Pemalang - Surya- Petir dan angin puting beliung di awal musim penghujan ini mulai menelan korban. Kamis (19/11), tiga orang tewas disambar petir di Desa Payung, Kecamatan Bodeh, Pemalang, Jawa Tengah. Warga Jatim harus waspada, karena angin puting beliung mulai mengepung.
Pada saat peristiwa terjadi yang diwarnai hujan deras itu, ada 11 orang yang tengah berteduh di sebuah gubuk. Tiba-tiba petir menyambar dan tiga orang langsung tewas seketika, sedangkan empat orang lainnya mengalami luka bakar cukup serius.
Duryani, korban selamat, mengatakan ketiga korban tewas adalah Farisin bin Cahyono, 40, warga Desa Karangbrai; Slamet Raharjo bin Hutoyo, 32, warga Desa Payung; dan Ruslani bin Daryono, 37, warga Desa Cengak; semuanya masuk Kecamatan Bodeh, Pemalang. Sedangkan empat korban luka bakar kini dirawat di Puskesmas Kebandaran, Bodeh.
Korban selamat lainnya, Tarjani menceritakan, saat peristiwa tersebut 11 penggali pasir di lahan larangan di Desa Payung sedang berteduh di gubug yang letaknya 200 meter dari lahan penggalian pasir.
“Hujan turun sangat lebat sehingga kami berteduh di bawah gubuk bambu kurang lebih satu jam lamanya. Turunnya hujan juga disertai angin kencang dan petir yang menggelegar berulang-ulang,” katanya.
Mendengar suara petir menggelegar hingga tiga kali, sambaran petir pertama tidak terjadi apa-apa, begitu juga sambaran kedua, tetapi saat sambaran petir ketiga, dirinya tak ingat lagi. “Pada saat itu saya melihat sembilan teman saya tergeletak tak berdaya, sehingga saya minta tolong kepada penduduk. Sementara itu, Duryani menolong temannya yang luka bakar,” katanya.
Hutoyo, ayah korban tewas Slamet, sempat kaget mengetahui putra ketiga dari lima bersaudara ini tewas tersambar petir. “Padahal sebelum berangkat kerja, saya sempat melarangnya pergi menggali pasir mengingat cuaca mendung pekat dan suara petir bergemuruh beberapa kali,” katanya.
Jatim Siaga
Sementara itu, wilayah Jatim sebagian besar saat ini sedang dalam masa panca roba. Dalam masa panca roba inilah, menurut prakirawan cuaca Joko Sulistyo dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya, memiliki potensi besar timbulnya petir dan angin puting beliung.
“Di masa panca roba ini ditandai dengan sering munculnya awan cumulus nimbus (CB). Awan inilah yang membawa petir dan angin puting beliung,” kata Joko ketika dihubungi Surya, Kamis (19/11) malam.
Seperti apa timbulnya petir dan angin puting beliung, Joko menyebutkan ada tiga fase kemunculan awan CB ini. Yaitu fase tumbuh, berupa gumpalan awan putih bergulung-gulung. Kemudian fase dewasa, ketika gumpalan awan putih itu berubah berwarna hitam. Terakhir fase masak, yakni awan berwarna hitam pekat diikuti dengan titik-titik air hujan dengan itensitas rendah.
Saat fase dewasa dan fase masak inilah, potensi petir disertai guntur dan angin kencang timbul. Biasanya saat fase tumbuh, angin sudah tertiup dengan membawa udara dingin. Kemudian kecepatan angin meningkat di fase masak, dan akan berkurang saat hujan turun dengan itensitas tinggi atau deras.
Ketika ditanya waktu terjadinya petir dan angin kencang, Joko menyebut terjadi antara siang hingga sore hari mulai sekitar pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Kondisi masa panca roba ini diperkirakan akan berlangsung hingga awal Desember 2009 mendatang. ”Untuk beberapa daerah di Jatim saat ini sudah ada yang masuk ke musim penghujan. Sehingga sudah terhindar dari masa panca roba yang berpotensi petir dan angin puting beliung,” lanjut Joko.
Beberapa titik yang sudah masuk musim penghujan itu di antaranya wilayah Jember barat daya, Lumajang barat daya, Lumajang bagian timur, dan Malang bagian selatan.
Sedangkan untuk kota-kota besar di Jatim, seperti Surabaya dan sekitarnya, Kota Malang dan sekitarnya, serta pesisir utara, masih dalam masa panca roba dan baru akan masuk musim penghujan awal Desember 2009.
Untuk langkah kewaspadaan menghindari petir dan angin puting beliung di masa panca roba ini, Joko meminta masyarakat untuk tidak berada di daerah lapang. Juga jangan berteduh di bawah pohon, papan reklame tinggi, atau tempat-tempat dengan puncak runcing, yang mudah disambar petir.
”Seperti orang yang berada di tengah lapang saat hujan mulai turun, dia memiliki potensi tersambar petir, karena menjadi puncak tertinggi di antara tanah lapang tersebut,” kata Joko.
Terkait gubuk di tengah sawah yang tersambar petir, Joko menyebutkan hal itu terjadi karena ada titik puncak di gubuk tersebut yang menarik petir untuk menyambarnya. Sehingga orang-orang yang di dalamnya menjadi korban.
Di Jatim, angin puting beliung sudah mulai terjadi. Di Tulungagung 85 rumah dan satu musala di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, dan Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol rusak berat diterjang puting beliung, Rabu (18/11) malam. Meski tak ada korban jiwa, namun puluhan warga harus kehilangan tempat tinggal.
