Lima-Kesalahan fatal dilakukan tim dokter RS Alberto Sabogal, Callao, Peru. Mereka mengamputasi kaki yang sehat, sementara kaki yang mengalami infeksi dibiarkan. Akibatnya, pasien malang itu harus kehilangan kedua kakinya karena bagaimanapun kaki yang bermasalah tetap harus dipotong.
Insiden bermula saat Jorge Villanueva Morales, 86, memeriksakan penyakit diabetes yang dideritanya di RS itu pada 4 Januari lalu. Kaki itu penuh luka yang terus memburuk.
Ketika Morales memeriksakan kembali kakinya pada Sabtu (23/1), dokter memutuskan untuk mengamputasi kaki kanannya pada hari itu juga. Morales dan keluarganya setuju.
Menurut Carmen Villanueva, putri Morales, sebelum operasi dilakukan, ayahnya merasakan kaki kirinya tengah dipersiapkan. Saat itu Morales mengira hal itu prosedur yang harus dilakukan.
“Ayah langsung terlelap ketika suntikan bius bereaksi. Saat ia bangun dan bermain-main dengan tangannya, ternyata Ayah merasakan kaki kanannya masih utuh,” tutur Carmen kepada Radio Peru, Selasa (26/1).
Morales kemudian menanyakan hal itu pada perawat, Betapa kaget pria sepuh itu ketika sang perawat mengatakan bahwa yang dibuang adalah kaki kirinya yang sehat.
Menyadari kesalahan itu, tim dokter buru-buru melakukan operasi kedua di hari berikutnya. Kali ini mereka mengamputasi kaki kanan Morales yang bermasalah. Gara-gara kesalahan itu, Morales kini kehilangan kedua kakinya sekaligus.
“Saya terkejut saat mengangkat selimut yang menutupi tubuh ayah. Mereka mengamputasi kaki kirinya. Mereka lalu mengamputasi kaki kanan yang mengalami infeksi agar tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya,” kata Carmen.
Akibat kecerobohan dokter, pihak keluarga berencana menuntut tim dokter dan rumah sakit tersebut. “Kami harap keadilan akan datang dan kasus ini bisa menjadi contoh agar tidak terjadi lagi,” tegas Carmen.
Di sisi lain, menurut Carmen, ayahnya membutuhkan dukungan psikologis supaya bisa keluar dari situasi sulit itu.
“Ia sadar apa yang terjadi dengan dirinya. Saat Ayah bertanya, “apa jadinya hidupku tanpa dua kaki”, saya hanya berkata, “Mari kita hadapi bersama ayah,” imbuh Carmen dengan mata berkaca-kaca.
Carmen tidak mengerti, bagaimana tim dokter yang berpengalaman bisa salah mengamputasi. Pihak rumah sakit masih belum menjelaskan insiden ini.
“Mereka masih menyelidiki kasus ini. Hasilnya akan diketahui dalam 48 jam ke depan,” tuturnya.
Dalam pernyataannya, RS Alberto Sabogal mengungkapkanbahwa mereka telah menjatuhkan skorsing pada dokter yang terlibat dalam operasi itu.
Oscar Ugarte, Menteri Kesehatan Peru yang dihubungi menyayangkan kejadian tersebut. “Siapa pun yang terlibat harus dihukum. Peristiwa ini sangat menyedihkan dan kami telah memerintahkan segera dilakukan penyelidikan,” ujar Ugarte.ap/rpp/peru/tis
Editor : Satwiko Rumekso