SEJARAH PANJANG KAWASAN SIMPANG SURABAYA SEBAGAI PUSAT HIBURAN PADA MASA KOLONIALISME HADIR KEMBALI DALAM BALUTAN WARNA KAYA SEJARAH BUDAYA. JIKA MENEER DAN MENVROW BELANDA MENGENAL KEMERIAHAAN SIMPANG INI SEJAK 3 ABAD SILAM. KINI, CAK DAN NING SURABAYA BAKAL MENGULANG KEMBALI SEJARAH KEMERIAHANNYA PADA 2010 INI.
Kawasan Simpang Surabaya sempat kondang di era abad 18. Di sinilah lokasi favorit orang-orang Belanda menikmati segala bentuk hiburan pada masanya. Hingga hari ini, lokasi strategis yang berubah menjadi pusat pemerintahan propinsi Jawa Timur tersebut berkembang pesat sebagai salah satu landmark kebanggaan kota Surabaya.
Romantisme kemeriahan tersebut bakal dihadirkan kembali untuk pertama kalinya sejak kota Surabaya lahir pada 717 tahun yang lalu lewat pagelaran Surabaya Simpang Festival. ”Surabaya Simpang Festival menjadi agenda baru yang untuk pertama kalinya digelar menyambut peringatan hari jadi kota Surabaya. Sejarah panjang Simpang Surabaya dan popularitasnya bagi orang-orang Belanda mengilhami konsep acara ini,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Wiwiek Widayati.
Kemeriahan itu disuguhkan selama dua hari, 30 April hingga 1 Mei 2010 menggusung konsep open space di Taman Apsari Surabaya. Merias kembali kemeriahan Simpang diyakini akan menjadi ikon baru pagelaran even tahunan di kota Surabaya. Tak mengherankan jika momen ini dimanfaatkan juga sebagai paket travel agent untuk wisatawan asing maupun domestik.
”Kita ingin menjadikan Surabaya sebagai etalase budaya dari kota-kota yang ada disekitarnya,” pungkas Wiwiek. Walikota Surabaya Bambang DH menjadi inspirator penyelenggaraan festival ini. Tokoh yang dikenal begitu akrab dan peduli dengan warisan sejarah dan budaya Surabaya itupun sangat antusias menyambut acara yang menjadi rangkaian peringatan hari jadi kota Surabaya.
Sejarah kota Pahlawan memang tak pernah lepas dengan kawasan Simpang. Pada eranya, daerah Simpang memang masyhur di kalangan elit Belanda dan bangsa-bangsa Eropa sebagai pusat hiburan jauh sebelum republik ini lahir. Simpang menjadi identitas sejarah Surabaya yang penuh cerita. ”Tanggung jawab kita lah untuk mewariskan pada tiap generasi. Kami sangat berterimakasih dengan in spirasi bapak walikota atas peyelenggaraan even ini,” ujar Wiwiek
Lebih lanjut Wiwiek mengatakan, ide dasar mengangkat kembali kawasan Simpang sebagai warisan sejarah datang dari Walikota Surabaya. Menurutnya, momen ini menjadi romantisme sejarah untuk mengingatkan kembali sejarah perjalanan kota tercinta Surabaya. Kemeriahannya tak hanya membangunkan kembali patriotisme dan nasionalisme tapi juga mengukuhkan kembali semangat heroik arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan negeri ini. Karena itu lanjut Wiwiek, kegiatan penuh sejarah seperti Surabaya Simpang Festival akan dilakukan tiap tahun.
Di masa kepemimpinan Bambang DH sebagai Walikota Surabaya, pihaknya bersyukur bisa memberikan momen istimewa itu sebagai kado ulang tahun kota Surabaya. Surabaya disebut-sebut sebagai icon public Jawa Timur. Kota ini selalu berdiri di depan sebagai pengawal kebudayaan dan sejarah. Simpang Festival bukan milik Surabaya saja, tapi juga milik negeri ini. Kegiatan itu digadanggadang bakal menjadi pusat hiburan sejarah dan kebudayaan Jawa Timur.
”Keroncong dan Ludruk milik Jawa Timur, begitu juga kebudayaan lain di beberapa kota lain di sini (Jawa Timur). Mewarisi semangat kemeriahan Simpang, festival menjadi bukti reinkarnasi sejarah sejak 3 abad silam. Surabaya benar-benar bangga bisa berdiri bersama dan terus mengangkat identitas kelokalan Jawa Timur,” katanya ramah.
