Home » Nasional & Politik

Abror Naikkan Harga, Calonkan Cawali

SURABAYA-SURYA- Peluang Lewat PG dan PKB. Ketua PWI Jatim H Dhimam Abror Djuraid merubah strategi pencalonan dirinya di Pilwali Surabaya 2010, dari hanya mencanangkan target kursi cawawali menjadi cawali. Perubahan ini setelah melihat konstalasi dan kontestan pilwali yang sudah muncul.

“Melihat konstalasi yang ada dan calon-calon yang sudah muncul, nama Dhimam Abror lebih memiliki kans untuk menang karena popularitasnya lebih tinggi, bahkan bisa melampaui Bambang DH,” tegas Pimpinan Kabar Bisnis.com M Lutfi didampingi Jalil Latuconsina dan Ferry Is Mirza yang ditunjuk sebagai pentolan tim pemenangan Dhimam Abror, Selasa (29/12).

Rencananya launching pencalonan Dhimam Abror akan dilaksanakan 6 Januari 2009.
Tentang tiket pencalonan, menurut pria kelahiran Jember itu sudah didapat gambaran partai-partai mana yang akan mendukung pemimpin redaksi Surabaya Post tersebut, namun Lutfi enggan untuk mengungkapkan dari partai mana saja tiket itu didapat.

“Kita sudah melakukan pembicaraan serius, insyaallah tidak ada masalah,” tandas pria berpotongan rambut plontos dan berkulit gelap itu.

Jalil menambahkan, calon yang paling kuat sekarang ini adalah Arif Afandi dan satu-satunya cawali yang bisa melawan ketenaran wakil wali kota Surabaya itu adalah Dhimam Abror.
“Dari segi senioritas di Jawa Pos Abror lebih dikenal karena Abror asli arek Suroboyo yang lahir di Tandes, Arif kan orang Blitar,” ujar pria berjenggot putih itu.

Namun berdasarkan peta konstalasi partai-partai di Surabaya, partai yang kemungkinan besar bisa menerima Dhimam Abror adalah Partai Golkar (PG) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
sebab keduanya masih belum memiliki calon wali kota yang cukup kuat untuk ditandingkan cawali Partai Demokrat.

Tidak ingin ketinggalan dengan cawali dari partai politik, cawali independen juga terus menebar pesona kepada masyarakat Surabaya. Seperti yang dilakukan M Sholeh dan Edi Gunawan Santoso (EGS).
“Kami cukup sadar akan keterbatasan kemampuan, makanya kami hanya melakukan sosialisasi terhadap komunitas tertentu saja bersama tim relawan,” kata M Sholeh, Selasa (29/12).

Dijelaskan Sholeh, dia cukup optimistis bisa maju sebagai kandidat cawali Surabaya, meskipun jumlah dukungan KTP dan surat pernyataan yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 3.000.

Lain halnya dengan kandidat Edi Gunawan Santoso (EGS) berusaha menggalang masyarakat pinggiran untuk meraih 90.000 dukungan yang disyaratkan.

“Rata-rata di setiap kampung ada 10 tokoh yang memiliki komunitas berbeda-beda, seperti kampung nelayan, komunitas Tionghoa di kawasan Sidotopo. Dukungan ini yang sedang kami bidik untuk bisa bergabung,” ucap Edi.

Diakui Edi, tingkat elektabilitas dirinya belum setinggi bacawali lain, namun dari data yang ada di markasnya menunjukkan grafik pertumbuhan yang menjanjikan, bahkan dukungan berupa fotocopy KTP serta surat pernyataan bermaterai yang diperoleh jauh melebihi persyaratan KPU.

“Makanya kami sangat optimistis bisa maju sebagai salah satu kandidat cawali dari jalur independent. Asalkan tidak lagi ada aturan yang menghambat,” tukas Edi.

Disamping itu, menurut Edi, sebenarnya dukungan kepada dirinya tidak hanya dari masyarakat melainkan juga dari 5 partai yang memiliki kursi di DPRD Surabaya serta 22 partai non parlemen. Untuk 5 partai yang sudah menjalin komunikasi politik dengannya telah menawarkan posisi bakal cawawali. Sedangkan 22 partai non parlemen mencalonkan dirinya menjadi cawali.

“Bahkan ada tokoh nasional yang melamar menjadi cawawali kami tapi itu sebatas komunikasi politik karena belum ada tindak lanjut sampai saat ini,” tutur EGS. Joe/aru

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "