Gara-gara Mencret-Kembung
SURABAYA- SURYA- Dava Chyanta Oktafianto, 3, tewas setelah disuntik perawat di RS Krian Husada di Desa Kemangsen Balongbendo, Sidoarjo, Kamis (29/4). Kasus ini dilaporkan ke Polsek Balongbendo.
Dava dibawa ke RS karena mencret dan perut kembung sejak Senin (26/4). Cemas akan kondisi anaknya, pasangan Dyan Christian Oktafianto, 31, dan Ny Evayanti Hudono, 28, membawa buah hatinya ke RS Krian Husada, Rabu (28/4) pukul 18.30. Korban lalu disarankan rawat inap dan menempati kamar Mawar Putih.
Kamis (29/4) siang, korban emoh makan. Kondisi ini dilaporkan Dyan kepada perawat jaga. Satu di antara tiga perawat ini lalu memberikan obat cair. Obat disuntikkan ke tangan kiri korban. Di tangan yang sama masih menancap jarum selang infus. Beberapa saat kemudian, korban kejang-kejang dan mengembuskan napas terakhir. “Saya tidak tahu kejadian selanjutnya, karena setelah itu saya pingsan,” tutur Eviyanti Hudono, 24, adik Ny Evayanti, Kamis (29/4).
Evi mengatakan, sebelum kejadian itu, si perawat sempat mengatakan bakal menyuntikkan obat agar si bocah tidak kejang-kejang saat buang air besar. Dia mengaku sempat mendengar si bocah menangis sebelum tubuhnya kaku. Dia juga sempat melihat dua orang yang diduga dokter RS itu memberikan pertolongan darurat kepada Dava. “Saya langsung menjerit saat melihat kondisi adik (Dafa),” ungkap warga Perum Permata Dua Desa Tempel Krian Sidoarjo.
Evi bercerita, ketiga perawat yang berada di kamar Dava merupakan perawat magang. Dia memperoleh informasi, bahwa satu dari tiga perawat ini menyuntik obat itu atas perintah dokter yang menangani Dafa. Kejadian itu lantas dilaporkan ke Polsek Balongbendo. Sesaat usai kejadian, sejumlah polisi mendatangi lokasi kejadian dan mengumpulkan sejumlah barang bukti, di antaranya sisa obat, kotoran korban, dan data diagnosa pasien Dafa. Polisi lantas membawa jasad korban ke RSUD Sidoarjo untuk divisum.
Kanit Reskrim Polsek Balongbendo Iptu Shidiq Romliyadi mengatakan, bakal mengusut kejadian itu. Pihaknya akan memanggil sejumlah saksi terkait tewasnya Dafa. Kendati demikian, dia belum tahu siapa saja yang akan dipanggil sebagai saksi. “Kami masih menangani visum korban. Setelah selesai, baru kami agendakan pemeriksaan saksi-saksi,” ucapnya di RSUD Sidoarjo, Kamis petang.
Sementara itu, ibunda korban Ny Evayanto Hudono tampak syok. Beberapa kali dia terlihat menangis sesenggukan. Tubuhnya juga lunglai sehingga terpaksa dipapah sejumlah kerabat saat menunggui proses visum di kamar mayat RSUD Sidoarjo. Sejumlah keluarga korban tampak menahan amarah usai kejadian itu. “Kok bisa seperti itu,” ujar Didik, kakek korban yang ikut menunggui proses visum.
Di sisi lain RS Krian Husada belum bisa dikonfirmasi terkait kejadian ini. Humas dan pejabat yang berwenang dinyatakan sudah pulang. Seorang petugas di bagian apotek, bernama Kusniwati mengaku tidak tahu pejabat humas yang bisa dihubungi. “Saya baru kerja di sini. Dokter jaga UGD juga tengah menangani pasien,”katanya dihubungi via telepon, Kamis petang.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo Tri Ratih Agustina sudah mendapatkan laporan kejadian itu. Pihaknya langsung menginvestigasi kejadian ini dan meminta agar pihak RS membuat bahan laporan kronologis kejadian. Hasil informasi sementara yang dikumpulkan, diduga kuat bocah itu meninggal dunia karena ada penyakit yang menyertai sebelumnya. “Bisa jantung, bisa karena sesak napas. Namun, pastinya kami masih menunggu laporan,” katanya dikonfirmasi, Kamis malam.
Selain diminta membuat laporan kronologis, Dinkes Sidoarjo bakal meminta keterangan sejumlah saksi ahli untuk second opinion terkait kejadian. Upaya ini memastikan ada tidaknya dugaan malapraktik dalam kasus tersebut. Soal ijin operasi RS tersebut, Ratih mengatakan bakal menunggu hasil investigasi yang dilakukan Dinkes Sidoarjo. “ Kalau untuk mencabut, perlu penetapan dari pengadilan,” katanya seraya menyebut jika RS bertipe C seperti RS Krian Husada perijinan diberikan Dinkes Sidoarjo.nain
Editor : jps