Surabaya - SURYA- Macetnya air PDAM di wilayah Surabaya barat, membuat warga protes dan menuntut kompensasi, Rabu (28/4).
Romlah, salah satu pelanggan PDAM di Manukan Tama mengatakan, sejak tiga hari ini air PDAM tidak mengalir normal. Ibu dua anak ini mempertanyakan niat baik PDAM, sebab jika telat membayar sambungan diputus, namun jika kerap mati, tagihannya tetap penuh. “Harus dikorting alias didiskon, kami ini rugi dua kali,’’ keluhnya.
Ferry Irawan, warga Balongsari yang wilayahnya juga kena giliran mampet mengaku, sekarang warganya sibuk menyiapkan air bersih untuk cadangan. Satu jerigen air yang biasanya dijual Rp 1.000 sampai Rp 1.500, karena macetnya PDAM, naik menjadi Rp 2.500 per jerigen.
Tidak hanya air tanah yang dijual ngecer yang naik, depot-depot isi ulang juga menaikkan harga. Dari yang biasanya Rp 2.000 menjadi Rp 3.000. “Apa PDAM peduli,” keluh Ferry.
Menurut catatan Surya, selama bulan April, Surabaya barat menderita paling parah terkait pelayanan PDAM. Tanggal 9 dan 10 April lalu, PDAM di Surabaya barat dan utara juga mampet, peristiwa minimnya semburan air bersih itu juga terjadi lagi, 16 April, terutama di Kecamatan Sambikerep. Kondisi ini akibat bocornya pipa induk di Putat Gede. Warga khawatir mampetnya air bersih itu sampai berhari-hari, seperti kasus minggu lalu.nuca/sda
Editor : jps