SUKUN | SURYA - Lembaga Swadaya Masyarakat Woman Crisis Centre (WCC) Dian Mutiara menepati janjinya untuk mendatangi Ita Ramhadia di Lapas Wanita Sukun, Malang, Sabtu (28/11). Direktur WCC Dian Mutiara, Sri Wahyuningsih disambut Kalapas Enny Puwaningsih. ”Saya tidak sempat bertemu dengan Ita. Tapi, informasi yang saya dapat dari Kalapas, dia (Ita, red) baik-baik saja,” ujar Wahyu, panggilan akrab dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini.
Sebenarnya, pihak lapas mengizinkannya untuk bertemu Ita. Namun, dia tak tega mengganggu Ita yang istirahat. Dari jendela, Wahyu melihat Ita tengah duduk di poliklinik. ”Secara fisik, dia dan bayinya tampak baik-baik saja. Tapi secara psikologis, naluri saya bilang dia menanggung beban berat,” kata Wahyu.
Selain menanyakan kondisi Ita, Wahyu menanyakan peristiwa kaburnya Ita. Pihak Lapas menyampaikan, Ita merasakan kesepian, karena tak pernah dibesuk suami dan keluarga. Inilah yang memicu dia kabur.
Aktivis perempuan ini juga mengaku prihatin dengan kurang pedulinya negara terhadap tahanan perempuan. Seharusnya, ada sosialisasi kepada keluarga tahanan perempuan, mengenai perlunya tahanan mendapat perhatian dari keluarga. ”Selaku pihak yang menitipkan, seharusnya ini tanggung jawab Kejaksaan Batu. Harusnya mereka jemput bola ke keluarga tahanan, untuk memberikan surat izin membesuk,” kata Wahyu.
Ita bukan pertama kali ini ditahan. Dari keterangan Kalapas, Wahyu mengatakan, Ita pernah ditahan di LPW Sukun, 2004 silam. ”Tapi ingat, kita tidak boleh menjadikan hal itu sebagai alasan Ita tidak mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan,” kecam Wahyu.
Pihak LPW Sukun masih menutup pintu informasi rapat-rapat terkait peristiwa kaburnya Ita, Kamis (26/11). Kalapas Sukun, Enny Purwaningsih, menolak permintaan beberapa wartawan untuk menemuinya, dengan alasan, pihaknya harus minta izin ke Departemen Hukum dan HAM Kanwil Jatim terlebih dahulu. ab
Editor : Sugeng Wibowo