Pewasat Polri Hancur dan Tinggal Ekor, Evakuasi 4 Jenazah Terganggu Cuaca

JAYAPURA - SURYA- Setelah hilang kontak sejak Senin (2/11) siang lalu saat terbang dari Jayapura ke Mulia, Papua, pesawat M28 Sky Tuck P4202 milik Polri akhirnya ditemukan di lereng Gunung Dorman, Rabu (4/11) sekitar pukul 06.15 WIT. Pesawat ini ditemukan dalam kondisi hancur oleh awak pesawat milik maskapai misionaris Associated Mission Aviation (AMA).
Kepala Satuan Patroli Dirgantara di Direktorat Polisi Udara Mabes Polri, Kombes Polisi Mayor Situmorang, menginformasikan hal tersebut kepada wartawan di Hanggar Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (4/11) pagi. “Pesawat hancur berkeping-keping, hanya tinggal ekornya yang tersisa,” ungkapnya.

Seperti diberitakan, pesawat jenis Sky Truck yang hilang itu dikemudikan oleh AKP Yunus dan copilot Benedictus serta teknisi Syaiful dan Kuswanto. Pesawat yang diduga menabrak Gunung Dorman itu sedang membawa delapan drum bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dan solar milik Brimob Polda Papua yang bertugas di Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya. (Surya, 4/11).

Menurut Mayor Situmorang, posisi pesawat naas itu ditemukan di ketinggian 10.000 kaki, dengan koordinat 03.28,38 lintang selatan dan 138,27,81 lintang timur, atau di sekitar pegunungan Dorman. Kawasan tersebut berada di wilayah Illu, tepatnya di daerah perbatasan Kabupaten Tolikara dengan Kabupaten Puncak Jaya.

“Saat ini satu pesawat milik Susi Air telah diberangkatkan untuk evakuasi. Diduga empat kru pesawat yang ada di dalamnya tewas,” terangnya.

Selain itu, lanjut Mayor Situmorang, ada satu lagi pesawat KMOV yang rencananya bakal diberangkatkan tim evakuasi berikutnya. Dia berharap cuaca mendukung pelaksanaan evakuasi.
“Soal faktor penyebab kecelakaan, dugaan sementara, pesawat naas itu menabrak pegunungan di daerah sekitar lokasi kejadian. Sebab cuaca saat penerbangan pada Senin (2/11) lalu memang berawan tebal,” ucapnya, seperti dikutip tempointeraktif.com.
Namun ternyata rencana evakuasi pesawat itu akhirnya tertunda, Rabu (4/11) siang. Pasalnya, cuaca sekitar lokasi jatuhnya pesawat tak memungkinkan tim SAR melaksanakan evakuasi.
Petugas Bandara Sentani, Joko Harjani, kepada Antara, Rabu (4/11) siang mengatakan bahwa evakuasi ditunda akibat cuaca. Sehingga, anggota tim SAR –yang sudah siap diberangkatkan–pun batal berangkat.

Meski demikian, rombongan lain sudah diberangkatkan menuju Dabra, yang dijadikan pos evakuasi, mengingat jarak ke lokasi jatuhnya pesawat relatif dekat, yaitu hanya sekitar lima menit penerbangan. “Semua logistik sudah dikirim ke Dabra baik menggunakan Susi Air maupun helikopter Puma TNI-AU,” jelas Joko.

Maka, proses evakuasi akhirnya akan dimulai pada Kamis (5/11) pagi ini. Kepala Badan SAR Papua, Suyatno, Rabu (4/11) sore, mengatakan, helikopter yang dikirim ke lokasi jatuhnya pesawat, Rabu (4/11) siang, belum dapat menurunkan tim evakuasi karena cuaca berkabut. Rabu siang itu telah dikirimkan 19 personel SAR dari unsur TNI AU, Polri, Badan SAR Papua dan tim dari Radio Antar-Penduduk Indonesia (RAPI).

Secara terpisah, Kadis Ops Lanud Jayapura, Mayor Pnb Atang Soedrajat, mengaku sudah mengirimkan logistik dan perlengkapan untuk mempercepat evakuasi korban. “Selain itu kami sudah mempersiapkan pos alternatif di Talia untuk lokasi cadangan pengiriman logistik dan evakuasi korban,” kata Atang. ant/ti

Dibaca: 210 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar