Home » Bisnis

Harga Mamin Bakal Naik, Terkerek Gula Dunia, Desember Sudah Naik 5-10%

Surabaya - Surya- Sejumlah produsen makanan dan minuman (mamin) berancang-ancang akan menaikkan harga jual produknya, menyusul terus melambungnya harga gula sebagai bahan baku dalam sebulan terakhir.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Jatim, Yapto Willy Sinatra menyatakan, revisi harga produk mamin kemungkinan dilakukan sekitar akhir Januari atau awal Februari dengan besaran kenaikan sekitar 5 persen.

“Kita akan lihat apakah kenaikan harga gula itu terus berlangsung hingga Januari nanti. Kalau kenaikannya tak terkendali, produsen tentu akan menaikkan harga,” kata Yapto, Senin (28/12).
Ia pun mengilustrasikan, jika harga gula lokal melampaui Rp 12.000 per kilogram, bisa dipastikan produsen akan merevisi harga mamin. Ini mengingat untuk produk tertentu khususnya yang berbahan baku gula, rata-rata biaya untuk pembelian bahan baku mencapai 10-20 persen dari total biaya produksi.

Sebetulnya, lanjut Yapto, sebagian produsen ada yang menggunakan bahan baku etanol sebagai pengganti gula. Namun karena pasokan masih minim, mereka kembali lagi ke gula.
Kalaupun saat ini kalangan produsen masih mempertahankan harga, selain sebagian besar masih menggunakan stok bahan baku yang masih ada, mereka baru saja menaikkan harga jual sekitar 5-10 persen di awal bulan ini.

“Kenaikan itu terdorong oleh kenaikan harga sejumlah komponen, mulai upah buruh, bahan baku gula, juga tingginya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru,” jelas Yapto. Penjualan produk mamin saat ini rata-rata mengalami peningkatan sekitar 20-30 persen dibanding hari biasa.

Sementara itu, Direktur PT Siantar Top Tbk, Armin mengakui, pihaknya masih wait and see terhadap fluktuasi harga gula hingga Januari mendatang. Jika lonjakan harganya tak terkendali bukan tidak mungkin ia akan melakukan revisi. Berapa persen kenaikannya, pihaknya masih mengalkulasi.
“Memang untuk produk kita yang jenis candy, bahan baku gula cukup tinggi, di mana kontribusinya bisa mencapai 50 persen dari total biaya produksi,” sebut Armin.

Meski begitu, ia masih akan melihat dampak lain jika akhirnya kenaikan harga jual produknya dilakukan, di antaranya daya beli konsumen. Pasalnya, tak semua konsumen bisa menerima kenaikan harga produk, meski pihaknya belum merevisi harga dalam 1-2 tahun terakhir.

“Secara umum, tahun ini daya beli konsumen bagus, terbukti dengan adanya pertumbuhan penjualan sekitar 10 persen,” tandas Armin.

Selain candy, Siantar Top merupakan produsen noodle, crackers, biskuit dan wafer. Selama ini, penjualan produk candy masih memberikan kontribusi tak lebih dari 10 persen dari total penjualan produk yang berbasis di Sidoarjo ini. dio

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "