JAKARTA | SURYA Online - Pengamat Ekonomi Universitas Gajah Mada Revrison Baswir menyebut bahwa dalam beberapa tahun ini Indonesia terus mengalami krisis kesejahteraan dengan jumlah orang miskin mencapai puluhan juta orang. Tercatat, sebanyak 32,5 juta orang masih berada pada level kemiskinan ekstrim pada tahun 2009 .
“Selama beberapa tahun terakhir terjadi berbagai krisis yang dialami bangsa ini, termasuk krisis kesejahteraan dimana telah terjadi kemerosotan kesejahteraan rakyat, kehancuran lingkungan, dan degradasi moral,” kata Revrison dalam sambutannya, saat Deklarasi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), di gedung Perpustakaan NasIonal, Jakarta, Selasa ( 9/2/2010 ).
Revrison mengatakan saat ini nasib kaum tani di Indonesia masih miskin dan tidak banyak berubah. Padahal, kaum tani merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Namun, pendapatannya hanya sebesar Rp 1, 527 juta per kapita per tahunnya atau hanya mencapai Rp 4.365 per hari. “Kaum petani cenderung dipinggirkan. Sumbangan usaha tani padi dalam struktur pendapatan rumah tangga merosot dari 36,2 persen pada tahun 1980 -an tinggal 13,6 persen pada tahun 2000 -an,” ungkapnya.
Di tilik dari kondisi rata-rata kepemilikan lahan, rumah tangga petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar, meningkat dari 10,8 juta keluarga tahun 1993 menjadi 13,7 juta keluarga tahun 2003 dan diperkirakan menjadi 15,6 juta di tahun 2008 .
Di sisi lain, degradasi kesejahteraan juga menimpa kaum buruh yang semakin terhimpit dalam kebijakan pasar tenaga kerja yang fleksibel. Penyusunan regulasi perburuhan yang liberal menyebabkan minimnya perlindungan terhadap kaum buruh dari ancaman pemecatan, upah rendah dan kondisi kerja yang buruh. Kesejahteraan buruh yang menurun seiring dengan upah yang sangat rendah, hanya berkisar 5 sampai 6 persen dari biaya produksi.
Angka pengangguran yang tinggi juga disebabkan oleh menurunnya kinerja sektor industri nasional akibat kebijakan sektor industri nasional karena kebijakan liberalisasi.Tak hanya itu, kerusahan lingkungan hidup akibat eksploitasi yang berlebihan juga terus memakan korban jiwa.Ini terindikasikan dengan berbagai bencana ekologi seperti banjir, tanah longsor, penangkapan sumber daya perikanan yang belebihan dan kebakaran hutan, pencemaran air, sungai, dan udara.
ani/kcm
Dibaca: 135 kali