Bayi dengan Kelamin Tak Terbentuk

Pipis dan BAB dari Satu Lubang

KELAINAN KELAMIN - Anak pasangan Donny Dadang Irawan dan Murtinah warga Sidoresmo IX/9 Surabaya yang mempunyai kelainan kelamin (cloaca extrophia) dirawat di ruang Neonatus, Irna anak RSU dr Soetomo, Sabtu (6/3). FOTO: Ahmad Zaimul Haq/Surya

SURABAYA | SURYA - Masalah kelainan organ tubuh pada bayi masih banyak dialami di Jawa Timur. Kali ini menimpa pasien bayi yang ditangani RSU Dr Soetomo, dimana bayi itu lahir dengan kelainan kompleks, mulai organ tubuh pencernaan hingga kelaminnya tak terbentuk sempurna (cloaca extrophia).

Bayi ini lahir pada 20 Februari lalu dari pasangan, Donny Dadang Irawan, 34 dan Murtinah, 34, warga Jl Jagir Sidosermo Gang 9 Wonokromo, Surabaya. Ditemui di Ruang Kiriman Luar (RKL) Neonatologi, Irna Anak RSU Dr Soetomo, ibu si bayi, Murtinah tak menduga anaknya akan lahir dalam keadaan tanpa anus. Apalagi dua hari menjelang kelahiran sang buah hati, dirinya sempat melakukan Ultrasonography (USG) di Puskesmas Jagir, yang menunjukkan anaknya berjenis kelamin perempuan.

Namun saat melahirkan di puskesmas yang sama dengan kelahiran normal, bayinya langsung di rujuk ke RSU Dr Soetomo. “Saya bingung, karena saya lihat anak saya sehat dan tak kurang satu apapun. Namun saat bertanya ke dokternya, anak saya tak punya anus dan kelamin,” kenang Murtinah kepada Surya, Sabtu (6/3).

Mendengar penjelasan dokter, tentang kondisi bayinya, Murtinah langsung lemas. Apalagi ini adalah kehamilannya yang ketiga. Dua kehamilan sebelumnya tak bisa dipertahankan karena keguguran. Selama hamil, Murtinah mengaku tak memiliki keluhan yang berarti. Hanya saja saat kandungannya berumur delapan bulan, beberapa kali Murtinah merasakan nyeri yang cukup parah di bagian bawah perut. “Sekarang sudah dua minggu kami harus bolak-balik ke rumah sakit.

Saya berharap anak saya segera dioperasi sehingga kami bisa membawanya pulang dan memberinya nama,” tambah Donny. Jika dilihat sekilas, tubuh bayi Murtinah tergolong normal, meskipun tergolong kecil karena lahir dengan berat 2,2 kg namun terlihat sehat dan tidak rewel. Tetapi jika dilihat dari dekat di bagian bawah perut yang seharusnya ada kelamin, justru muncul gumpalan daging yang terlihat memerah dan tak jelas bentuknya.

Beberapa perawat, mengaku bayi Murtinah selalu tertidur pulas, hanya saja dia sedikit rewel saat pipis dan buang air besar (BAB). “Mungkin karena keluarnya di satu lubang kecil di bagian bawah perutnya yang membuatnya tak nyaman,” ujar salah seorang perawat.

Kondisi bayi Murtinah yang masih perlu perawatan intensif di IRNA Anak itu membuat Donny harus mondar-mandir ke RSU Dr Soetomo untuk menunggu kepastian operasi anaknya. Donny yang bekerja sebagai tukang becak itu pun harus rela tak bekerja demi menunggui anak dan istri.

“Untung saat ini biaya berobat gratis, karena saya menggunakan surat keterangan tidak mampu. Tetapi kalau begini terus, kami bisa tidak makan karena saya tak lagi bekerja,” keluhnya.

Kepala Divisi Neonatologi RSU dr Soetomo, dr Agus Haryadi SpA(K) menjelaskan, kelainan ini memang kompleks dan paling tampak terjadi pada saluran pembuangan serta kelamin si bayi. Untuk kelainan pada saluran pembuangan, ini terjadi pada saluran kencing dan anus, dimana keduanya menjadi satu. “Ini disebut cloaca extrophia, atau penyatuan kedua saluran itu karena proses pembentukan organ tak sempurna. Jika Anda melihat, pada bagian gumpalan merah di bawah perut adalah kandung kencing yang keluar,” tuturnya.

Demikian pula dengan organ kelamin si bayi, dimana hingga saat ini pihaknya belum bisa mengidentifikasi apa jenisnya, apakah laki-laki atau perempuan. Selain saluran pembuangan dan kelamin yang tidak terbentuk secara sempurna, bayi pasangan Donny Dadang Irawan dan Murtinah, juga mengalami dua kelainan lain pada tubuhnya. Kelainan itu ada pada kaki dan tulang punggung. “Memang cukup banyak kelainan pada bayi ini,” katanya.

Kaki kanan bayi, jelas Agus, mengalami pembengkokan (ctev). Sementara pada punggung bayi terdapat sebuah benjolan tumor (spina bifida). Meski kaki kanan bayi bengkok namun kaki kiri bayi bagus dan normal. Sementara untuk penanganan kelainan pada si bayi, pihaknya saat ini hanya merawat sembari memastikan kondisi bayi stabil dan jauh dari infeksi. Lalu untuk menentukan jenis kelamin sang bayi, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan seks kromosom (kariotyping). Bila jenis kelamin sudah ditemukan, maka kelamin buatan akan dibuatkan.

“Membuat kelamin wanita lebih mudah daripada membuat kelamin pria,” lanjutnya. Nantinya, tutur Agus, sang bayi memang akan dioperasi untuk dibuatkan alat kelamin. Tetapi jalan menuju kesana belum memungkinkan untuk saat ini. Ada syarat-syarat tertentu agar bayi bisa dioperasi untuk dibuatkan alat kelamin, seperti berat badan, kemungkinan infeksi dan lain-lain.

“Kalau untuk operasi, kami lakukan setelah kondisi bayi stabil, sekitar 3-6 bulan kemudian,” ujarnya. Mengenai penyebab adanya kelainan kompleks pada bayi, pihaknya menyebut multifaktor. Bisa jadi, asupan gizi dari ibu pada si janin masih rendah, atau bisa juga penyerapan gizi dari si bayi yang kurang maksimal. “Memang kurang gizi, makanya beratnya hanya 2 kg, padahal yang normal sekitar 2,5 kg,” pungkasnya.

Dibaca: 889 kali

  • Penulis : Sudharma Adi
  • Editor : Sugeng Wibowo

Kirim Komentar