Endah sendiri terlihat tegar. Ia serius mempersiapkan diri menghadapi tes SNMPTN sambil mencoba-coba mencari informasi adanya beasiswa di berbagai PT di Surabaya. “Tuhan Maha Pemurah, saya yakin Dia akan buka jalan,” ujar gadis sederhana ini sambil memeluk sang ayah yang lumpuh. dyan Rekohadi

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "