Home » Surabaya Metro

Kisah Orang-Orang Sufi di Surabaya, Buah Delima, Lambang Cinta Sunan Bungkul

Surabaya -SURYA-Nama Sunan Bungkul lama-kelamaan tenggelam, kalah pamor dengan nama taman di bagian luar pekuburan ini. Padahal, 600 tahun silam, sang sunan begitu disegani. Dia mengenalkan cinta begitu santun.

Kisah ini terjadi sekitar 600 tahun lalu bersamaan dengan masuknya Raden Rahmad alias Sunan Ampel ke Surabaya pada pertengahan 1400. Di sebuah desa selatan Surabaya di pesisir kalimas, seorang sunan lahir. Dia tidak termasuk dalam barisan sembilan sunan penyebar Islam di tanah Jawa yang dikenal dengan nama wali songo.

Namun, Sunan Bungkul, bukan sekadar pemuka agama biasa. Dia adalah pemimpin lokal yang disegani pada zaman orang menyembah pohon. Dia terlahir dengan nama Supa. Pengikutnya menganugrahi gelar Ki Ageng. Jadilah dia berjuluk Ki Ageng Supa. Raja tanpa kerajaan di tanah pinggir kalimas yang subur.

Dia mengalami pergumulan batin semenjak berkenalan dengan Raden Rahmad. Dia kemudian memilih memeluk Islam dan namanya berubah menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Namun, karena statusnya dituakan di Desa Bungkul, dia lebih akrab disapa Sunan Bungkul, seperti Raden Rahmat yang disapa Sunan Ampel karena menghuni Desa Ampel Denta.

Cobalah sesakali masuk ke kompleks makam ini. Begitu eksotis. Di dalamnya masih tersisa suasana Kampung Bungkul di tengah kota yang sibuk. Ada gapura lawang agung yang direnovasi sehingga kehilangan keunikannya. . “Tetapi, sekarang gak khusyuk lagi, setelah Taman Bungkul ramai acara,” kata Amenan, peziarah dari Gresik, kemarin.

Terdapat musala lawas beratap limasan bersosoran rendah. Belasan makam santrinya yang berada di bawah rerimbunan pohon-pohon produktif yang kerap ditemui di pekarangan desa. Begitu rimbunnya kompleks ini nyaris tidak ada terik matahari yang menerobos dedaunan.

Siapa Bungkul? “Setahu saya, dia mertua Sunan Giri,” kata Amenan. Dia yakin banyak peziarah juga berpengetahuan minim tentang sejarah sang sunan. Beberapa yang ditanyai Surya, hanya menggelengkan kepala. Surya juga tidak menemukan cerita yang sahih tentang Supa.

Yang bisa dilakukan hanyalah menjahit banyak kepingan kisah tentang sosok ini dari sejarah lisan dan tulisan yang juga bersumber dari sejarah lisan. Kisah Sunan Bungkul dibumbui sinkritisme, mitos yang tidak masuk akal plus legenda yang menjurus tahyul.

Kisah yang paling terkenal dari sosoknya adalah tentang buah delima. Sahibul Hikayat Supa yang mempunyai putri Dewi Wardah, berniat menikahkan putrinya dengan menantu yang baik budinya. Namun, ia belum mendapatkan sosok menantu.

Supa lalu mengambil delima dari kebun dan bernazar, siapa pun lelaki yang mendapatkan buah ini, akan dijodohkan dengan anaknya. Delima itu dihanyutkan ke Kalimas dan hanyut ke utara. Alur sungai ini bercabang di Ngamplak dan menuju Sungai Pegirikan. Di hulu sungai, para santri Sunan Ampel asyik mandi di sungai ini. Raden Paku alias Sunan Giri kemudian menemukan delima hanyut itu.

Besoknya, Supa menelusuri Kalimas hingga sampai di Pegirikan. Di sana, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Supa yakin di sinilah delima itu tertambat. Supa bertemu dengan Sunan Ampel dan bertanya apakah ada santri yang menemukan delima di sungai.

Raden Paku, murid Ampel, dipanggil dan mengakui menemukan delima itu. Supa menyatakan bahwa delima nazar itu lambang cinta ayah pada anaknya. Isi nazar itu disampaikan ke Sunan Ampel. Maka, sesuai dengan nazar, Sunan Ampel meminta Raden Paku menikahi Dewi Wardah. Namun, karena sejatinya Paku senang dengan anak Ampel yang bernama Murtasiah, maka pada hari yang sama, Raden Paku menikah dengan dua wanita demi lambang cinta kasih sang ayah kepada anaknya. /Kuncarsono Prasetyo

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "