JAKARTA | SURYA Online - Gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, dikenal licin bagaikan belut. Murid asuhan Dr Azahari itu diburu Kepolisian RI selama 9 tahun lamanya. Berulang kali Noordin berhasil lolos saat dilakukan penggerebekan di sarang terorisme. Namun, petualangannya di Indonesia berakhir pada 17 September atau tepat dua bulan setelah aksi terakhirnya pada peledakan bom di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Sebuah rumah di Kampung Kepuh Sari, Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, menjadi tempat Noordin menyabung nyawa. Mengapa kali ini Noordin tak selicin biasanya?
Pengamat intelijen dan terorisme, Wawan H Purwanto, menilai, takluknya Noordin kali ini disebabkan mengendurnya militansi anggota jaringannya. Dalam pengamatannya, sejumlah teroris yang ditangkap hidup-hidup akhirnya mau “buka mulut” dan menunjukkan di mana Noordin bersembunyi.
“Selama ini kan sulit untuk mengetahui di mana dia (Noordin). Kalau akhirnya diketahui, berarti militansi para teroris sudah berkurang karena mereka mengaku saat ditangkap. Ini memperlancar kerja polisi,” ujar Wawan, Jumat (18/9), kepada Kompas.com.
Sesuai kronologi yang dipaparkan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, pengendusan markas Noordin berawal dari penangkapan dua orang anggota jaringan pada Rabu (16/9) siang lalu. Mereka adalah Rohmad Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu. Keduanya diketahui anggota kelompok Urwah dan Aji, yang turut tewas dalam penggerebekan.
Terbongkarnya tempat persembunyian Noordin, menurut Wawan, pasti di luar dugaan jaringan yang telah melakukan serangkaian pengeboman di berbagai tempat di Indonesia ini. “Mereka yang tersisa pasti terpukul dan mendapatkan pukulan psikologis. Hubungan koordinasi dan konsolidasi juga pasti kacau,” kata dia. inggried dwi wedhaswary/kcm
Dibaca: 316 kali
sandra irawan
semoga benar begitu bung, indonesia unite kami tidak takut!!!
ratu rumah tangga
libas habis aja itu teroris yg menyengsarakan orang2 yg tak berdosa.Knapa bukan di Amerika sana mrk ngebom nya?..Bravo utk polisi!!!!!