SURABAYA - SURYA- Pertumbuhan lembaga pembiayaan kian menggurita. Persaingan memperoleh margin keuntungan dari bunga kredit menjadi semakin kompetitif. Apalagi lembaga perbankan juga tak kalah agresif.
Kepala Dinas Koperasi Jatim Bramansetyo mengatakan, saat ini bukan hanya Bank Perkreditan Rakyat (BPR), perbankan konvensional di unit desa juga tumbuh.
“Karena itu, koperasi akan terus melebarkan sayap dengan rencana pembukaan 4.000 unit koperasi wanita (kopwan) di 4.000 desa di Jatim pada Oktober-November,” ujar Bramansetyo, Jumat (28/8).
Ekspansi ini dilakukan mengingat potensi pembiayaan di sektor riil di tingkat UKM dan UMKM masih memiliki peluang cukup besar. “Persaingan memperoleh margin akan semakin ketat. Tapi satu sama lain tidak mungkin saling mematikan karena segmentasinya sendiri-sendiri,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, 1.800 BPR di Indonesia terancam bangkrut apabila Bank Indonesia (BI) tidak segera mengeluarkan regulasi terkait bunga pinjaman. Kehadiran lembaga pembiayaan, baik perbankan (BUMN, swasta, asing) maupun nonperbankan, kian mempersempit ruang ekspansi BPR.
“Itu terserah, yang jelas kita tidak ada niat untuk mematikan potensi lembaga pembiayaan lain. Bunga pinjaman tentu bersaing dan nasabah semakin punya pilihan,” tegas Bramansetyo.
Kehadiran 4.000 kopwan ini bertujuan memotong mata rantai bank titil yang selama ini menawarkan bunga mencekik. Dinas Koperasi Jatim menggunakan APBD untuk modal kerja Rp 25 juta per koperasi. “Jadi, totalnya sekitar Rp 100 miliar,” jelasnya.
Deputi Pemimpin BI Surabaya Nasser Atorf menambahkan, ekspansi lembaga pembiayaan, baik perbankan maupun nonperbankan, yang semakin agresif justru akan menguntungkan masyarakat.
“Suku bunga pinjaman akan semakin kompetitif. Spread margin yang mereka tentukan jadi tidak sembarangan. Sektor riil di luar korporat saat ini mulai bergeliat dan baru 35 persen saja yang tersentuh lembaga pembiayaan. Artinya, potensi lembaga pembiayaan berpeluang besar,” ungkap Nasser.
Menurut Nasser, BI tidak memiliki kewenangan mengatur dan mengintervensi suku bunga pinjaman maupun suku bunga dana lembaga pembiayaan bank maupun nonbank. “Kita hanya mengimbau, jika BI Rate saat ini 6,5 persen, idealnya suku bunga pinjaman di kisaran 11-12 persen,” katanya.
Nasser menambahkan, kalau masih banyak yang menawarkan bunga tinggi hingga 17 persen itu karena dana lembaga pembiayaan nonbank yang mereka dapatkan juga tidak murah. “Akibatnya, jatuhnya ke end-user juga tinggi,” sambung Nasser.
Berdasarkan data BI Surabaya, pertumbuhan BPR semester I 2009 di Jatim tergolong lambat. Total aset ke-339 BPR per Mei 2009 tercatat Rp 4,44 triliun, Juni Rp 4,46 triliun. Pertumbuhan aset secara year-on-year Juni 6,71 persen. Penyaluran kredit di semester I 2009 mencapai Rp 3,25 triliun, tumbuh 14,7 persen dari Juni 2008 di angka Rp 2,83 triliun. ame
Editor : jps