Tidak mudah menjadi pengajar. Di era serba terbuka kini, segala tindak tanduknya diamati. Jika mereka mengajar dengan baik, memang itulah tugas pokoknya. Kita cenderung pelit memberi apresiasi. Namun ketika ajaran itu menjadi hajaran, terjadilah hujan protes dan tuntutan. Inilah yang sedang dihadapi oleh “guru praktik api neraka”.
SEBAGAI guru agama, sah-sah saja mengajarkan hukuman terhadap orang yang tidak mengerjakan shalat. Di neraka nanti, panasnya api akan menghajar mereka. Ibu Rosida kemudian menganalogikan rasa panas api neraka dengan korek api. Beberapa siswa melepuh akibat sundutan. Lalu bagaimana jadinya ketika api neraka benar-benar membakar mereka yang meninggalkan shalat? Mungkin saja luluh lantak seperti korban bom.
Di dunia pengajaran, berpraktik bertujuan untuk memahamkan. Percuma jika siswa hanya diminta mendengar. Pasti setelah itu mereka lupa. Percuma jika siswa hanya diminta melihat. Pasti setelah itu mereka hanya pandai mengingat. Seandainya pengajaran hanya diisi dengan kegiatan mendengar dan melihat saja, hilanglah seni keterampilan untuk hidup (life skills).
Agar terampil dalam mengarungi kehidupan, siswa tidak cukup dibekali hanya dengan keterampilan vokasional dunia kerja. Juga tidak cukup dengan penilaian bahwa siswa telah mencapai atau melampaui Standar Ketuntasan Belajar Minimal. Nilai yang menentukan dalam Sekolah Kehidupan lebih dari itu. Misalnya, siswa berakhlak baik tidak dinilai dari berapa banyak bekas sundutan di pipinya.
Tetapi bagaimana caranya agar sejak usia dini mereka dilatih untuk: berpikir, bertindak, belajar, serta cakap hidup bersama di masyarakat. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sangatlah rugi bila seseorang tidak memiliki kecerdasan eksistensial atau kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ).
Pengajaran yang memuliakan manusia sangat erat hubungannya dengan: seperti apa siswa diajar sepanjang tahun, seperti apa siswa diperlakukan, dan seperti apa siswa dipercaya sebagai manusia seutuhnya.
Mengasah kecerdasan eksistensial tidak hanya berhubungan dengan jenis hukuman kini dan esok, yang diakibatkan oleh perbuatan dosa. Dosa adalah segala sesuatu yang merusak. Karenanya diperlukan keyakinan untuk menghilangkan keragu-raguan bahwa dosa memang benar-benar merusak. Jika setelah melakukan dosa kemudian menyala api penyesalan, maka semakin berkobar-kobarlah hasrat (iradah) untuk mencapai keabadian cinta terhadap Nya. Tiba-tiba saya menjadi tertarik, bagaimana caranya guru mempraktikkan cara kerja api penyesalan? Mungkinkah alat peraganya tetap korek api yang disundutkan ke pipi siswa?
Sahabat saya Ki Kemaki ikut-ikutan bingung. Sepengetahuannya, dalam hal taubat, api penyesalan itu terasa dingin oleh cahaya iman. Tidak semua keyakinan dapat diperagakan, namun hal tersebut sangat mungkin dipraktikkan. Dengan demikian belajar tentang kecerdasan spiritual sebenarnya sekaligus mengasah kecerdasan intra dan interpersonal, serta kecerdasan naturalistik.
Ki Kemaki lalu bertanya : “Tahu nggak bedanya Mulat Salira dengan Tepa Salira?” Saya berterus terang tidak paham. Setelah itu ia memukul kepalanya sendiri dengan batu cukup keras.
Darah mengucur. “Saya sedang praktik tentang Mulat Salira!”. Barangsiapa dipukul kepalanya dengan batu akan merasa sakit dan mengucurkan darah. “Oleh karena itu saya sekaligus memahami bahwa setiap orang harus Tepa Salira, dengan tidak memukul orang lain”. Saya salut sekaligus kasihan, kok masih ada pengajar yang mau menghajar kepalanya sendiri.
***
Mengajar itu tidak sama dengan menghajar. Mengajar selalu berproses secara sejuk. Menghajar cenderung menyakitkan dan menakut-nakuti. Akibatnya kita akan menjadi bangsa yang pandai berbalas dendam karena terbiasa dihajar. Mangga, silakan berbeda pendapat.
Editor : jps