SIDOARJO - Surya- Semburan gas berskala kecil (bubble) masih bermunculan di kawasan Porong Sidoarjo. Kali ini menerjang bangunan bekas gudang semen di Desa Siring Barat RT 12/RW 1 Porong.
Semburan itu aktif lagi setelah dua tahun lalu mati. Selain gas, kali ini semburan juga disertai lumpur. Tak hanya itu, semburan juga berbau gas menyengat dan bersuara gemuruh.
Semburan itu muncul dalam area bekas gudang semen yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Lokasinya berada di sisi barat pinggir Jl Raya Porong, tepatnya di Desa Siring Barat RT 12/RW 1 Porong. Semburan itu muncul Selasa (27/4) pukul 20.30 WIB.
“Semburan itu muncul lagi setelah sempat mati pada 2008 lalu,” ujar staf Humas BPLS Ahmad Khusairi, Rabu (28/4).
Semburan, kata Ahmad, diketahui saat sejumlah satpam BPLS memantau kondisi Jl Raya Porong yang selama ini diketahui banyak muncul semburan. Temuan itu lalu dilaporkan ke pos pantau BPLS. Setelah dicek, ternyata semburan itu juga mengeluarkan material lumpur. “Kami menduga semburan ini aktif lagi karena musim penghujan mendorong gas metan (gas alam) menerobos melalui lubang semburan itu,”ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa diameter lubang semburan tidak bisa diketahui besarnya. Sebab semburan ini muncul dalam area bangunan gudang semen yang sudah ditinggalkan pemilik, berukuran 7×15 meter. Sedangkan pintu terbuat dari besi terkunci rapat meski terbuka sedikit. Semburan itu muncul di atas lantai gudang tersebut, di pojok belakang ruangan. Selain bau gas menyengat, timbul suara gemuruh dari arah semburan tersebut.
Belum diketahui pasti siapa pemilik bekas gudang semen itu. Beberapa rumah yang bertetangga dengan bangunan itu kosong karena penghuninya telah mengungsi.
Petugas Divisi Gas BPLS Yogi S menambahkan, semburan itu sempat terpantau aktif lagi pada 11 April 2010. Saat itu semburan tidak berlalu besar. Namun, saat menyembur Selasa malam, material lumpur memancar setinggi dua meter. Saat diukur pagi kemarin, kadar gasnya terdeteksi hingga 35 persen. Untuk kadar gas H2S dan CO2 terpantau nihil, sedangkan kadar oksigen terpantau normal sekitar 20,9 persen.
Menurut Khusairi, kawasan itu sudah ditetapkan menjadi kawasan tidak layak huni karena banyak muncul semburan. Kawasan itu bagian dari 9 RT yang ditetapkan menjadi kawasan tidak layak huni dengan meminta warganya pindah. Ia mengatakan, selain telah memasang papan tanda bahaya dan pita kuning, semburan itu akan ditangani BPLS dengan memasang alat separator. “ Untuk memisahkan gas yang keluar dengan lumpur,”tegasnya.
Di sisi lain, sejumlah warga Desa Ketapang Tanggulangin tetap cemas dengan munculnya semburan di lingkungan bangunan SDN Ketapang. Suprapto, warga RT 2/RW 2 Ketapang mengatakan beberapa warga, termasuk dirinya, berencana memindahkan anaknya yang sekolah di SD itu. “Sebab kami khawatir dengan kondisi gedung sekolah,”katanya.
Kasek SDN Ketapang M Irfan mengatakan, sejumlah siswa sudah dipindah dari ruang kelas yang retak akibat munculnya semburan di halaman gedung sekolah. Para siswa ini dialihkan menempati ruang sekolah sisi utara yang masih aman.nain
Editor : jps