PEKANBARU | SURYA Online - Hingga September 2009, sedikitnya 400 kasus HIV/AIDS teridentifikasi di Provinsi Riau secara kumulatif sejak pertama kali ditemukan pada 1997. Berdasarkan data yang dihimpun dari Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAID) Provinsi Riau di Pekanbaru, Senin (30/11), jumlah penderita penyakit mematikan yang terakhir ditemukan selama tahun 2009 mencapai 79 orang.
Meski begitu, jumlah kasus yang teridentifikasi dinilai masih merupakan puncak dari fenomena “gunung es”.
“Masih banyak penderita HIV/AIDS yang belum diketahui,” kata Pengelola Program KPAID Provinsi Riau, Agus Libert.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.
Akibat virus HIV, penderita juga dapat menderita sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia atau AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Kasus HIV/AIDS mengakibatkan kematian 25 juta orang di dunia, dan saat ini terdapat lebih dari 33 juta orang yang hidup dengan HIV (ODHA). Setiap hari secara estimasi di dunia terdapat 7.400 kasus baru HIV, atau lima orang per menit dan 96 persen di antaranya merupakan populasi di negara berkembang.
Menurut Agus, di Indonesia hampir tidak ada daerah yang dinyatakan bebas dari HIV dan AIDS. Bahkan, saat ini HIV dan AIDS telah ditemukan di 11 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau.
Jika dilihat dari cara penularannya, mayoritas penderita HIV/AIDS melalui heterseksual yakni 265 kasus, penggunaan narkoba suntik 108 kasus, dan pria seks dengan pria tiga kasus. Sebagian besar kasus AIDS tersebut didapatkan pada kelompok usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 131 kasus, kelompok usia 30-39 tahun 154 kasus, dan kelompok usia 40-49 tahun 51 kasus.
“Permasalahan di daerah dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah pendanaan untuk monitoring karena pemerintah masih sangat bergantung pada bantuan lembaga donor internasional yang suatu saat dapat dihentikan,” kata Agus.
ant
Dibaca: 354 kali