Home » Bisnis

Bunaing, Pengusaha Biji Mete Binaan PT Semen Tonasa

Metenya Disukai Pasar Jatim, Kulitnya Diminati Pabrik
Siapa sangka biji-biji mete yang sering dijumpai di pasar di Jatim sebagian dipasok dari wilayah Makassar. Biji mete ini mulai dimanfaatkan masyarakat di sana sejak adanya pembinaan dan bantuan modal dari PT Semen Tonasa, produsen semen terbesar di kawasan Indonesia Timur.

Memasuki kawasan Kampung Baru, Desa Taraweang, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tampak hamparan tanaman jambu mete di kebun warga. Tanaman ini tumbuh subur di daerah ini, selain jeruk Bali.

Salah satu warga yang memanfaatkan biji mete untuk dijual adalah Bunaing. Kini, usahanya sudah berjalan 12 tahun dan telah memiliki 100 pekerja yang sebagian besar wanita. Puluhan wanita yang yang dipekerjakan di rumahnya cukup mahir mengoperasikan alat pengupas mete.
“Awalnya saya sendiri yang harus mengumpulkan biji mete dari tetangga. Namun sekarang, sudah ada pengepul yang rutin memasok,” jelas Bunaing, kemarin.

Biji mete mentah yang belum dikupas, ia beli seharga Rp 8.500 per kilogram. Untuk bisa menghasilkan satu kilogram biji mete kupasan siap edar, dibutuhkan 5 kilogram mete mentah yang telah dipisahkan dari buah jambunya. “Praktis, dengan harga jual sekitar Rp 55.000 per kilogram, penghasilan yang saya dapat Rp 7.500 per kilogram,” ujarnya.

Untungnya, dari sekitar 5 pelaku usaha di kawasan itu, Bunaing bisa dibilang yang terbesar. Sehingga, dengan rata-rata 200 kilogram biji mete yang dihasilkan setiap hari, ia bisa menutupi biaya-biaya terutama menggaji karyawannya. “Untuk karyawan tetap ada sekitar 25 orang yang setiap hari bekerja, lainnya kami mitrakan di rumah masing-masing dan produksi biji mete dipasok ke sini,” ungkapnya.

Tak hanya kawasan Sulawesi Selatan saja yang meminati produk mete hasil olahan Bunaing. Produknya telah menembus sejumlah daerah di luar pulau, seperti Kalimantan, Bali dan Surabaya. “Terbesar permintaan untuk pasar Surabaya. Di agen kami, biasanya mengirim ke Surabaya sekitar 5 ton setiap 25 hari,” ujar ayah dua anak ini, yang juga memasok industri makanan ringan.

Jika biji mete diminati pasar, limbah kulit mete dari usaha Bunaing ternyata juga bermanfaat. Setiap hari, limbah kulitnya rutin dipasok ke pabrik Semen Tonasa sebagai bahan bakar alternatif. “Lumayan sekitar 1 ton per hari, hasilnya bisa menambah kebutuhan membayar upah pekerja,” timpalnya.

Usaha Bunaing merupakan satu dari sekian UKM Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Semen Tonasa, Sulawesi Selatan. Beragam usaha telah sukses berkat bantuan kredit lunak sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) anak perusahaan PT Semen Gresik Tbk itu, seperti usaha pengupasan kepiting, industri logam, penggilingan padi, pandai besi, meubel, dan warung.

Kepala Seksi Program Kemitraan PT Semen Tonasa Hari Santoso menuturkan, bantuan yang diberikan masih dalam batas kredit permodalan dengan bunga 6 persen per tahun. “Bantuan yang diberikan dibagi ke tiga segmen, untuk sektor mikro Rp 1-5 juta, UKM Rp 5-25 juta dan koperasi Rp 75 juta.

Ke depan, kami berencana memberi pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk mereka,” katanya.
Hingga 2008, Semen Tonasa telah membina 4.262 pengusaha kecil yang hampir 60 persen adalah usaha mikro dengan total pinjaman yang dikucurkan mencapai Rp 1,6 triliun. Tahun ini, dana yang telah tersalur Rp 713 juta atau baru 30 persen dari alokasi Rp 2,25 miliar yang dianggarkan. “Tahun depan, dana bantuan kami usulkan mencapai Rp 4 miliar,” ungkapnya.

Didik Sutrisno
Pangkep, Sulsel

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "