Home » Berita Terkini

Perajin Tahu Kesulitan Kayu Bakar

Bojonegoro- Perajin tahu di Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jawa Timur mulai kesulitan bahan bakar kayu jati sejak beberapa bulan terakhir. “Selama ini bahan bakar dalam proses pembuatan tahu selalu dengan kayu jati, karena dengan kompor elpiji kurang panas,” kata seorang perajin tahu di Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, Djamari, 50, Minggu.

Hal senada disampaikan perajin tahu lainnya, Wito (45) dan Satipah (56) yang masih saudara Djamari. Menurut Wito, hampir semua perajin tahu di desa setempat yang jumlahnya ada 100 perajin tahu selama ini selalu memanfaatkan bahan bakar kayu jati yang dibeli dari berbagai kawasan di Bojonegoro yang dikirim secara langsung. “Pengirimannya dengan kendaraan truk, kendaraan colt tepak, sepeda motor, hingga sepeda kayuh,” katanya.

Sejak lima bulan terakhir bahan bakar kayu jati, baik berupa kayu jati “rencek” atau akar mulai sulit didapat. Pedagang kayu jati yang menjual kayu kepada para perajin mulai mencampur kayu jati dengan berbagai kayu lainnya.

“Kalau sekarang kayu jati hanya sekitar 50 persen, maka bahan lainnya kayu campuran,” kata Wito.
Ia menjelaskan harga bahan bakar kayu jati bercampur dengan kayu lain antara Rp475.000,00 hingga Rp500.000,00 per truk engkel, sedangkan satu paket kayu yang dibawa sepeda motor atau sepeda kayuh berkisar antara Rp50.000,00 hingga Rp75.000,00.

Untuk produksi tahu selama ini, bahan yang dibutuhkan berkisar satu kuintal kedelai per hari. “Dengan bahan bakar kayu satu truk kayu biasanya dalam sepekan habis. Sepanjang produksi tahu lancar seperti sekarang ini, satu truk engkel bahan bakar kayu, habis dalam sepekan,” katanya.

Menjawab pertanyaan, Djamari mengaku dirinya mengganti bahan bakar kayu dengan bahan bakar elpiji yang sejauh ini tidak diminati para perajin tahu di wilayah setempat. “Bantuan kompor dan tabung gas yang kami terima hanya dimanfaaatkan untuk keperluan rumah tangga tidak untuk memproses tahu,” katanya.
Lain halnya dengan Wito. Ia mengatakan sejauh ini para perajin masih belum berpikir untuk mengganti bahan bakar kayu dengan elpiji dalam proses pembuatan tahu.Para perajin masih tetap memakai kebiasaan lama dalam proses pembuatan tahu dengan bahan bakar kayu.
“Kalau memang ada kompor besar elpiji yang bisa mengeluarkan panas besar, mungkin saja kami berubah tidak lagi dengan bahan bakar kayu, sebab bagaimana pun ke depan bahan bakar kayu akan semakin langka,” katanya.ant

Editor : Satwiko Rumekso

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "