Home » Berita Terkini

Filipina Sita Senapan Pindad, Deplu : SS1-V1 Dikirim ke Mali

JAKARTA-SURYA - Deplu RI mempertanyakan tindakan penyitaan yang dilakukan polisi Filipina atas 50 pucuk senapan buatan Pindad dari kapal berbendera Panama pada 21 Agustus lalu meski negara tujuannya adalah Mali.

“Kalau memang senjata itu benar-benar diekspor, lalu kenapa kemudian disita?” ungkap Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah di kantor Deplu, Jakarta, Jumat (28/8).
Faiz menjelaskan polisi Filipina mengamankan sejumlah senjata yang termuat di kapal berbendera Panama dengan nama Capt Ufuk. Diantara senjata-senjata itu ada senjata berjenis Pindad SS1-V1 yang diproduksi di Bandung, Jawa Barat.

Lebih lanjut, Faiz menyebutkan melihat jalur pelayaran Capt Ufuk, kapal itu dinilai berada di jalur yang benar. Karenanya, Deplu sedikit mempertanyakan penyitaan yang dilakukan polisi Filipina. “Saat ini kita juga sedang berusaha memastikan apakah senjata itu dari Indonesia, apakah itu replika atau berasal dari Israel. Kita belum dapat keterangan dari pihak terkait dalam hal ini PT Pindad,” katanya.

Ditambahkan Faiz, Filipina termasuk negara yang melegalkan peredaran senjata di negaranya. Dengan fakta ini, Deplu juga berusaha mencari tahu apakah senjata Pindad SS1-V1 juga diperjualbelikan di sana .”Kita baru mengirimkan surat untuk meminta keterangan tentang itu,” pungkas Faiz.

Sementara itu, juru bicara PT Pindad Timbul Sitompul mengatakan, sejumlah senjata yang ditemukan di Filipina adalah pesanan dari Pemerintah Filipina dan Pemerintah Mali.

“Filipina memesan senjata jenis pistol P2 sebanyak sepuluh unit dan Pemerintah Mali (Afrika) memesan sejumlah senjata laras panjang SS1-V2,” katanya.

Seluruh pemesanan dan pengiriman barang ke dua negara tersebut telah melalui persetujuan dan referensi dari negara pemesan yakni Filipina dan Mali. Selain itu, seluruh pemesanan senjata ke dua negara itu, telah dilengkapi surat kontrak dari negara pengimpor, mendapat referensi dan persetujuan dari TNI serta izin ekspor Departemen Pertahanan. “Ketiga mekanisme itu telah kita lakukan untuk setiap ekspor senjata ke negara mana pun termasuk Filipina dan Mali,” kata Timbul.

Dugaan adanya penyelundupan senjata, dikarenakan sistem pengiriman senjata menggunakan mekanisme FOB di mana kapal yang digunakan ditentukan oleh pemesan dalam hal ini Filipina, yang ternyata berbendera Panama.

“Jadi, kita tidak tahu kapal itu dipesan dari mana oleh Filipina, yang jelas dua pesanan senjata untuk Filipina dan Mali, diangkut dengan kapal yang sama lengkap dengan dokumen resmi. Ketika sampai di Filipina, kemungkinan belum dikonfirmasi oleh pemilik kapal tentang keberadaan senjata lain, selain untuk Filipina,” ujar Timbul.jbp/mun/ant

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "