Haus di Padang Tandus Lereng Panderman

Ketiban Sial, Tunggu Giliran Air Mengalir dari Keran
Batu- SURYA- SUKIMAN nyaris frustrasi. Air bersih nyaris tak pernah lancar mengalir dari pipa PDAM. Warga kawasan Ngaglik Atas Kota Batu itu tidak habis pikir mengapa air mengalir dua hari sekali. Setelah memutar otak, ia akhirnya membeli tendon untuk menampung air minum ketika air datang.

“Kami punya tandon, agar bisa menampung air ketika kami mendapat giliran dialiri air oleh PDAM,” beber Sukiman, warga Ngaglik Atas Kota Batu, Senin (8/2). Bila air dihabiskan saat itu juga, hari berikutnya warga hanya gigit jari karena keran tak meneteskan air.

Kota Batu sebenarnya dilimpahi kekayaan alam, berkat tanah yang subur dan air jernih segar yang tak berhenti mengalir. Ironisnya, justru banyak warga Batu tak bisa menikmati air itu, seolah mereka hidup di padang tandus. PDAM Kota Batu yang seharusnya bertanggung jawab atas distribusi air kepada warga sepertinya tidak punya tangan dan kaki untuk mengusahakan itu.

Nasib Sukiman juga dialami warga Temas dan Kauman Kelurahan Sisir, namun sedikit lebih baik. Di situ air mengalir tiap hari, tetapi hanya saat malam. Air pun langsung mengkeret ketika matahari muncul. Menjelang sore, air mulai mengalir. “Kadang, kalau air di bak sudah habis di siang hari karena aktivitas rumah banyak, menantu saya harus rela menimba air di sumur tetangga,” ungkap Hj Muslimin, warga Kauman.

Pantas pelanggan PDAM mengeluh. Bayangkan, dari 10.000 pelanggan, hanya 60 persen yang bisa dilayani penuh 24 jam dan 20 persen hanya dikirimi air selama 12 jam. Sisanya harus menunggu giliran.

Angka-angka itu memang menyesakkan dada. Bagaimana tidak, Kota Batu punya sedikitnya 111 sumber air bersih, 53 di antaranya mati baru-baru ini karena penggundulan hutan. Tetapi sisanya tidak bisa dibilang sedikit. Sangat berbeda dengan tetangganya, Kota Malang, yang hampir tak punya sumber air di wilayahnya tetapi nyaris tidak punya masalah distribusi air bersih. “Memang di Batu ada sejumlah mata air yang potensial tetapi sebagian besar sudah dikelola oleh PDAM Kota Malang dan PDAM Kabupaten Malang,” beber Zadim Effesiensi, Plt Direktur PDAM Kota Batu.

Sumber air Binangun di Desa Bumiaji dan Banyuning di Desa Punten ternyata sudah lebih dulu diekploitasi PDAM Kota Malang. Data dari LSM Paramitra Kota Batu, PDAM Kota Malang menyedot 650 liter per detik dari situ. Sedangkan PDAM Kabupaten Malang mengambil 60 liter per detik.

PDAM Kota Batu hanya kebagian 150 liter per detik. “Angka ini sebenarnya cukup untuk 10.000 pelanggan jika kami punya pompa air untuk menambah tekanan air. Jadi pelanggan di tempat tinggi bisa kebagian. Beli pompa butuh duit banyak, sementara menaikkan tarif juga sangat sulit,” tandas M Yusuf, bidang teknik PDAM Kota Batu pasrah./Renni Susilawati

Dibaca: 199 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar