SURABAYA-SURYA - Penelitian mahasiswa ITS dari beberapa jenjang memberi alternative pilihan bagi masyarakat luas khususnya korban gempa bumi. Penelitian yang diilhami pengalaman penanganankorban gempa di Aceh, Padang dan Jogjakarta itu berupa konsep Rumah Cepat Bangun Tahan Gempa System Pracetak (RCBTGSP).
Sesuai namanya konsep penelitian itu mengacu pada pembangunan rumah ukuran type 36 yang bisa dikerjakan secara cepat dan mudah tapi memiliki keunggulan dalam menghadapi bencana alam khusnya gempa. Ketua program New Innovative Disaster Mitigating Green Building Sytems ITS Ir Tavio MS PhD menyatakan konsep rumah cepat bangun tahan gempa merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang diketjakan mahasiswa dari jenjang S1, S2 dan S3 ITS dalam memnuhi kebutuhan rumah dan gedung untuk rehabilitasi korban gempa.
Tak ubahnya rumah sederhana pada umumnya RCBTGSP didesain dengan pembagian ruang rumah standar. Perbedaan mendasar rumah tipe ini bisa dilihat dari bahan yang digunakan serta struktur bangunan. Mulai dari pondasi hingga dinding rumah dibuat dari bahan beton pracetak yang masing-masing dihubungkan dengan system sambungan. “Beton pracetak dipilih karena bila diproduksi massal akan lebih murah tapi kualitasnya tetap bisa disamakan sesuai kebutuhan,” ujar Tavio.
Untuk pondasi dipilih system pondasi telapak. Pondasi selanjutnya dihubungkan dengan kolom secara sambung menyambung. Demikian juga dinding rumah yang dibuat dari bahan pracetak bisa dipasang melalui system sambungan. Di bagian atap rangka alternative bisa digunakan kayu atau dipilih bahan baja ringan. Demikian juga bahan genting dipilih bahan yang ringan tapi cukup kuat.
“Kami sengaja memilih bentuk sambungan antar kolom dan dinding semudah dan seefisien mungkin sehingga pembangunan bisa mudah dan cepat dilakukan,” ujar Recky Tirtajaya, mahasiswa S2 yang melakukan penelitian. Melalui pola itu dipastikan untuk membangun sebuah rumah type 36 berlantai satu hanya membutuhkan waktu maksimal empat hari. “Itu hitungan waktu jika dikerjakan lima sampai enam orang, tapi kalau secara massal bisa lebih cepat lagi,” tambah Recky.
Bukan hanya bisa cepat dibangun RCBTGSP juga relative murah. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun rumah satu lantai diperkirakan mencapai Rp 50 juta. Untuk sebuah rumah type 36 dua lantai biaya pembangunan keseluruhan sekitar Rp 90 juta. Biaya yang dikeluatkan bisa lebih murah jika dibangun massal.
Terkait kekuatan bangunan menahan gempa para peneliti ITS memastikan konsep RCBTGSP bisa bertahan jika terjadi gempa berkekuatan hingga 7,5 skala richter. “Hasil analisa dorong dan leleh rumah ini masih bertahan sampai kekuatan 03 gravitasi, jika ada gempa seperti di Aceh banguna tidak runtuh meskipun tetap akan ada kerusakan berat,” papar Recky.
Menurut rencana konsep RCBTGSP akan terus dikembangkan dengan penelitian penujang lain seperti penelitian bahan baku beton pracetak yang lebih ringan dan murah. Selain itu konsep rumah juga perlu diuji secara laboratorium sebelum benar-benar diproduksi. rey
Dibaca: 455 kali