Dukungan Publikasi
Konsep menarik inipun mendapat dukungan penuh dari Harian Surya. Koran harian yang dalam perjalanannya selalu bersinergi dengan pembangunan kota Surabaya itupun siap memasang ’kuda-kuda’ untuk mensukseskan rangkai an acara perhelatan hari jadi kota Surabaya ke 717. Sebagai Koran harian yang tumbuh besar bersama kota Surabaya, Harian Surya begitu konsen dan peduli dengan kota pahlawan ini.
Gagasan orisinil Surabaya Simpang Festival 2010 dianggap sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya dan sejarah kota. Dan harian Surya membuka tangan lebar-lebar untuk memberikan kemampuan terbaiknya. Kenyataannya, sampai hari ini, Harian Surya terus diterima pembacanya sebagai media informasi paling aktual seputar Surabaya.
Bentuk kontribusi konkret yang disumbangkan oleh Koran milik Kompas Gramedia grup ini berupa akses informasi dan publikasi seluas-luasnya bagi peyelenggaraan peringatan hari jadi Surabaya. Baru-baru ini, Harian Surya bahkan ikut ambil bagian dalam kegiatan Surabaya Souvenir Contest sebagai rangkaian kegiatan peringatan hari jadi kota Surabaya.
”Kami sangat menghargai warisan sejarah Surabaya. Sudah menjadi kewajiban bagi harian ini untuk ikut berjuang dan mengkampanyekannya secara maksimal. Bukankah media massa memiliki peran sangat strategis sebagai corong budaya? Sayang jika momen indah ini kami lewati begitu saja,” ungkap Stella Soedibjo, GM Bisnis Harian Surya dalam sebuah kesempatan.
Di sisi lain, Stella melihat potensi wisata sejarah, landmark bangunan kota lama dan kebudayaan multietnis dapat dikembangkan sebagai komoditas ekonomi kota. Imbasnya tentu saja akan mengangkat perekonomian masyarakat karena perhatian wisatawan asing dan domestik akan tersedot lewat pagelaran-pagelaran semacam ini.
”Saya membayangkan sebuah festival akbar hadir di sini. Melirik kesuksesan Pasar Malam ’Tong-Tong’ yang diselenggarakan tiap tahun di Denhag yang kemudian menjelma menjadi festival Eurasia terbesar di dunia. Kita memiliki semua modal sejarah dan ke budayaan untuk diangkat. Saya sangat yakin, Surabaya bisa mewujudkannya,” terangnya.
Lantas, kemeriahan seperti apa yang dihadirkan dalam Surabaya Simpang Festival? Yang jelas, kemeriahan itu bakal disulap menjadi pesta rakyat yang unik. Atraksi ke - senian tradisional seperti Ludruk, tradisional perkusi, tradisional fusion, video art, musik sintesis, tong-tong, kuntulan dan musik keroncong akan menghiasi la ngit Surabaya. Tak hanya itu, musik kontemporer yang dikawinkan dengan musik tradisional akan mengisi ruang gempita Festival itu.
”Pada Surabaya Simpang Festival, titik poinnya terletak pada bagaimana kita me - nampilkan kesenian tradisional yang ada di Surabaya seperti ludruk, keroncong dan sebagainya. Selain itu masyarakat juga dapat berwisata kuliner menikmati makanan khas Surabaya yang mulai sulit ditemukan,” imbuh Wiwiek. Di lain pihak, Kepala bagian Humas Pemerintah Kota Surabaya, Nanis Chairani menerangkan, selain menggelar Surabaya Simpang Festival, agenda pokok lain juga akan digelar secara maraton seperti upacara, tasyakuran, bhakti sosial dan ziarah ke taman makam pahlawan. Juga ada agenda umum seperti pelayanan pada masyarakat berupa pengobatan gratis, pelayanan KTP gratis bagi lansia dan akte kelahiran gratis.
Untuk kegiatan Festival dan Hiburan, masyarakat akan dihibur dengan Parade Budaya, Festival Rujak Uleg, Festival Perahu layar, Surabaya Shopping Festival, Festival Pop Singer, Surabaya Book Fair hingga Pemilihan Duta Wisata Cak & Ning Surabaya. Sebagai pusat hiburan rakyat, Festival ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Inilah romantisme kemeriahan Sejarah Simpang yang tak lekang oleh gerusan peradaban modern. Jika Belanda memiliki festival Pasar Besar ’Tong-Tong’ yang digelar tiap mu sim panas untuk mengenang kembali nuansa Indonesia, Surabaya bangga memiliki gawe ak bar Simpang Festival yang membawa pengunjung pada kemeriahan Simpang 3 abad silam. Buktikan sendiri kemeriahannya. (*)
Editor : Sugeng Wibowo