Home » Berita Terkini

Hujan Es, 2 Mati di Puncak Lawu

Magetan-Surya- Akibat cuaca yang tiba-tiba berubah ganas, dua orang yang dalam perjalanan mendaki puncak Gunung Lawu meninggal di ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl), Minggu (27/12) sore.

Kedua korban merupakan bagian dari tim beranggotakan 125 orang dari Paguyuban Condro Mowo di Ngawi (Jatim) dan Blora (Jateng). Mereka hendak mendekati puncak Lawu dalam rangka tirakat dan melakukan ritual Suroan.

Penjaga pos pantau Gunung Lawu di Cemoro Sewu, Magetan, Agus Suwandono, mengatakan, awalnya kabar yang sampai kepadanya menyebutkan bahwa selain korban tewas, ada enam pendaki lainnya yang dilaporkan hilang.

Namun, ketika evakuasi selesai dilakukan pada Senin (28/12) sore, hanya ada dua orang yang jadi korban ganasnya cuaca di ketinggian Lawu, yakni Mudji Rohman, 18, warga Candi Todanan, Blora, dan Jumain, 23, warga Demak (Jateng).

Keduanya diperkirakan meninggal di kawasan Hargo Dalem, yang hanya sekitar 200 meter dari puncak Gunung Lawu yang setinggi 3.265 meter dpl. Kawasan Hargo Dalem dianggap warga sekitar wilayah Gunung Lawu sebagai salah-satu tempat kemarat yang banyak diziarahi pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Suro atau Muharram.

Hargo Dalem juga disebut-sebut sebagai tempat pertapaan Prabu Brawijaya, raja terakhir dari Kerajaan Majapahit. Di sana terdapat peninggalan (petilasan) Brawijaya berupa bangunan dan candi.
“Informasi awal tentang kondisi para pendaki diterima dari Muis, seorang warga yang biasa berdagang di Hargo Dalem. Muis inilah yang awalnya mengurus jenazahnya,” papar Agus.

Para pendaki itu diperkirakan tewas karena kedinginan dan kelaparan akibat perbekalan yang dibawa tim mereka sangat minim. Hujan memang terus mengguyur kawasan Gunung Lawu sejak Minggu (27/12). Bahkan sebelumnya, dikabarkan sempat terjadi hujan es di atas Gunung Lawu. Sejumlah pendaki yang turun juga sudah memberitahu bahwa cuaca di atas gunung tidak bersahabat, hujan lebat disertai angin kencang.

Menurut catatan, pada musim hujan, suhu di puncak Lawu bisa mendekati 0 derajat Celcius. Bahkan, sekitar 25 tahun lalu ketika pemanasan global (global warming) belum sedahsyat sekarang, suhu di puncak Lawu bisa mencapai minus.

Salah seorang dokter yang turut dalam proses evakuasi, dr Siti Sumarni menegaskan kedua korban tewas karena kedinginan. Kedua korban diduga tidak terlatih menghadapi perubahan cuaca ekstrem dalam pendakian. Saat mereka mulai mendaki, cuaca pagi di lereng Lawu masih sejuk dan udara cerah.
“Hasil otopsi luar terhadap jenazah korban menunjukkan mereka mati kedinginan,” terangnya kepada Surya, Senin (28/12).

Kapolsek Plaosan, Kabupaten Magetan, AKP Tirto mengatakan, awalnya kedua jenazah akan dievakuasi melewati jalur Jawa Tengah, yakni lewat Cemoro Kandang. Namun, karena kawasan di mana kedua korban meninggal masuk wilayah Jatim, maka kedua korban dievakuasi lewat jalur Cemoro Sewu.

“Saat ini kedua jenazah pendaki telah disemayamkan di ruang jenazah RSUD dr Sayidiman Magetan,” ujar Kapolsek Plaosan, AKP Tirto, yang juga merupakan bagian dari tim Pencarian dan Penyelamatan (SAR) gabungan se-Kabubaten Magetan.

Hargo Dalem berjarak sekitar 6,5 kilometer dari pos pantau Cemoro Sewu. Untuk menuju ke lokasi korban di Hargo Dalem, tim SAR membutuhkan 5 hingga 6 jam perjalanan mendaki dengan kondisi jalur yang cukup curam.

Ditemui di Cemoro Sewu usai evakuasi, ketua rombongan pendaki dari Paguyuban Condro Mowo, Gufron Zainuri, menegaskan kedua rekannya meninggal akibat tidak tahan menghadapi cuaca dingin dan terpaan hujan es.

“Keduanya tak tahan dingin setelah hujan es. Kami belum sampai di puncak, dan acara kami batalkan. Sebetulnya, kami sudah 30 kali naik ke puncak Lawu,” paparnya kepada Surya.
Pria berambut gondrong ini mengaku bahwa tujuan rombongannya ke puncak Gunung Lawu melakukan doa bersama.

“Tak ada tujuan lainnya. Karena di sana, kami anggap lebih sakral suasananya,” tandasnya.
Wakil Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu dan sekitarnya, Mamun Mulyadi, menduga para pendaki yang menemui masalah itu karena mereka mendaki gunung melalui jalur yang tidak resmi.

“Diperkirakan, pendaki yang tewas tersebut mendaki Gunung Lawu dengan melalui jalur yang tidak resmi, yakni jalur Jogorogo, Ngawi, dan jalur tidak resmi lainnya,” ujar Mamun Mulyadi.

Sebagai instansi yang memiliki kewenangan memantau kondisi hutan di Gunung Lawu, KPH Lawu menetapkan bahwa jalur pendakian Gunung Lawu yang diizinkan adalah jalur pendakian Cemoro Sewu dan jalur Cemoro Kandang. Setiap pendakian yang dilakukan melalui jalur resmi harus izin kepada petugas yang berjaga di pos pantau di dua jalur tersebut sehingga tercatat.

Menurut dia, KPH Lawu dan sekitarnya sebetulnya telah mengeluarkan larangan pendakian kepada setiap pengunjung yang hendak mendaki. Larangan itu terkait cuaca buruk yang melanda Gunung Lawu beberapa hari terakhir.

“Hujan yang terus-terusan mengguyur dan hawa yang sangat dingin, dapat berakibat fatal bagi fisik para pendaki, bahkan hingga ke kematian,” ucap Mamun.wan

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "