Dilabrak FPI, ‘Hantu Datang Bulan’ Gagal Ditayangkan

JAKARTA - Surya- Film Hantu Puncak Datang Bulan, yang dibintangi artis Andi Soraya, gagal tayang serentak di bioskop-bioskop, Kamis (4/2). Penyebabnya, pihak pembuat film takut dengan ancaman dari Front Pembela Islam (FPI).

Hal itu diungkapkan melalui telepon, Kamis (4/2), oleh Yan Wijaya, juru bicara K2K Production, perusahaan film yang membuat Hantu Puncak Datang Bulan. “Dari kemarin beredar SMS ancaman dari FPI. Kalau film ini tetap ditayangkan FPI akan demo dan menyita film itu,” jelasnya.

Sesuai jadwal, seharusnya Kamis (4/2) kemarin film itu tayang di 32 layar di Jakarta. Pihak K2K Production pun sudah menyiapkan 43 kopi film untuk disebar di seluruh Indonesia.

“Tapi tidak jadi main karena takut gedung bioskopnya diserbu,” kata Yan.

Sebagaimana diketahui, Hantu Puncak Datang Bulan memang mendatangkan kontroversi, terutama sejak trailernya beredar di YouTube. Dalam trailer film tersebut tampak sejumlah adegan syur, antara lain, Andi Soraya melepas bra dan melakoni adegan ranjang dengan Ferly Putra, aktor pendatang baru yang kini menjadi kekasihnya.

Di pihak lain, Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Salim Bin Umar, memberikan label “teroris moral” kepada Hantu Puncak Datang Bulan. Label ini ditempelkan Salim ketika menemui Lembaga Sensor Film (LSF) berkaitan dengan protes FPI atas pemutaran film horor ini, Kamis (4/2).

Tak cuma filmnya yang diprotes. Protes juga dilancarkan kepada Andi Soraya karena adegan panasnya. Protes berikutnya ditujukan kepada LSF. Lembaga yang terdiri dari orang yang berasal dari berbagai bidang ini dinilai sering meloloskan film horor porno.

“Seperti kasus Miyabi, kita demo abis-abisan biar dia nggak datang. Tapi di film Suster Keramas, pemainnya wanita itu adalah pemain film porno, dan LSF masih meloloskan film itu,” sesal Habib Salim.

Sebelumnya Aya –sapaan Andi Soraya– menganggap adegannya wajar. “Saya kecewa. Seharusnya yang mencekal film menonton dulu karena film ini sangat menghibur. Buktinya tadi yang nonton banyak yang tertawa karena memang lucu. Kalau dirasa vulgar memang ini untuk usia dewasa,” kata Aya.

Tak kalah kecewa, K2K Production yang membuat film ini, membantah telah memasang trailer film Hantu Puncak Datang Bulan di situs internet YouTube, sebelum disensor LSF. Dia merasa tak ada bukti K2K yang menyebarkannya. Sebelumnya, LSF mengingatkan, tindakan ini melanggar undang-undang perfilman dan bisa terkena pidana penjara atau denda Rp100 miliar.

Untuk menghindari kesalahpahaman, K2K Production siap untuk mengajak FPI nonton bareng film ini. Ian Wijaya pun akan melakukan pendekatan dengan pihak FPI.

“Kami akan menayangkan film itu dalam acara preview bersama tokoh-tokoh yang bersangkutan,” ujar Ian Wijaya seraya menambahkan, jika langkah ini gagal maka K2K Production siap mengganti judul dan siap melakukan sensor ulang.

Mereda

Dalam perkembangannya, sikap FPI yang semula menentang keras penayangan film yang dianggap berbau porno itu akhirnya mereda setelah mendengarkan penjelasan langsung dari pihak LSF. Setidaknya, begitulah penjelasan anggota LSF, Anwar Fuady. Dia memastikan bahwa adegan yang berbau porno dalam Hantu Puncak Datang Bulan telah kena sensor.

“Yang mereka (FPI, Red) keberatan itu adalah adegan yang ada di dalam foto-foto itu. Yang kedua, mereka melihat di internet di mana promo film itu adalah bagian yang belum disensor. Itu memang mengerikan, otomatis mereka melakukan action,” tekan Anwar, saat ditemui Kompas.com di Gedung Film, Jakarta Selatan, Kamis (4/2).

