Di Sumenep, Pengantin Baru Tewas Tersambar Petir

SUMENEP | SURYA Online - Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mungkin itulah peribahasa yang dapat melukiskan peristiwa yang menimpa Mulyadi (24), warga Dusun Baban, Desa Baban, Kecamatan Gapura, Sumenep, Madura. Pria yang baru dua hari melaksanakan akad nikah itu, tewas tersambar petir di ladang milik keluarga istrinya, saat menanam bibit padi, Minggu (20/12).

Tubuh Mulyadi menghitam hangus terbakar akibat sengatan petir, lengan kanan dan dada korban terdapat luka-luka seperti diiris-iris. Bahkan, wajah korban melepuh menghitam hingga nyaris tak dikenali.

Informasi yang dihimpun Surya di tempat kejadian menyebutkan, pagi itu, keluarga istri Mulyadi, Handayani (20), menanam bibit padi di ladang miliknya. Korban bersama istrinya sebelumnya tidak diperkenankan ikut ke sawah karena masih pengantin baru.

Tetapi karena merasa tidak enak jika anggota keluarga yang lain ikut menanam bibit padi, korban tetap ikut turun ke sawah. Sedangkan Handayani duduk di pematang sawah sambil mempersiapkan benih padi.

” Sekitar satu jam penanam bibit padi berlangsung, tiba-tiba hujan rintik-rintik turun disertai dengan angin kencang dan kilatan petir,” ujar Fathorrahman (40) yang masih kerabat korban.

Melihat cuaca yang kurang bersahabat itu, anggota keluarga dan istri korban sudah mengingatkan agar Mulyadi berteduh saja. Namun, korban menolak bujukan istrinya, alasannya hujan belum deras juga, lalu korban terus menanam bibit padi.

Tiba-tiba, kilatan petir menyambar dirinya. Bersamaan dengan bunyi sambaran petir yang menggelegar tubuh Mulyadi terpelanting sekitar tiga meter lalu tidak bergerak sedikitpun.

“Korban tewas seketika di tempat dengan tubuh hangus seperti dibakar,” lanjut Fathor.

Handayani yang melihat langsung peristiwa memilukan itu, langsung memeluk tubuh Mulyadi yang tergolek disawah tak bernyawa. Keluarga yang lainnya pun ikut berhamburan menolong korban dengan cara mengevakuasi ke rumah korban lalu kemudian dilarikan ke RSD Dr H Moh Anwar Sumenep.

Tapi, pihak rumah sakit menyatakan nyawa korban sudah tidak bisa tertolong, karena diduga kuat meninggal pada saat petir menyambar tubuh korban. Jenazah korban lalu dikembalikan ke keluarganya untuk kemudian disemayamkan.

Handayani yang ditemui di rumah sakit menolak diwawancara. Bahkan sejumlah wartawan juga dilarang mengambil gambarnya. “Maaf, mas, istri korban masih shok, jadi tidak mungkin bisa melayani teman-teman wartawan,” ujar Karim, salah seorang keluarga dekat korban.

Sementara, Kapolres Sumenep, AKBP Pri Hartono melalui Kasat Reskrim, AKP Mualimin membenarkan kejadian tersebut. Dan sesuai pemeriksaan sementara dari polisi, korban meninggal karena kecelakaan akibat disambar petir, bukan karena disengaja atau dianiaya oleh seseorang hingga tewas.

“Sesuai pemeriksaan kami dan hasil visum dokter, korban meninggal karena kecelakaan sendiri akibat sengatan petir. Jadi, tidak ada unsur kriminalitasnya,” tegas Mualimin.

riv

Dibaca: 396 kali

  • Editor : Sugeng Wibowo

Kirim Komentar