SURABAYA-SURYA- Skenario aklamasi menjadi isu santer dalam pembukaan musyawarah daerah (Musda) Golkar Jatim ke-8, Jumat (27/11) malam. Isu itu mengemuka seiring terkuaknya upaya kubu Martono yang mengajak kubu Gatot Sudjito untuk berkongsi.
Padahal Gatot merupakan satu-satunya calon penantang Martono dalam perebutan kursi ketua Golkar Jatim di panggung Musda ini. “Ya kami memang menawarkan opsi kolaborasi itu,” ungkap Sahat Simanjuntak, tim sukses Martono terus terang, disela-sela pembukaan Musda.
Tawaran opsi kolaborasi itu, kata Sahat, disemangati keinginan membangun kepengurusan yang solid lima tahun mendatang. Kolaborasi akan bisa meminimalisir munculnya faksi di kepengurusan, utamanya faksi pendukung ketua terpilih dan gerbong calon yang kalah, seperti yang kerap muncul selama ini.
Alasan normatif tersebut ternyata bukan satu-satunya pendorong keberanian menawarkan opsi kolaborasi. Pendorong yang lebih dominan adalah semangat membuktikan kekuatan besar Martono. Ini karena saat meminta restu dua pekan lalu, Martono berusaha meyakinkan Aburizal, bahwa dirinya benar-benar mendapat dukungan mayoritas DPD dan elemen Golkar lain.
Janji itu tidak bisa tidak harus dibuktikan dengan menang secara aklamasi. Cara ini lebih singkat waktu karena tidak perlu bertele-tele mengikuti pemungutan suara. Apalagi Aburizal sendiri juga tidak punya banyak waktu karena dalam satu hari, Minggu (29/11), dia harus bisa melantik tiga ketua DPD provinsi sekaligus. Dimulai dari Jatim, Jateng, dan Jogjakarta.
Tidak Mundur
Bagi Gatot tawaran itu dirasakan sebagai bagian dari perang urat syaraf. Makanya Gatot memilih cuek dengan tawaran kolaborasi dan akan meneruskan perlawanan hingga dalam forum pemilihan.
“Sampai sekarang, tidak ada rencana mundur dari pencalonan dan saya terus berusaha menambah dukungan,” tegas Gatot.
Perlawanan Gatot tidak menyurutkan semangat kubu Martono untuk menggelindingkan arus aklamasi. Tapi kali ini dilakukan dengan membabat habis suara pendukung Gatot. Langkah inilah petang kemarin ditunjukkan dengan mengumpulkan DPD II pendukungnya. Dari 38 DPD hanya tiga yang tidak bergabung di Sommerset, masing-masing Tuban, Ngawi, dan Trenggalek. “Sejumlah DPD yang kemarin didekati Djito sekarang pindah ikut kami,” jelas Heri Sugihono, tim Martono. Jumlah 32 ini meningkat dibanding dua pertemuan sebelumnya yang diikuti 28 dan 31 DPD. Jumlah ini sekaligus telah cukup untuk aklamasi karena telah melewati syarat minimal aklamasi, didukung 50 persen.
Gatot Sudjito lagi-lagi menyatakan tidak gentar. Menurut Gatot kehadiran DPD II secara fisik dalam forum Martono tidak bisa dijadikan pegangan mutlak. “Orang datang itu beda dengan memilih. Saya sudah cek ke teman-teman, dan yang mendukung saya masih utuh sekitar 19 DPD. Mudah-mudahan bisa bertambah sampai 23 suara,” katanya. ian/dos
Editor : jps