Bangunan Sekolah Rapuh, Prafon Ambruk Timpa 3 Siswa

Blitar - Surya- Tiga siswa kelas VIII E SMP Negeri 6 Kota Blitar luka-luka, akibat tertimpa plafon teras depan kelas yang ambruk sekitar pukul 11.00 WIB usai jam istirahat, karena kayu rangka yang sudah lapuk dimakan usia.

Ketiga siswa ini menjadi korban ketidakpedulian Pemkot Blitar terhadap kondisi instalasi-instalasi pendidikan yang sudah saatnya direhab. Bangunan SMPN 6 ini memang bekas markas tentara Belanda didirikan tahun 1911. Kemudian di zaman Jepang dijadikan markas tentara Pembela Tanah Air (Peta).

Sepengetahuan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Terbuka SMPN 6, Imam Sajuri, sekolah ini memang tidak pernah direhab. Hanya catnya diperbarui, serta diganti gentingnya saja. “Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, sekolah sudah mengajukan anggaran rehab teras, tapi selalu ditolak oleh Pemkot Blitar dengan alasan masuk bangunan cagar budaya,” ungkapnya.

Ambruknya plafon teras terjadi beberapa menit usai jam istirahat sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah bel masuk, seperti biasa beberapa siswa masih ada yang keluar masuk kelas. “Kebetulan ada tiga siswa di depan kelas saat itu,” ujar Imam Sajuri, Kamis (8/10).

Mereka adalah Valeria Anggun, 14, Cholifia Intan, 14, dan Rani, 14. Mereka langsung dilarikan ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, menggunakan mobil operasional sekolah. “Mereka mengalami luka di kepala, dan lecet di tangan, tapi Rani sudah boleh pulang,” tambahnya.

Rani yang sudah diperbolehkan pulang bercerita, sesaat setelah jam istirahat, Valeria dan Cholifia akan menuju ke ruang kelas lainnya. “Kemudian ada suara gemuruh seperti sesuatu berjatuhan, saya lalu keluar kelas melihat apa yang ambruk,” terangnya.

Ternyata plafon teras kelasnya ambruk, saat itulah Rani tertimpa asbes dan terdorong masuk ke dalam kelas. Karena jendela dan pintu tertutup runtuhan plafon, sekitar 38 siswa di dalam kelas panik dan berteriak-teriak. “Kebetulan ada palu, akhirnya saya bersama teman-teman bisa keluar setelah menjebol timbunan asbes,” tutur Rani yang mengaku masih pusing di kepalanya.

Tak seberuntung dia, Valeria dan Cholifia masih menjalani perawatan di rumah sakit, karena memar di kepala, serta luka di tangannya. Kejadian ini pihak sekolah langsung lapor ke Dinas Pendidikan (Dindik) setempat. Setelah dilakukan peninjauan, sementara 6 kelas yang berada satu deret dengan kelas yang terasnya ambruk dikosongkan.

Terpisah Kepala Dindik Kota Blitar, Pratignyo mengatakan, 6 kelas itu dikosongkan sampai ada pembicaraan dengan dinas terkait. “Karena bangunan 6 kelas tersebut termasuk bangunan cagar budaya,” kata Pratignyo.

Ketika ditanya mengenai tidak pernah disetujuinya anggaran rehab yang diajukan sekolah beberapa tahun terakhir, Pratignyo mengaku selama ini dipandang kondisinya masih cukup kuat. Apalagi masuk daftar bangunan cagar budaya, jadi keaslinya berusaha dipertahankan. “Tapi tahun 2010 mendatang, dipastikan akan masuk sekolah yang mendapat dana rehab,” tegasnya. Biaya pengobatan tiga siswa yang tertimpa teras akan ditanggung sekolah. ais

Dibaca: 220 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar