JAKARTA | SURYA Online - Kesepakatan kerja sama yang terjalin antara negara-negara anggota ASEAN dan China atau Free Trade Area ASEAN-China rupanya tidak hanya membuat resah para pelaku industri di Tanah Air. Para pekerja sopir angkutan peti kemas pun menyatakan penolakan mereka terhadap bentuk kerja sama FTA ASEAN-China tersebut.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (SBTPI) Ilhamsyah dalam sebuah diskusi publik bersama ratusan sopir peti kemas di Sekretariat SBTPI, Jalan Jampea Raya, Koja, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2010).
Mereka menilai, industri di Indonesia masih belum mampu bersaing di pasaran bebas. Dengan demikian, penerapan kerja sama FTA ASEAN-China hanya akan menimbulkan kerugian bagi Indonesia, terlebih bagi para pelaku industri kecil di Tanah Air. “Kami secara tegas menolak FTA dengan China. Ini hanya akan menimbulkan kerugian yang berdampak langsung kepada masyarakat kecil seperti kami,” kata Ilhamsyah kepada Kompas.com di sela-sela diskusi.
Ia memaparkan, kondisi ekonomi dan industri di Indonesia masih belum mampu menyaingi kekuatan ekspansi produk-produk murah dari China. Dengan demikian, dikhawatirkan hal itu justru akan memperpuruk kondisi industri di dalam negeri. Hal ini, kata Ilham, jelas juga akan berdampak kepada kelompok buruh sopir angkutan peti kemas.
Ia membantah bahwa ekspansi barang impor justru akan memberikan keuntungan kepada para sopir dengan banyaknya order barang impor yang harus diangkut. “Kalau industri kita kalah bersaing, otomatis barang ekspor kita jauh menurun. Dampaknya langsung terjadi kepada para buruh. Kami juga akan kehilangan pekerjaan karena minimnya barang ekspor yang mesti diangkut,” tuturnya.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah mempertimbangkan ulang kesepakatan kerja sama dengan China tersebut. Ia mengatakan, pemerintah harus lebih dulu memajukan industri dalam negeri ketimbang memilih bekerja sama dengan China. “Industri dan ekonomi kita harus kuat dulu, baru bersaing dengan pasar global. Kalau begini, ya sama saja bunuh diri. Kalau sudah kuat ekonomi dan industri, ya baru bolehlah kita buka kerja sama,” ujarnya.
c11-09/kcm
Dibaca: 368 kali