* 8 Juta Copy Laris Manis
* Belum Bahas Royalti Mbah Surip
JAKARTA - SURYA-Popularitas sekitar dua bulan ternyata telah mendatangkan potensi kekayaan spektakuler bagi almarhum Urip Achmad Rijanto alias Mbah Surip, 60. Pelantun hits Tak Gendong itu setidaknya telah menghasilkan sekitar Rp 33,4 miliar dari penjualan CD-nya yang sudah terjual sekitar 8 juta copy.
Keluarga almarhum Mbah Surip yang diwakili Farid Wahyu, anak kedua almarhum, mengatakan belum bisa memberikan keterangan seputar hak rumah, kendaraan, serta royalti dari ring back tone (RBT/nada sambung ponsel).
Keluarga Mbah Surip sendiri memang kurang paham dan tidak mengetahui harus berbuat apa untuk mengurus perihal royalti RBT. Selain masih dalam keadaan berduka, pihak keluarga benar-benar awam dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak.
“Untuk masalah rumah, kendaraan, atau RBT, kami belum bisa jawab. Mungkin beberapa hari ke depan lah. Mungkin tiga hari ke depan. Saya bersama keluarga kan harus rundingan dulu, bagaimana sebaiknya,” kata Farid di Jakarta, Rabu (5/8).
Sepengetahuan Farid, Mbah Surip belum pernah membicarakan masalah royalti secara gamblang. Dirinya dan Mbah Surip memang pernah mengetahui dari RBT itu bakal mendapat uang yang lumayan banyak.
Dari pembicaraan seputar RBT, Mbah Surip hanya mengatakan bakal punya rumah dan kendaraan. Lainnya, belum ada pembicaraan lagi karena ayahnya keburu meninggal.
“Saya belum bisa bilang apa-apa. Minta waktu. Ya, mungkin nanti dikasih tahu kalau sudah ada kepastian,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Dari kabar yang beredar sebelum pemakaman, CD Mbah Surip sudah terjual sekitar 8 juta copy. Bila dinominalkan, bisa mencapai sekitar Rp 33,4 miliar atau melebihi nilai nominal RBT yang royaltinya diperkirajan mencapai sedikitnya Rp 4,5 miliar.
Iwan Burnami, perwakilan dari Bengkel Teater WS Rendra yang dipercaya pihak keluarga Mbah Surip, mengatakan perihal warisan –mulai dari masalah RBT, rumah, maupun kendaraan– akan segera diselesaikan dan diumumkan kepada publik.
“Kita minta kerjasama Anda semua untuk bersabar. Karena pihak keluarga masih dalam keadaan berduka. Mungkin ya selama tiga hari, keluarga berada di Jakarta ini, sekaligus kita akan merundingkan apa-apa yang menyangkut masalah harta atau warisan,” kata Iwan.
Seorang produser Mbah Surip, Adit OB menyatakan sampai saat ini dirinya belum mengetahui persis berapa jumlah RBT lagu di masing-masing operator telepon seluler. Alasannya, hitung-hitungan kontrak baru akan diberikan setelah enam bulan, sedangkan RBT baru bisa dilakukan setelah tiga bulan perjanjian berjalan.
“Setiap tiga bulan akan ada laporan royalty yang diterima. Artinya, setelah tiga bulan masing-masing penyedia layanan atau opetator hitung-hitungan dengan pihak kami. Jadi sampai sekarang kita belum mengetahui persis jumlah penghasilan yang diterima dari RBT,” ungkap Adit.
“Kalau jumlah uang yang bakal diperoleh, ini hanya perkiraan ya, setidaknya Rp 8 miliar,” ucapnya.
Setelah meninggalnya Mbah Surip, dirinya meminta operator melaporkan jumlah RBT sehingga bisa dilakukan perhitungan untuk mengetahui hak Mbah Surip. “Kami belum mendapat laporannya.
Nilai kontrak album Mbah Surip dengan RBT itu beda,” ujar Adit. Banyaknya kontrak yang dilakukan Mbah Surip tanpa kontrol membuat perhitungan penghasilan menjadi samar. “Kontrak di mana-mana dan jarang dibaca. Dia bilang percaya saja tanpa melihat isi kontrak,” ujar Adit lagi.
Disinggung mengenai ahli waris yang akan menerima, pihaknya belum bisa memastikan karena menjadi urusan keluarga. Almarhum yang meninggal secara mendadak, Selasa (4/8), itu juga tidak mengeluarkan wasiat tentang ahli waris dan hanya ingin dimakamkan di pemakaman bengkel Teater WS Rendra di Depok.
Sekelas Michael Jackson
Setelah tiada, CD album Mbah Surip justru makin diburu penggemarnya. CD album asli maupun bajakannya, semua laris. Hanya Michael Jackson yang bisa mengalahkannya.
