Mekkah - SURYA- Pada puncak ibadah haji, Jumat (27/11) waktu Arab Saudi, banyak jemaah haji asal Indonesia tidak memperoleh makanan yang layak. Bahkan ada yang tidak kebagian sama sekali.
Sejumlah jemaah asal Jakarta dan Bandung mengatakan, beberapa hari terakhir ini mereka tidak mendapatkan makanan yang layak. ”Artinya kalau nasinya kebagian, lauknya tidak kebagian. Hari ini (kemarin—Red) saya hanya kebagian nasi saja, sedangkan sayur dan lauk-pauknya kehabisan,” kata seorang anggota jemaah asal Jakarta.
Beberapa jemaah asal Jawa Barat terpaksa harus puasa. ”Saya enggak kebagian nasi maupun lauk-pauknya. Untungnya ada yang ngasih makanan kecil, ya lumayan lah,” katanya.
Dalam kondisi kurang makan, jemaah harus berjalan sejauh 5-7 kilometer. ”Tapi enggak apa-apa, yang penting saya kuat dan lancar,” ujar seorang anggota jemaah.
Menurut seorang anggota jemaah asal Jakarta Selatan, pelayanan haji yang dilakukan pemerintah dari tahun ke tahun dinilai tidak mengalami perubahan yang berarti. Setiap tahun berbagai persoalan pelayanan seperti pemondokan, transportasi, katering, dan lainnya masih muncul.
Hal ini diakui Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch Ade Irawan. Dia meminta agar pemerintah melakukan reformasi pelayanan dan tata kelola haji.
Ade mengatakan, pemerintah harus bisa memberikan jaminan pelayanan yang nyaman kepada jemaah agar mereka bisa berkonsentrasi beribadah dengan khusyuk. Setiap komponen dalam ongkos haji disampaikan secara transparan kepada jemaah, uang mereka digunakan untuk apa saja. Namun, kata dia, pemerintah justru menaikkan ongkos haji setiap tahun tanpa ada penjelasan kepada publik.
Di bidang transportasi, perubahan signifikan belum dirasakan jemaah. Jemaah yang ditempatkan di Mina Jadid atau Mina Perluasan harus berjalan kaki cukup jauh, sekitar 7 km, untuk mencapai tempat melontar jumrah (jamarat).
Padahal, Menteri Agama Suryadharma Ali beberapa waktu lalu pernah berjanji akan memperbaiki pengurusan makanan agar jemaah tidak kelaparan. ”Masalah katering menjadi perhatian kami agar tidak terjadi kelaparan lagi,” kata Suryadharma. Menag juga berjanji akan memperbaiki masalah pemondokan dan transportasi.
Sementara itu, pelaksanaan wukuf di Padang Arafah berlangsung lancar dalam kondisi cuaca cerah.
Wukuf, yang menjadi puncak ibadah haji saat para jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa dari siang sampai senja, dilakukan pada Kamis (26/11).
Sedangkan hari Jumat jutaan anggota jemaah bergerak kembali ke Mina untuk ritual melempar jumrah. Pemimpin kota Makkah, Pangeran Khaled al-Faisal, lega bahwa sampai kegiatan di Arafah tidak ada kecelakaan.
Agar proses melontar jumrah tidak menimbulkan insiden, Pemerintah Arab Saudi telah mengubah tugu Jamarat menjadi tembok Jamarat, masing-masing punya ruang untuk melontar yang sangat luas sehingga memungkinkan untuk menghindari terjadinya kerumunan yang berlebihan. Tempat melontar jumrah sendiri dilapisi spon setebal kasur, sehingga jemaah yang mungkin tergencet tidak akan mengalami luka, karena empuk.
Prosesi melontar Jumrah Aqabah di hari pertama berjalan lancar. Prosesi ini berlangsung tiga hari (untuk yang mengambil nafar awal) atau empat hari (untuk nafar tsani), dengan melontar jumrah sehari sekali. Tatang Suherman/warta kota
Editor : jps