London-Penelitian menunjukkan bahwa anak sampai usia enam tahun yangh mendapat hukuman fisik prestasi di sekolah lebih baik dan lebih optimistis dibanding rekan mereka yang tidak pernah dipukul (keerasan fisik) oleh orangtua mereka.
Penelitian yang dilakukan di AS ini tentu saja memicu pro-kontra dan membuat marah aktivis antikekerasan pada anak-anak. Mereka selama ini gagal untuk mencegah hukuman fidsik pada anak-anak di Inggris.
Saat ini di bawah Children Act 2004, orangtua dibenarkan melakukan kekerasan pada anak dengan alasan rasional dan tidak menimbulkan luka atau bekas.
Peneliti menanyai 179 anak belasan tahun mengenai seberapa sering mereka mereka dihukum secara fisik saat mereka anak-anak dan berapa usia mereka saat terakhir dipukul.
Jawaban mereka kemudian dibandingkan dengan informasi yang mereka berikan tentang kelakuann yang sekiranya terpengaruh akibat dipukul. Informasi itu termasuk kelakuan antisosial, aktivitas seksual dini, kekerasan dan depresi, juga aspek positif tentang sukses sacara akademik dan ambisi.
Mereka yang dipukul sampai usia enam tahun menunjukkan performa lebih baik pada hampir semua aspek kategori positif dan tidak lebih buruk pada aspek negatif dibanding mereka yang tidak pernah dipukul.
Remaja yang masih mendapat hukuman fisik dari usia tujuh sampai 11 tahun juga lebih sukses sekolahnya dibanding yang tidak mendapat hukuman fisik, tetapi pada aspek negatifnya lebih buruk, seperti suka berkelahi.
Marjorie Gunnoe, professor of psychology di Calvin College in Grand Rapids, Michigan yang meneliti masalah ini mengatakan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita serta ras.
Namun penelitian ini ditolak oleh organisasi National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), yang melarang hukuman fisik pada anak. “Pemelitian lain menunjukkan hukuman fisik mempengaruhi perilaku dan perkembangan mental, dan membuat mereka menjadi antisosil,” demikian jurubicara NSPCC.
Namun kelompok lain yakni Parents Outloud, menerima baik hasil penelitian ini, dan mengatakan bahwa orangtua seharusnya tidak dihukum melakukan hukuman fisik ringan. “Sangat sulit menerangkan secara verbal pada anak mengapa sesuatu yang mereka telah lakukan salah,” kata Margaret Morrissey, jurubicara.telegraph/rr
Dibaca: 966 kali
Fakhrudin
Ini yang dinamakan stress kerja, bekerja dengan adanya stress terlebih dahulu, dan terkadang output yang dihasilkan menunjukkan arogansi yang tinggi bagi si anak bukan optimisme. Ketika nanti kegagalan yang mereka dapat, maka ketakutan serta strees negatif semakin bertambah. jadi intinya gak semua orang bisa gitu…
yah namanya juga penelitian… hehehe…
febriana yusiyanti
punishment yang berupa tindakan fisik pada anak memang sangat berpengaruh pada perkembangan psikis anak terutama mental, baik ke arah positif maupun yang ke negatif. Jangan sampai huuman tersebut membuat mental anak menjadi kerdil. Pintar2nya kita dalam mendidik anak sangat diutamakan dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Tidak ada kekerasan, namun anak pun cerdas dan sukses.