FPI dan LSF bertemu selama dua jam. Menurut pria yang juga menjabat Ketua Persatuan Artis dan Sinetron Indonesia (Parsi) tersebut, dalam pertemuan itu FPI mulai memahami pangkal permasalahannya.

“Mereka bilang ’silakan. Selagi itu tidak ada porno, ya, silakan, kami tidak berusaha untuk menjegal’,” kata anwar menirukan ucapan perwakilan FPI.

Menurut Anwar, sejauh ini pihak LSF telah menjalankan fungsinya, sehingga tak ada lagi alasan untuk menyalahkan lembaga tersebut. “Dari LSF tidak ada kesalahan. Yang salah itu produsernya yang memberikan promo-promo di luar sensor yang sudah kami tetapkan. Cara berjualan mereka yang salah,” tegasnya.

Itu sebabnya dia mengimbau kepada produser agar membuat film bagus dengan judul bagus pula. “Kenapa? Karena film-film barat itu kadang-kadang tidak vulgar. Meski ada adegan bercinta tapi tidak vulgar, halus. Kita ini kasar sekali. Kalau kita melihat sebelum disensor, jijik kita melihatnya,” tandas Anwar. ndtc/kcm

Dibaca: 781 kali

  • Editor : jps

Komentar anda

  1. made suka nada Jumat, 5 Februari 2010 - 11:05:23

    coba aja pihak terkait mensurvei/adakan polilng kepada masyarakat (dewasa) tentang film tersebut masyarakat setuju atau gak. Kalau kebanyakan masyarakat yang setuju (pasti kebanyakan yg setuju) mungkin kita hrs menyadari mental masyarakat kita ekarang.

  2. putra bungsu Jumat, 5 Februari 2010 - 11:47:37

    hal seperti ini sering kali terjadi…… sepertinya memang hrs lebih ketat di saring film2 yg serupa,

  3. wendi barve Jumat, 5 Februari 2010 - 12:24:38

    kita tau kitaberada di era yang aneh,tapi bukan berarti porno grafi bebas beredar,kita punya agama dan jangan art yang jadi kambing hitamnya.

  4. Gok Dien Sabtu, 6 Februari 2010 - 08:34:11

    Kali ini saya salut dengan ikhwan-ikhwan FPI… memang harus ada masyarakat yang berani seperti antumsemua.Allahumma Barik Lakum

  5. Engging Minggu, 7 Februari 2010 - 08:35:10

    menurut saya porno itu harus di hapuskan karena bisa merusak moral. semua pihak terkait harus berusaha semaksimal mungkin. mungkin untuk filem trailer juga harusnya di sensor dulu agar tidak terjadi salah faham seperti sekarang ini pihak sensor menyatakan filem trailer itu belum di sensor kenapa bisa seperti itu?. seharusnya baik trailer maupun full haruslah kena sensor dulu agar semua clean tidak ada permasalahan. saran dari saya sensorlah semua filem yang akan di lihatkan kepada masyarakat tak terkecuali untuk film trailernya.

  6. IEMA PUTRI CAHYA NINGRUM KUSUMA BANGSA Minggu, 7 Februari 2010 - 14:54:17

    SANGAT TIDAK BAIK UNTUK DITAYANGKAN
    SANGAT NGISIN-NGISINI BANGSA
    APALAGI PARA PEMAINNYA MEMERANKAN PERAN YANG KURANG BAIK UNTUK DIPERTONTONKAN DI MASYARAKAT
    SANGAT TIDAK BERMORALLLLL……………………………………………………………………………………………………………

  7. syahril shidiq Senin, 8 Februari 2010 - 09:32:54

    hidup FPI !!!! hidup Islam !!!! hancurkan pornografi !!!

  8. yolanda Rabu, 10 Februari 2010 - 09:08:35

    ya bagaimana prestasi anak bangsa bisa maju kalo media motivasinya ituitu terus,
    untuk budayanya saja sudah tidak direken ( di urus, red).
    gitu aja kalo kebudayaan direnggut bangsa lain kalian bengok-bengok ( teriak2, red )

Kirim Komentar