Marilah kita sadar pentingnya bertata krama lewat ponsel. Hal ini bisa dijadikan saran pula bagi anggota dewan untuk membuat peraturan atau undang-undang mengenai etika
menggunakan ponsel di tempat umum.
PONSEL yang dulunya kebutujan tersier yang kini menjelma menjadi kebutuhan primer. Hampir tiap orang menjadikan ponsel sebagai barang yang wajib punya, bahkan “wajib bawa” bagi kalangan tertentu mengingat pentingnya ponsel bagi mereka untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Banyak segi positif dihadirkan ponsel yang dapat mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik daripada sebelumnya mulai dari hal komunikasi, informasi bahkan hiburan.
Namun dari sekian sisi positif itu, ponsel tetaplah sebuah barang biasa yang tentunya memiliki sisi negatif. Ada satu yang menarik, yaitu jika ditilik dari tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Ya, ponsel seseorang bisa dipandang sebagai kesopanan sang empunya.
Bagaimana bertata krama dengan ponsel? Bagi kita yang sering membawa ponsel ke mana-mana, tidaklah jarang menjumpai semacam peringatan ataupun sekadar pemberitahuan agar menonaktifkan ponsel di saat-saat tertentu.
Di sinilah kesopanan kita diuji. Bisakah kita memperlakukan ponsel kita agar dapat menunjukkan bagaimana kita bisa menghargai yang lain?
Seringkalii kita masih menemui kejadian orang “kecolongan” suara ponselnya yang memekik ketika suasana hening atau penting. Entah disengaja atau tidak, entah atasan entah bawahan, entah dosen entah mahasiswa, semuanya sama saja, yaitu mengganggu suasana yang membutuhkan ketenangan.
Semua pikiran orang pasti tertuju pada sumber suara tersebut dan tak jarang yang berpikiran “kok gak sopan sih orang itu”.
Sebenarnya, ponsel sangat menguntungkan bagi kita namun juga dapat menjerumuskan pula bila tidak dijaga. Jika memang pada saat suasana penting itu, kita dituntut agar ponsel tidak bersuara, alangkah baiknya apabila meminta izin dahulu kepada yang lain.
Hal ini sering terjadi pada atasan. Entah terdorong oleh faktor apa, saat ponsel mereka bersuara, dengan santainya mereka mengangkat, berbicara dan parahnya mengabaikan forum. Hal ini tentu menjadi contoh yang buruk bagi siapa saja.
Bagi bawahan bukan berarti tak luput pula dari menjaga tata krama dengan ponsel. Justru sebagai orang yang harusnya “tahu diri” apabila tidak mampu maka tentunya harus bersiap-siap diri menjadi bahan comoohan, ledekan bahkan lelucon.
Tidak jarang ketika sang bawahan tidak bisa menjaga ponselnya saat suasana penting, maka atasan akan langsung menegur atau parahnya mencaci-makinya. Buntutnya, bisa panjang, dianggap tidak peduli-lah, cuek-lah, tidak menghormati.
Bagi yang masih duduk di bangku sekolah, membunyikan ponsel saat guru mengajar dapat pula berbuntut panjang. Orangtua dipanggil, diskors, atau posel dirampas. Bayangkan itu semua hanya disebabkan satu benda : ponsel!
Inti dari semua ini, bagaimana kesadaran kita memperlakukan ponsel kita sendiri. Marilah kita sadar pentingnya bertata krama lewat ponsel. Hal ini bisa dijadikan saran pula bagi anggota dewan untuk membuat peraturan atau undang-undang mengenai etika
Oleh Andryan Pradipta P
Tinggal di Gubeng Kertajaya, Surabaya
faustine_ayan@hotmail.com
menggunakan ponsel di tempat umum.
Editor : jps