SURABAYA-SURYA-Bambang Dwi Hartono masih dijagokan mampu memenangkan pilwali Surabaya 2010-2015, jika mencalonkan diri sebagai walikota lagi. Namun sebaliknya, suara dukungan terhadap mantan dosen matematika itu akan merosot jika memaksakan diri maju sebagai calon wakil walikota (cawawali).
Pengamat politik Universitas Airlangga, Mohammad Asfar mengatakan kemenangan seorang calon walikota Surabaya saat ini ditentukan karena figur dan elektabilitasnya.
“Makanya wajar jika PDIP ngotot menjagokan Bambang DH sebagai cawali dalam pilwali 2010 mendatang, meski harus tergantung dengan keputusan MK,” kata Asfar kepada Surya, Selasa (29/9).
Ditambahkan Asfar, hasil survei sejumlah lembaga independent menunjukkan nama Bambang DH masih menempati urutan pertama disamping dua kandidat cawali lainnya yakni Arif Afandi dan Fandi Utomo dari Demokrat. Akan tetapi, hasil survei tersebut masih bisa berubah sewaktu-waktu.
“Bolehlah diistilahkan pilihan masyarakat terhadap cawalinya saat ini masih sekilas. Belum mencerminkan pilihan konkrit sesuai dengan keinginan masyarakat,” ucap Asfar.
Jadi, lanjut Asfar, bisa jadi seorang cawali yang awalnya kurang mendapat dukungan, mendekati pelaksaan pilwali justru didukung penuh masyarakat Surabaya.
Penggembosan PDIP
Sekretaris DPC PDIP Surabaya Whisnu Sakti Buana melihat adanya upaya-upaya memecah belah suara PDIP menghadapi pilwali Surabaya 2010-2015. Tanda-tanda itu, kata Whisnu, nampak dari munculnya Nanang Budi, kader senior PDIP, turut mencalonkan diri sebagai cawali Surabaya.
“Namanya saja tarung politik, kemungkinan itu ada. Tapi saya ingatkan pada pihak-pihak yang ingin memecah belah suara PDIP, itu sia-sia karena PDIP sudah solid hingga ke bawah. Sepanjang sejarah PDIP tidak pernah pecah,” tegas Whisnu yang juga pimpinan sementara DPRD Surabaya, Selasa (29/9).
Bahkan Whisnu berharap Nanang tetap mengikuti mekanisme partai. Dalam artian mengikuti proses rakercabsus yang akan digelar, 4 Oktober 2009. “Pak Nanang ini kan kader partai yang sudah senior, seharusnya beliau lebih tahu proses internal partai. Jangan belum-belum sudah pesimis begitu,” kritik Whisnu.
Namun jika Nanang tetap nekat maju lewat partai lain, maka PDIP akan memberi sanksi, mulai dari peringatan hingga pemecatan.
“Sanksi ini akan kami berikan jika rekomendasi DPP tentang siapa cawali yang diusung turun dan Pak Nanang tetap maju lewat jalur lain,” kata putra politisi senior PDIP Sutjipto ini.
Ketua DPC PDIP Surabaya Saleh Ismail Mukadar menganggap majunya Nanang di pilwali tanpa melalui PDIP adalah hak Nanang.
“Tapi kalau merasa kader partai seharusnya lewat partai. Kalau tidak merasa kader partai kita bisa bilang apa,” sindir Saleh.
Ketua PAC Mulyorejo Riskie Dharmaputera membantah jika ditingkat grassroot pengaruh Nanang sangat besar. Menurut Riskie, Nanang masih kalah dengan kader PDIP lain seperti Bambang DH dan Saleh Mukadar.
“Kalau dihitung dari 31 PAC yang ada yang orangnya Pak Nanang paling cuma ada dua hingga tiga PAC saja, yang lainnya lebih ke Pak Saleh dan Pak Bambang,” ujar Riskie.
Sama halnya dengan Whisnu, Riskie menganggap majunya Nanang ini hanya skenario politik untuk memecah suara PDIP. Bahkan secara terang-terangan Riskie mengaku hal itu dilakukan oleh pesaing terkuat PDIP.
“Bisa saja ini skenario kubu lawan karena jam terbang Pak Nanang di politik cukup tinggi,” ujar anggota DPRD Surabaya ini. aru/uus
Editor : jps