Dari puluhan rumah itu, empat di antaranya rata dengan tanah. “Salah satu rumah yang rusak parah itu milik Imroah,” jelas Kades Sanggrahan, Suharno, Kamis (19/11).
Hingga Kamis siang, warga dibantu personel TNI, Polri, dan petugas pemkab Tulungagung bahu membahu melakukan perbaikan. Kabag Humas Pemkab Tulungagung, Wahyuadji, menyatakan Pemkab akan segera membantu korban.
Di Bondowoso, hujan deras disertai angin puting beliung memporak porandakan sejumlah rumah warga Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan, Bondowoso, Rabu, (18/11) sore. Seluruh atap bangunan SDN I Tanah Wulan juga rusak parah.
“Kejadiannya sebentar, mungkin hanya sekitar 20 menit,” ujar Syamsul, seorang warga. Berutung, pada saat atap sekolah ambruk, tidak ada anak-anak yang biasanya bermain di halaman sekolah.
Akibat bencana ini, pihak sekolah terpaksa memindahkan aktivitas belajar 116 siswanya di ruang perpustakaan dan ruang sekolah yang belum terpakai.
Di Jombang, Rabu (18/11) malam, angin puting beliung mengakibatkan atap gedung SDN Jarakkulon II, Kecamatan Jogoroto rusak berat, sehingga aktivitas belajar menjadi terganggu.
Kepala SDN Jarakkulon II, Sugeng Pribadi, mengatakan gedung SD itu kondisinya memang sudah rapuh. Sejak dibangun pada 1977, baru satu kali diperbaiki pada 1988. “Itu juga rehab ringan,” kata Sugeng.
Senin (16/11) lalu, sebanyak 41 rumah di Kecamatan Palengaan dan 2 rumah di Kecamatan Pegantenan, Pamekasan juga rusak parah diterjang puting beliung. Empat warga, termasuk seorang ibu hamil mengalami patah tulang akibat tertimpa reruntuhan rumah.
Waspada Banjir
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim meminta 20 kabupaten/kota waspada, menyusul petetapan status daerah-daerah itu sebagai daerah rawan banjir.
Ke-20 daerah itu masing-masing Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Tulungagung, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Kepala Dinas PU Pengairan Jatim Mustofa Chamal Basya mengatakan, sikap waspada harus dilakukan karena di tiap daerah itu jumlah kecamatan yang masuk rawan banjir berkisar antara dua sampai 27 kecamatan.
Di Kabupaten Malang terdapat 8 kecamatan dengan 22 desa rawan banjir yang dilalui 5 sungai, Kabupaten Blitar 7 kecamatan 14 desa dan 11 sungai, Tulungagung 12 kecamatan 32 desa 10 sungai, Ponorogo 3 kecamatan 5 desa 3 sungai, Madiun 3 kecamatan 4 desa 2 sungai, Nganjuk 10 kecamatan 16 desa 11 sungai, Kediri 19 Kecamatan 31 desa 10 sungai, Jombang 8 kecamatan 9 desa 7 sungai, Bojonegoro 27 kecamatan 15 desa 11 sungai, Tuban 7 kecamatan 23 desa 2 sungai, Lamongan 25 kecamatan 43 desa 15 sungai, Gresik 12 kecamatan 81 desa 2 sungai, Mojokerto 10 kecamatan 37 desa 2 sungai, Pasuruan 12 kecamatan 43 desa 6 sungai, Lumajang 4 kecamatan 5 desa 4 sungai, Jember 5 kecamatan 5 desa 4 sungai, Situbondo 8 kecamatan, 17 desa 12 sungai, Bondowoso 2 kecamatan 3 desa 2 sungai, dan Banyuwangi ada 2 kecamatan dengan 2 desa yang dilewati 2 sungai yang rawan banjir.
”Kami sudah mengirimkan surat edaran pada semua camat yang ada di daerah rawan untuk waspada banjir,” ujar Mustofa, Kamis (19/11).
Anggota DPRD Jatim, Ahmad Nawardi minta Pemprov benar-benar serius menangani masalah banjir. Karena banjir merupakan masalah tahunan yang selalu dihadapi Jatim. Untuk itu, Pemprov diminta tidak hanya gembar-gembor minta masyarakat tanggap bencana.
”Yang terpenting langkah nyata, misalnya memperbaiki tanggul kritis dan jebol, menormalisasi kali, serta membersihkan gorong-gorong. Apalagi tahun 2010 sudah dianggarkan Rp 30 miliar untuk antisipasi bencana,” tegas politisi PKB ini.
Sementara itu di Tuban, masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo mulai was-was. Terutama yang tinggal di Kecamatan Widang, Plumpang, Rengel, Soko, dan Kecamatan Parengan yang langganan banjir setiap musim hujan tiba.
Apalagi, pembangunan sejumlah tanggul bengawan solo banyak sekali yang belum selesai dikerjakan. Terutama pengerjaan tanggul sepanjang 38 kilometer di Kecamatan Plumpang dan Widang. Padahal, dari data yang ada terdapat sembilan titik tanggul rawan jebol. Empat titik di Kecamatan Widang, tiga titik di kecamatan Plumpang dan dua titik taanggul rawan jebol di Kecamatan Rengel. “Saat air bengawan naik, jelas kampung ini akan kebanjiran. Wong tanggulnya saja sampai sekarang belum selesai dikerjakan,” kata Monasri, warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang. ant/rie/k2/st6/st8/st30/uji/st31/st9/st14
Dibaca: 358 kali
reez
ada baiknya mennigkatkan kewaspadaan dan persiapan bila terjadi bencana