JAKARTA | SURYA Online - Diduga, pembobolan ATM yang marak terjadi di Indonesia baru-baru ini dikendalikan penjahat jaringan internasional .
“Kami telah meminta bantuan interpol untuk menangkap tersangka yang berada di Australia dan Kanada,” kata Kepala Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Selasa (26/1/2010).
Namun, Polda Metro Jaya tak menyebutkan identitas warga negara asing yang mengendalikan jaringan itu.
Dalam aksinya, jaringan internasional itu bekerja sama dengan para tersangka yang berada di dalam negeri. Jaringan dalam negeri, berperan mencuri data-data ATM dengan menggunakan alat bernama skimmer, sedangkan jaringan luar negeri berperan membaca data yang berada dalam skimmer.
Selanjutnya, para tersangka membuat ATM palsu dengan menggunakan data-data yang telah dicuri. Kartu ATM itu dapat dipakai untuk transaksi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kasus ini terungkap, ketika Polda Metro Jaya menerima laporan, bahwa ada sekitar 500 rekening nasabah Bank Centra Asia (BCA) dibobol pada akhir Agustus 2009, dengan kerugian sekitar Rp 700 juta.
Kemudian, bekerja sama dengan BCA, polisi berhasil mengungkap kasus tersebut setelah mencurigai seseorang yang bertransaksi di salah satu ATM di Pademangan, Jakarta Utara.
Orang yang dicurigai itu mengendarai sepeda motor Nopol B 64XXX SAG. Dari pemilik sepeda motor itu, polisi dapat menangkap sembilan tersangka.
Salah satu tersangka bernama AR berperan memasang alat skimmer di mesin ATM untuk membaca data-data kartu ATM. Data-data yang dicuri lalu dikirim ke Kanada dan Australia untuk dibaca.
Menurut Boy, tersangka AR hanya memasang di skimmer di satu mesin ATM saja .
“Kami masih mempelajari apa kasus ini terkait dengan kasus yang sama di Bali atau yang lainnya,” ujarnya.
ant
Editor : Sugeng Wibowo