“Untuk artis local, CD Mbah Surip paling laris di sini. Yang mengalahkan cuma Michael Jackson. Ya kita bisa banggalah ada orang kita yang sekelas Jacko,” kata Nanang, penjual CD asli album Mbah Surip di Blok M Plasa, Rabu (5/8).
Nanang menjelaskan, stok CD lagu Mbah Surip di tokonya hanya tinggal 3 buah. Dalam tiga minggu, 50 keping CD lagu penyanyi lagu Tak Gendong ini laku. “Hari ini saja laku 8 buah, sekarang kita mau nambah stok,” katanya.
Tidak hanya yang asli, CD bajakan penyanyi berambut gimbal ini juga laris diburu penggemar. Andi, 22, penjual CD bajakan di Blok M Square menyatakan rata-rata 5 orang mencari CD Mbah Surip. CD asli Mbah Surip dibanderol Rp 20.000, sedangkan bajakan dijual Rp 7.000.
Menurut Direktur Aquarius Mahakam Jakarta, Al Jaw, sebelum Mbah Surip meninggal, album dengan lagu unggulan Tak Gendong itu berada di peringkat 20 besar. Satu hari rata-rata tiga CD terjual. “Tapi setelah Mbah meninggal, penjualan naik jadi 10 CD per hari. Albumnya pun naik ke peringkat 4,” katanya.
Al Jaw tak memungkiri saat ini Mbah Surip makin naik daun.Namun, kabar kematian Mbah kemarin turut menaikkan penjualan album Mbah. Al Jaw juga menilai musik Mbah Surip kebanyakan dinikmati orang-orang dengan ekonomi menengah atas. Pasalnya, penjualan album dalam bentuk CD lebih laku ketimbang kaset. “Biasanya kalau CD yang lebih laku, penggemarnya menengah ke atas,” jelasnya.
Sementara itu, keluarga Mbah Surip memrotes manajemen Kampung Artis p terlalu banyak meraup keuntungan. Namun Kampung Artis selaku manajemen Mbah Surip
membantahnya. “Kita tak membuat Mbah Surip sebagai sapi perahan,” ujar Petrus Idi
Darmono dari Kampung Artis ditemui di kawasan Depok, Jawa Barat, Rabu (5/8).
Selama bergabung dengan manajemen Kampung Artis, Petrus mengaku baru tiga kali memberi pekerjaan kepada pria berambut gimbal tersebut. Tiga pekerjaan itu bernilai Rp 63 juta.
Selebihnya mereka tak bisa mengganggu jadwal promo Mbah Surip. Jadwal pentas Mbah Surip memang padat, tapi itu tak datang dari Kampung Artis.
Selain diurusi manajemennya, Mbah Surip juga dimanajeri Farid, anak keduanya. “Di media banyak yang bilang manajemen nggak becus. Padahal kita punya waktu dari 100 persen, kami punya hanya 40 persen saja. Mbah itu nggak memikirkan gepokan uang,” jelas Petrus.
Lebih Besar Lagi
Mengetahui kabar tentang royalti yang bakal diperoleh Mbah Surip mencapai Rp 4,5 miliar yang didapat dari RBT lagu Tak Gendong, penyanyi, pencipta lagu, dan produser musik Dharma Oratmangun merasa hal itu terlalu kecil. Justru, pria ini menilai hasil royalti Mbah Surip bisa mencapai nilai minimal Rp 10 miliar.
Menurut Dharma yang juga ketua umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (Papri), sampai saat ini masih tidak ada kejujuran bagi seniman, pencipta lagu, dan penyanyi ketika lagunya dijadikan RBT.
“Dari data yang saya miliki, dari sejumlah penelitian tentang penggunaan hak cipta atas hasil karya seni, penyanyi dan pencipta lagu hnaya mendapatkan jatah 2,26 persen dari hasil penggunaan nada tunggu atau sambung itu. Justru, yang paling menikmati adalah usaha penyedia jasa
telekomunikasi, label, dan perantara kontrak antara seniman atau artis,” ujarnya.
Salah satu contohnya, penyedia jasa layanan komunikasi selular mendapatkan Rp 5.575
atau 63,89 persen dari harga RBT yang senilai Rp 9.000 untuk satu kali mengunduh (download). Sementara label dan perantara kontrak mendapatkan Rp 2.438 atau 27,08 persen.
“Apa yang terjadi saat ini bagi artis, penyanyi, pencipta lagu, dan seniman sangat memrihatinkan. Padahal, di undang-undang perlindungan hak cipta sudah jelas. Sesuai UU Hak Cipta No 19 Tahun 2002 pasal 45 ayat 4, kontrak antara penyanyi maupun pencipta lagu untuk penggunaan hak cipta harus ada kesepakatan antara penyanyi pencipta lagu dengan penyedia jasa layanan telekomunikasi selular serta label, termasuk
dengan organisasi profesi. Almarhum Mbah Surip kan sudah 18 tahun jadi anggota Papri. Namun, sampai saat ini berapa jumlah penggunaan hak cipta lagu itu tidak dilaporkan oleh pihak pengguna hak cipta,” jelas Dharma.
