Martono Terpilih Aklamasi
SURABAYA | SURYA - Kandidat ketua DPD Partai Golkar (PG) Jatim Martono, orang kepercayaan Gubernur Jatim Soekarwo, akhirnya terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-8 PG Jatim di Hotel Singgasana, Surabaya, Sabtu (28/11) malam.
Dosen Universitas Surabaya (Ubaya) itu menjadi calon tunggal, setelah rivalnya Gatot Sudjito kehilangan nyali dengan tidak mendaftarkan diri saat pencalonan. Padahal hingga Jumat malam ia yakin mendapat dukungan 19 DPD II.
Oleh karena Gatot batal mencalonkan diri, rapat dengan agenda pemilihan ketua yang dipimpin oleh Machmud Sardjujono langsung memutuskan Martono menang secara aklamasi.
Sesuai Pasal 40 Ayat 5 Tatib Musda, apabila hanya terdapat 1 calon ketua maka yang bersangkutan dinyatakan terpilih secara aklamasi. Di Musda PG Jatim terdapat 42 suara, terdiri DPD II 38, organisasi yang mendirikan 1, organisasi yang didirikan 1, organisasi sayap 1 dan DPP 1.
“Karena calon yang mendaftar hanya satu orang dan didukung mayoritas maka Martono ditetapkan secara aklamasi sebagai ketua terpilih,” tandas Machmud Sardjujono usai memimpin sidang.
Mundurnya Gatot Sudjito menjelang pertarungan itu diduga ada tekanan dari DPP. Namun, di sisi lain juga ada dorongan dari DPD II yang menyarankan dia untuk berkolaborasi saja dengan Martono.
Ketika memberikan sambutan sebagai ketua Organizing Committee (OC) di pembukaan Musda, Jumat (27/11) malam, Gatot Sudjito sudah kelihatan grogi.
Sayangnya, Ketua FPG DPRD Jatim tersebut belum bisa dikonfirmasi usai menyerah kalah. Dihubungi berkali-kali melalui ponselnya tidak diangkat, demikian pula ketika dikirimi SMS (pesan singkat) juga tidak mau menjawab.
Kompensasi Jabatan
Sebelum dinyatakan terpilih secara aklamasi, Martono sendiri sudah merasa optimistis bakal menang. Bahkan, dia berjanji akan memberi jabatan strategis kepada Gatot dalam kepengurusan nantinya.
“Tidak ada gerbong-gerbongan. Selama kader yang bersangkutan memiliki kualitas dan kapabilitas pasti akan kita masukan kepengurusan. Tidak hanya Gatot Sudjito, tapi kader yang lain juga,” janjinya.
Kabarnya, Gatot dipercaya untuk menduduki jabatan Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Kaderasisasi dan Keanggotaan (OKK).
Sementara itu, wakil bendahara DPP Partai Golkar yang juga mantan Ketua DPD I Partai Golkar Jatim Ridwan Hisjam mengatakan, Martono harus secepatnya melakukan konsolidasi internal. Konsolidasi partai tersebut sudah harus selesai pada Juni 2010.
Menurut Ridwan, selain melakukan konsolidasi internal, Martono juga harus dapat menyiapkan kader-kader baru. Terutama kader-kader penggerak yang terjun langsung ke masyarakat.
Kader penggerak adalah orang-orang yang bisa menggerakan masyarakat untuk mendukung program partai Golkar. Sehingga pada saat pemilu legislatif maupun pemilihan presiden, kader penggerak itu mampu meraup suara.
“Zaman saya dulu ada 120 ribu kader penggerak, mereka tidak tergabung dalam Pokar (Kelompok Karya),” jelasnya.
Mantan Ketua DPD I Partai Golkar Jatim Soenarjo mengatakan, tugas utama yang harus dilakukan Martono ke depan adalah melakukan kaderisasi partai. Menurutnya, kaderisasi saat ini tengah mengalami kemandegan karena Golkar berjalan sendiri tanpa dukungan dari unsur birokrat dan ABRI (TNI).
Padahal pada zaman orde baru dulu Golkar besar karena ditopang oleh jalur tersebut. Sehingga muncul istilah ABG (ABRI, Birokerat, dan Golkar). dos
Editor : Sugeng Wibowo