Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Harjogi mengatakan meski lembaga yang dipimpinnya baru terbentuk Mei 2009, sejumlah program kesiapsiagaan untuk mengantisipasi terjadinya bencana langsung digencarkan. Caranya, misalnya dengan intensif melakukan sosialisasi dan pelatihan terhadap para petugas, baik dari lembaga pemerintah, pihak swasta (dunia usaha), maupun masyarakat.
“Pelatihan-pelatihan tersebut untuk meningkatkan social emergency response (SER),” ujarnya, Selasa (30/3).
Hasil dari mengikuti pelatihan tersebut, diharapkan dapat digethoktularkan (diteruskan) kepada semua masyarakat. Selain itu, pihaknya secara berkala memberikan pengarahan kepada para kepala desa, lurah, camat, dan tokoh masyarakat. “Terutama yang ada di daerah-daerah yang rawan terkena bencana,” jelasnya.
Dengan begitu, kata Harjogi, masyarakat diharapkan memahami tanda-tanda sebelum terjadinya bencana dan tahu langkah-langkah yang harus dilakukan. Misalnya, ketika terjadi hujan deras lebih dari dua jam dan terjadi retakan tanah, maka masyarakat harus segera mencari tempat yang lebih aman.
Selain itu, jika bencana benar-benar terjadi, masyarakat spontan dapat memprioritaskan pengamanan fasilitas umum vital, seperti gedung sekolah, masjid, dan rumah sakit/puskesmas.nuji
Editor : jps