“Kalau cuma dapat seperti itu kan sama saja tak ada penghargaan karya seni. Hanya dijadikan komoditi bisnis saja. Fakta yang saya dapat di Amerika Serikat, pencipta lagu dapat 9,34 persen, itu belum termasuk jika penciptanya juga penyanyinya.
Di Singapura, pencipta lagu dapat hampir 8 persen, itu belum termasuk jika penciptanya itu juga yang menyanyikan lagunya. Saya Cuma berharap apa yang diberitakan dapat dilacak kebenaranya dan royalti yang seharusnya didapat almarhum dapat diungkap,” kata Dharma.
Sehari setelah kematian Mbah Surip, permintaan terhadap lagu Tak Gendong di sejumlah
operator ponsel memang meningkat, terutama melalui RBT. PT Indosat Tbk mencatat, sepanjang Rabu (5/8), pihaknya melayani lebih dari 83.000 download lagu Tak Gendong yang diciptakan Mbah Surip pada 1983 itu. “Sampai hari ini (kemarin) sudah ada 83.000
lagu yang di download pelanggan Indosat plus 8.300 pelanggan baru dan memasangnya sebagai RBT,” kata Adita Irawati, Corporate Communications PT Indosat saat dihubungi kemarin.
Jumlah tersebut tak jauh beda dengan permintaan layanan RBT lagu yang sama yang diperoleh operator ponsel kartu XL. Menurut General Manager Corporate Communications PT Excelcomindo Pratama Tbk Myra Junor, RBT lagu Tak Gendong mencapai 70.000 download dalam dua bulan terakhir. “Jumlah itu belum termasuk permintaan Rabu (5/8) ini,” kata Myra.
Ia menuturkan, sepanjang Rabu kemarin permintaan lagu Tak Gendong sebagai RBT meningkat hingga 40 persen, atau sekitar 28.000 pelanggan. “Lagu Mbah Surip itu berada di peringkat pertama yang digemari orang,” kata Myra. Dibawah lagu Tak Gendong ada lagu Jangan Menyerah yang dipopulerkan d’Massiv dan You’re Not Alone milik Michael Jackson.
Adita menjelaskan, untuk sekali berlangganan RBT selama satu bulan, setiap pemilik ponsel dikenakan tarif Rp 7.000, dan ongkos langganan mingguan Rp 3.000. Namun Adita enggan menjelaskan persentase pembagian yang diterima Mbah Surip sebagai penyanyi dan pencipta lagu. “Soal itu tak bisa dijawab,” kata Adita.
Sedangkan Myra mengaku pihaknya menerima 35 persen untuk sekali download lagu. Myra menyatakan, XL mematok harga langganan Rp 5.000 per bulan untuk lagu Tak Gendong. Artinya, XL menerima Rp 1.750 sekali download, sisanya sebesar 65 persen dibagi antara content provider (perantara) dan label, pencipta musik dan penyanyi. “Besarannya berapa, kami tidak tahu,” ujar Myra.
Dibanjiri Peziarah
Kabar telah berpulangnya Mbah Surip membuat para penggemarnya penasaran. Sehari setelah pemakaman, puluhan orang datang silih berganti ke kompleks Bengkel Teater untuk berziarah atau sekadar ingin melihat makam Mbah Surip.
Keramaian telah berlangsung sejak pukul 09.00 WIB, Rabu. Secara bergantian warga sekitar dan pengguna jalan mampir ke Bengkel Teater, Citayam, Jawa Barat. Ada pria, wanita dan anak-anak.
Datang pula serombongan siswa kelas 2 SDN Cipayung, Jakarta Timur. Kebetulan gedung sekolah mereka berdekatan dengan kompleks Kampung Artis yang menjadi tempat tinggal Mbah Surip sejak meledaknya lagu Tak Gendong. “Diajak oleh guru untuk berdoa buat Mbah Surip,” ujar Melda, seorang siswa.
Puluhan siswa tersebut berdoa di depan makam Mbah Surip, meminta agar arwah pria berambut gimbal itu diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Usai berdoa, para siswa bernyanyi Tak Gendong secara bersamaan.
Makam Mbah Surip juga kian padat dengan timbunan bunga duka. Karangan bunga dari sejumlah tokoh dan rekan-rekan artis juga tertata rapi di pintu masuk sanggar Bengkel Teater. Tampak di antaranya karangan bunga dari Presiden SBY dan Ny. Ani Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, dan Menbudpar Jero Wacik.
Tidak ketinggalan karangan bunga duka dari kalangan musisi seperti Project Pop, keluarga besar OB RCTI, dan beberapa sekolah musik. persda network/dic/esy/wkt