SURABAYA | SURYA - Tanpa bayar SPP, buku dipinjami sekolah, seragam diberi. Jika ada kegiatan, orang tua sudah tak lagi ditarik sumbangan. Anak-anak pun hanya datang untuk belajar. Mana ada sekolah seperti ini? Ada kok di Surabaya.
Meski terdengar ganjil, sekolah tanpa bayar alias gratis ini benar-benar ada. Paling tidak sejak tahun 2000, SD Ahmad Yani yang ada di Jl Gubeng Kertajaya III ini sudah memulai. Saat itu siswanya 50 anak. Awalnya memang hanya SPP yang gratis. Jika ada kegiatan ekstra, orang tua diminta memberi sumbangan.
Menurut Anis Suparlin, guru kelas V, sejak mendapat BOS dan Bopda, sekolah yang dikelola Yayasan Pendidikan Islam Al Hidayat itu menggratiskan semua unsur biaya bagi siswanya.
Bukan hanya menggratiskan biaya pendidikan, sekolah yang menampung siswa dari keluarga kurang mampu dan anak yatim piatu itu juga membagikan tas dan peralatan sekolah seperti perangkat sekolah di awal tahun pendidikan setelah masa kenaikan kelas. Buku pelajaran dipinjami sekolah. Meski kondisi SD Ahmad Yani bukan tergolong sekolah yang memiliki fasilitas terbaik, para siswa bisa mengikuti kegiatan ekstra seperti kesenian, Pramuka, dan komputer.
Iwan Rejekiawan, bocah yang ditemukan telantar di stasiun dan tidak punya keluarga di Surabaya, mengaku senang bisa bersekolah. ”Saya punya banyak teman. Nanti kalau lulus saya mau masuk pondok,” ujar siswa kelas III ini. Iwan adalah bocah yang tidak memiliki keluarga di Surabaya. Ia masuk ke sekolah setelah diajak salah seorang wali murid yang menemukannya telantar di stasiun kereta api.
Satu lagi sekolah yang tidak memungut biaya untuk para siswanya yang yatim piatu dan dari keluarga miskin, SD Juara. Yuni Istikhah, Kepala SD Juara, bersama 10 guru lain ingin memberikan kualitas pendidikan terbaik meski siswa tak ditarik uang sekolah. “Meski baru merintis, sekolah gratis ini disiapkan menjadi sekolah unggulan dan berkualitas. Selama ini sekolah gratis dinilai berkualitas rendah,” tegas Yuni. Karenanya SD Juara menerapkan pola pendidikan modern.
Sekolah ini menerapkan sistem sekolah full day. Siswa menempuh pendidikan sekaligus kegiatan ekstra dan keagamaan hingga pukul 14.30 WIB. Sabtu dan Minggu libur. Penampilan guru-gurunya pun ditata supaya tak kalah dengan sekolah mahal. Guru lelaki mengenakan dasi.
”Kami membagikan seragam gratis bagi para siswa. Pokoknya, siswa tinggal menjalani proses belajar,” tambah Yuni.
Saat ini ada 35 siswa di sekolah yang bertempat di Jl Medokan Semampir itu. Jumlah siswa itu terdiri dari 25 siswa kelas I, empat siswa kelas II dan lima siswa kelas III. Cara merekrut siswa pun sederhana. Hanya menunjukkan foto kopi KTP orangtua atau Kartu Keluarga, surat keterangan tidak mampu, dan selanjutnya akan ada tim khusus untuk melakukan kunjungan rumah. dyan rekohadi
Dibaca: 297 kali