Jika ‘pupus-pupus muda’ dalam artian generasi muda, memiliki pemahaman tentang manfaat ganda pepohonan, ‘pupus-pupus muda’ yang sesungguhnya, yakni dedaunan pepohonan akan bertumbuh, dan pada gilirannya menghijaukan dunia.
MENGANTISIPASI global warming dan efek rumah kaca, setiap insan Indonesia harus segera mengubah perilaku statis menjadi dinamis. Kalau semula cuek bebek, sejak sekarang memikirkan bagaimana atau apa yang dilakukan untuk mencegah efek rumah kaca dan pemanasan global ini.
Dalam skala kecil, melakukan penghijauan di rumah kita. Penulis bangga jika semua keluarga memprakarsai penanaman bunga pot, buah pot, atau toga pot. Penanaman aneka tanaman itu memiliki makna ganda. Indah karena bentuk, ukuran, dan warna daun, bunga, maupun buahnya.
Hasilnya dapat petik, dan bahkan diperjualbelikan. Pasokan oksigenpun terpenuhi. Dedaunan tanaman itu selain pemasok oksigen juga merupakan filter cerdas alami yang mampu mengatasi polutan udara. Aduhai… ngedap-edapi kan karya ilahi itu?
Tidak hanya di lingkungan rumah tangga, di kantor-kantor pun demikian.
Sekolah juga memperoleh pembagian jatah berbagai tanaman kayu keras seperti ’setekan’ pohon kayu putih, kemiri, mangga, dan lain-lain. Berbagai tanaman keras tersebut segera ditanam oleh petugas. Sayangnya, tidak dibarengi dengan pemberitahuan dan larangan bagi siswa untuk tidak melakukan kekerasan terhadap tanaman ‘baru’ itu.
Yang penulis saksikan dan sesalkan, setiap hari banyak ‘tangan jahil’ siswa (entah sengaja, cuma iseng, atau semacam ketidakpahaman) yang mengoyak lembar-lembar daun tanaman. Pupus yang baru tumbuh dengan susah payah (karena setiap hari tukang kebun merawatnya), hari ini muncul, esok pagi sudah koyak, meranggas, atau tiada berbekas.
Melalui mata pelajaran yang penulis ampu, hampir setiap hari penulis juweh memberitahukan, baik secara langsung maupun melalui dongeng betapa tanaman berhak mendapat perawatan, perlindungan, dan kasih sayang sebagaimana manusia membutuhkannya.
Namun, sejuta kata dan cerita itu menguap bagai iklan almarhum Basuki tentang Antangin JRG ….. wes..ewes…ewes… bablas angine. Andai budaya ’sayang tanaman’ ini ditumbuhkembangkan sejak di lingkungan keluarga, tentulah akan kita peroleh generasi muda yang sayang akan tanaman.
Masyarakat Bali perlu diteladani. Melalui filosofi agamanya, manusia hidup berdampingan dengan hewan dan tanaman karena saling membutuhkan. Tak heran, setiap keluarga punya hewan piaraan dan aneka tanaman bunga.
Andai para orangtua mengajak putra-putrinya menyayangi tanaman yang mereka jumpai di mana pun, tanaman itu akan lestari. Melalui dongeng sebelum tidur, dialog dalam setiap berinteraksi, bahkan saat berekreasi, bahwa kita butuh kehadiran tanaman sebagai pabrik pemasok oksigen dan penyaring udara, penulis yakin tidak ada lagi ‘tangan jahil’ yang iseng mencederai daun, bunga, atau bagian lain dari tanaman sehingga menghambat pertumbuhannya.
Dengan demikian, kelak tidak akan kita dengar ada orang yang karena iming-iming tertentu sengaja meracuni dan membunuh tanaman di tepi trotoar jalan (yang sengaja ditanam) sebagai jalur hijau.
Jika ‘pupus-pupus muda’ dalam artian generasi muda kita sudah memiliki pemahaman tentang manfaat ganda pepohonan, ‘pupus-pupus muda’ yang sesungguhnya, yakni dedaunan pepohonan yang ada di sekitar kita pun akan bertumbuh dan berkembang dengan pesat dan pada gilirannya akan menghijaukan dunia kita.
Dengan hijaunya alam kita, pastilah efek rumah kaca dan pemanasan global pun dapat diatasi bersama-sama. Nah…, akankah kita biarkan pupus-pupus muda itu meranggas?
Oleh Dra Ninik Sirtupi Rahayu MPd
Guru SMPN 17 dan Ganesha Operation Malang
nsirtufi@yahoo.com
Editor : jps