Digendam, 3 Guru Bugil di Pasar

* Penggendam Ngaku Suruhan Bupati
* 5 Guru Sadar tapi Terlanjur Mandi Cat
Mojokerto-Surya- Entah ingin membuat resah atau sekadar iseng, penipuan berkedok menyukseskan pemilihan kepala daerah (pilkada) sedang bergentayangan di Kabupaten Mojokerto.
Yang mungkin unik dan membingungkan warga, penipuan yang diduga memakai teknik gendam itu tidak mengambil materi dari korban. Penipu hanya mengarahkan para korbannya untuk telanjang bulat dan berkeliling pasar, dengan sekujur tubuh lebih dahulu dilumuri cat serta memakai anting-anting dari rentengan koin rupiah yang dilubangi.

Penggendam yang mengaku-ngaku sebagai Asisten I Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Mojokerto itu mengatakan kepada para korbannya bahwa ritual bugil itu untuk membuang sial (atau tolak bala) Bupati Mojokerto H Suwandi, yang bakal maju lagi dalam pilkada 2010 nanti.

Setidaknya delapan orang telah jadi korban, dan semuanya pegawai negeri sipil (PNS) dengan profesi guru di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun, hanya tiga orang yang terlanjur sampai bugil dan berkeliling pasar. Sedangkan lima guru lainnya belum sempat bugil karena sudah keburu sadar. Semua korban adalah lelaki.

AR, salah-satu korban yang juga guru sebuah SDN di wilayah Kembangsri, Kecamatan Ngoro, menuturkan pada Sabtu (21/11) sekitar pukul 21.00 WIB, dirinya menerima telepon dari seorang pria. Pria itu mengaku sebagai Asisten I bidang Pemerintahan Sekkab Mojokerto, Akh Djazuli.

Si `Akh Djazuli` itu bilang bahwa dirinya diminta `Bupati Mojokerto` untuk memerintahkan AR agar telanjang dan keliling Pasar Tandjung Anyar, Kota Mojokerto, pada hari Minggu (22/11) mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Alasannya, itu sebagai ritual tolak bala sekaligus wujud rasa syukur dari para guru atas rekomendasi DPP PDIP kepada Bupati Suwandi untuk maju lagi dalam pilkada Mojokerto 2010 nanti.

“Penelepon juga meminta saya untuk melumuri tubuh dengan cat hitam serta memakai anting dari koin-koin Rp 100 yang direnteng saat bugil,” cerita AR kepada Surya.
Berdasarkan penelusuran Surya, ada juga korban yang diminta si penggendam untuk memakai anting dari rentengan lembaran uang ribuan.

“Penelepon meyakinkan saya bahwa saya orang yang pas untuk melakukan ritual tersebut. Dia bilang orang yang dipilih melakukan ritual ini hanyalah yang berbadan tegap dan tinggi. Dia sempat telepon lagi malam hari untuk kembali meyakinkan saya,” tutur AR, yang guru olahraga.

Bersama seorang rekannya yang senasib, kemarin AR menanyakan langsung kebenaran perintah lewat telepon itu kepada Asisten I Sekkab Mojokerto, Akh Djazuli.

“Jelas penipuan. Ini sangat sensitif karena mencatut nama Pak Bupati yang bakal maju lagi dalam pilkada mendatang,” tandas Akh Djazuli usai menerima dua guru korban penipuan itu, Selasa (24/11) pagi, di pendopo kabupaten.

AR tidak habis mengerti mengapa pesan si penelepon itu begitu mengiang-ngiang di telinganya dan dirinya juga patuh saja. Waktu itu, yang terlintas di pikiran AR adalah bahwa karena si penelepon mengaku sebagai Asisten I Sekkab, maka pastilah itu perintah resmi dan bertujuan baik. Apalagi, Akh Djazuli yang sebenarnya adalah mantan kepala dinas pendidikan, sehingga dianggapnya peduli pada guru.
Oleh karena itu, meskipun istrinya sempat berusaha mencegah aksi aneh itu, AR tak banyak menggubris. Esok harinya, yakni Minggu (22/11) sekitar pukul 17.00 WIB, AR sudah berada di Pasar Tandjung Anyar yang berada di tengah kota Mojokerto.

“Di pasar itu, saya belum sampai mencopot pakaian hingga telanjang tapi sudah melumuri badan dengan cat hitam sebanyak 1 kilogram, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebab, kata si penelepon jika ada bagian tubuh yang tak tersiram cat, suara saya akan hilang,” ucap AR.

Telinganya sudah terpasang anting-anting dari koin Rp 100 sebanyak 10 buah yang dilubangi dan direnteng ke bawah. Ternyata ritual yang sama juga sedang dilakukan oleh sejumlah guru yang lain di tempat yang sama.

AR mulai sadar ada yang tak beres setelah ia tak melihat apa yang telah dijanjikan oleh si penelepon. Saat menelepon, si penggendam mengatakan bahwa di Pasar Tandjung Anyar akan dijumpai kiai berjubah putih yang bakal memberi doa-doa sehingga `menutup` mata para pengunjung pasar, dan AR bakal terlihat seperti tidak telanjang.

“Untungnya, sebelum saya telanjang, saya lebih dulu mencari kiai yang dimaksud itu. Karena tidak ketemu, saya mulai ragu dan sadar bahwa ini penipuan. Saat itu sekitar pukul 7 malam. Padahal, perintahnya, pokoknya tiba di pasar saya harus langsung mencopot seluruh pakaian dan kemudian keliling pasar mencari si kiai,” kata AR.

Hingga kemarin, cat hitam yang menyiram sekujur tubuh AR belum hilang sama sekali meski dia telah membersihkannya dengan 5 liter bensin.

“Untung saya sadar. Kalau tidak, setelah dari pasar saya diperintahkan untuk pergi ke pendopo kabupaten dan di sana katanya baju pengganti akan disediakan oleh Pak Bupati,” kata AR.

Selain AR, ritual yang sama di Pasar Tandjung Anyar ternyata juga hendak dilakukan sejumlah guru. Setelah tersadar, di pasar itu AR menjumpai Poniman dan Minto, yang kondisinya juga sama dengan dirinya.

“Pak Minto dan Pak Poniman saya sadarkan sehingga selamat tak sampai bugil. Setahu saya ada lima guru yang selamat. Namun, ada tiga guru yang terlanjur bugil dan keliling pasar,” kata AR.

Sejumlah pedagang di Pasar Tandjung Anyar yang ditemui Surya kemarin mengaku, mereka melihat sekitar pukul 17.00 hingga 21.00 pada hari Minggu (22/11), ada beberapa orang mulai telanjang bulat lalu lalang di pasar dan beberapa lainnya hanya memakai cawat dengan tubuh kehitaman.
“Saya kira mereka orang gila. Saya nggak tahu kalau itu ritual orang kena gendam,” kata Agus, pedagang singkong di Pasar Tandjung Anyar.

Tiga orang yang terlanjur bugil diketahui adalah para guru olahraga dari SDN-SDN di wilayah Kecamatan Mojoanyar, Bangsal dan Ngoro. Sedangkan lima guru yang selamat berasal dari Kecamatan Gedeg, Pacet, Gondang, Sooko, dan Mojosari.

Karena namanya dicatut, Akh Djazuli bersama tiga orang guru yang selamat, Selasa (24/11) petang, melaporkan kejadian tersebut ke Polres Mojokerto. “Kami ingin agar kasus ini diungkap,” ujar Djazuli.
Kapolres Mojokerto AKBP Onto Cahyono belum mendapat laporan tentang kasus itu saat dihubungi Surya, Selasa (24/11) malam. “Saya sekarang sedang rapat di Jakarta. Tapi, tak mungkin lah bupati memerintahkan seperti itu,” ujarnya.

Kasat Reskrim AKP Samsul Makali juga belum mengetahui peristiwa tersebut. “Belum tahu. Saya masih melakukan pengembangan kasus di luar kota,” katanya. bet

Dibaca: 534 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar