Home » Jatim Raya

Geger Agama Baru di Tulungagung, Tempat Sembahyang Boleh Dipakai Umat Agama Lain

Blitar - SURYA- Bakri penasaran cara penganut Baha`i melakukan peribadatan. Karena itu, ketika ada saudaranya yang selama ini dikenal muslim mulai terlibat dalam kegiatan jemaah Baha`i, Bakri mengintip cara sembahyangnya.

Kepala Dusun Ringinputih, Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung itu menuturkan, saudaranya yang penganut Baha`i mengaku bahwa setiap hari mereka juga sembahyang.
Hanya saja, cara sembahyangnya beda dengan yang dijalankan oleh umat Islam.
“Ketika saya tanya saudara saya mengapa sembahyangnya berbeda, dia jawab bahwa Baha`i itu bukan Islam dan karena itu memang tata caranya berbeda,” tutur Bakri.
Umat Baha`i memang mengakui bahwa cikal-bakal agama mereka terkait erat dengan lingkungan Islam. Sebab, Bahaiullah yang dianggap sebagai pendiri ajaran Bahai dan sekaligus nabi terakhir zaman oleh pengikutnya, berasal dari Iran -negara yang kental dengan nuansa keislaman.
Kaum Bahai menilai bahwa ajaran agama mereka “lebih lengkap” karena membawa pesan dari ajaran-ajaran Islam, Nasrani, Yahudi, bahkan Hindu, Budha, dan Zoroaster.
Menurut Bakri, sembahyang umat Baha`i dilakukan dengan cara berdiri dan menengadahkan kedua tangan sambil komat-kamit berdoa.
“Doanya dalam bahasa Jawa atau Indonesia,” kata Bakri.
Di Desa Ringinpitu di mana terdapat sekitar 40 warga penganut Baha`i, pusat kegiatan biasanya dilakukan di rumah Slamet Riyadi, 55, tokoh sentral Baha`i Tulungagung. Kumpulan mereka disebut sebagai Jemaah Rohani dan secara rutin bertemu 1-2 kali sebulan di rumah Slamet.
“Yang datang di pertemuan bukan hanya dari Desa Ringinpitu. Itu terlihat dari plat nomor mobil yang datang. Ada yang dari Sumatera, Flores, Sulawesi, dan Jakarta,” kata Bakri.
Slamet Riyadi sehari-hari adalah seorang petani dan dikenal baik oleh para tetangganya. Karena itu, ia pun diangkat sebagai ketua RT.
“Dia bahkan bisa menyitir ayat-ayat Al Qur`an kalau menasehati warga,” kata Bakri.
“Dari lima anak Slamet, anak nomor dua beragama Islam.”
Yang agak aneh di Baha`i adalah tempat ibadahnya boleh digunakan untuk ibadah/berdoa umat agama lain. Sekilas tempat ibadah Baha`i tak ubahnya seperti masjid karena bentuknya berkubah. Namun, ada ciri khas yang wajib ada di tempat ibadah Baha`i, yakni kubahnya harus bersisi sembilan. Karena itu, tidak salah jika ada penilaian bahwa Baha`i adalah sempalan dari Islam.
“Tempat ibadah kami boleh digunakan untuk ibadah umat lain,” aku seorang penganut Baha`i kepada Surya.

Di Tulungagung, meski jumlah penganut Baha`i sampai ratusan orang, belum ada rumah ibadah untuk mereka.
Surya sempat mencoba menemui Slamet Riyadi untuk memintai pendapatnya tentang sorotan MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan warga masyarakat atas aktivitas Baha`i. Namun, Slamet selalu memilih diam.

Selain di Tulungagung, Baha`i ternyata juga sudah punya penganut di Kabupaten Blitar. Ada beberapa orang di Kecamatan Srengat, Blitar, yang telah menjadi penganut Baha`i. Umumnya, penganut Baha`i punya latar belakang Islam namun dengan kultur kejawen yang kental. Karena itu, muncul penilaian bahwa agama Baha`i sebetulnya mirip ajaran kejawen. Agama ini menekankan harmoni, dan menghindari konflik serta seolah terlihat mencampur berbagai kebajikan yang ada di semua agama.
Di Indonesia, agama Baha`i belum diakui sebagai agama resmi. Namun di Jakarta sudah ada Majelis Rohani Nasional Baha`i Indonesia.

Kemungkinan karena belum diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai agama, maka kegiatan peribadatan kaum Baha`i di Indonesia dilakukan sembunyi-sembunyi. Arief Sukaputra

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "