Merpati Hancur, Semua Penumpang Tewas, Belum Dapat Dievakuasi

JAYAPURA - SURYA - Pesawat Twin Otter milik PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), yang jatuh di wilayah Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Minggu (8/5) lalu, hancur berkeping-keping. Semua penumpang dan awak pesawat dipastikan tewas.
Sampai Rabu (5/8) malam semua jenazah belum dapat dievakuasi. Karena medan yang sulit, maka lokasi pesawat jatuh hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki, dan tim SAR diperkirakan baru akan tiba di lokasi pada Rabu tengah malam.

Keterangan bahwa para penumpang dan awak Merpati tewas disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) PT MNA, Bambang Bhakti, di Sentani, Jayapura, Rabu (5/8). “Semua penumpang dan awak pesawat tewas. Hal ini kami ketahui dari tim darat dan warga masyarakat Abmisibil yang sudah berada di lokasi jatuhnya pesawat tersebut,” kata Bambang dengan suara sedih.

Seperti diberitakan, Twin Otter Merpati bernomor penerbangan MZ 9760 D — dengan pilot Qadrianova dan kopilot Pramudya serta teknisi Supriadi– hilang, Minggu (2/8) siang, diduga akibat cuaca buruk. Pesawat ini membawa 11 penumpang dewasa, dua anak, dan tiga awak.

Dua hari kemudian, Selasa (4/8) pagi, Kapten Pilot Erick Douglas yang tergabung dalam tim misi pencarian menemukan titik jatuh pesawat. Dari udara dia melihat ekor Merpati itu di Ampisibil, sekitar tiga nautica mile dari Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang.

Menindaklanjuti kabar penemuan tersebut, pada Selasa (4/8) pukul 10.30 WIT diberangkatkan tim udara maupun tim darat yang terdiri atas 10 warga masyarakat, enam anggota TNI, dan satu polisi. Tim darat menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. (Surya, 5/8).
Ketua DPRD Pegunungan Bintang, Costan Oktemka, Rabu (5/8) siang, menyebutkan bahwa kondisi Merpati itu hancur berkeping-keping. “Pesawat hancur berantakan,” kata Costan, yang mengaku mendapatkan laporan dari warga Kampung Abmisibil, Distrik Okbibab, yang berjarak sekitar 5,5 kilometer dari lokasi pesawat jatuh.

Informasi tersebut diperoleh Costan Oktemka dari anggota DPRD Pegunungan Bintang, Agus Uropmabin. Kepada Kompas.com Costan menjelaskan bahwa Agus bersama sejumlah warga Kampung Abmisibil berjalan kaki menengok lokasi itu.
Sedangkan menurut Dirut MNA, Bambang Bhakti, tim SAR yang terbang dengan Helikopter Kamov KA-32A 11BC/PK.JTC — mengangkut delapan anggota tim, yang disebut tim udara– tidak dapat mendarat di tempat jatuhnya Merpati. Akhirnya mereka mendarat di lapangan terbang perintis Abmisibil, kemudian berjalan kaki menuju lokasi pesawat jatuh.
“Diperkirakan tim udara yang berjalan kaki itu akan tiba di lokasi pada tengah malam nanti,” kata Bambang.

Cuaca Memburuk
Kapolres Pegunungan Bintang, AKBP Michael, ketika dihubungi Antara dari Jayapura, Rabu (5/8) siang, menyebutkan, rencana tim udara mencapai lokasi jatuhnya pesawat tak dapat direalisasi karena cuaca kembali memburuk. Akibatnya, delapan anggota tim SAR yang diangkut heli Kamov dari Oksibil itu tertahan di Kiwirok.
“Kami belum dapat memastikan kapan tim tersebut tiba di lokasi, karena semua tergantung cuaca,” tegasnya.
Menurut kapolres, walaupun tim SAR belum berhasil tiba dilokasi namun sejumlah warga yang didampingi satu regu anggota TNI-AD berhasil mendekati lokasi jatuhnya Merpati. “Mereka saat ini sedang menyiapkan berbagai kemungkinan untuk mendukung proses evakuasi,” jelas AKBP Michael.
Secara terpisah, Koordinator SAR Jayapura yang juga Komandan Pangkalan Udara Jayapura, Kolonel (Pnb) Suwandi Mihardja, menyatakan hal senada. “Untuk sementara helikopter kamov PK-YTC mendarat di Distrik Kiwirok guna menunggu cuaca lebih baik agar bisa kembali terbang menuju lokasi jatuhnya pesawat,” katanya, di Jayapura.

Dia menjelaskan bahwa cuaca di wilayah Pegunungan Bintang, Papua, sering berubah-ubah sehingga membuat tim SAR yang melewati udara mengalami kendala. Apalagi, lokasi jatuhnya pesawat terdiri atas tebing yang tinggi dan jurang yang terjal.

Mengenai tim darat, Suwandi Mihardja menginformasikan bahwa mereka sudah mendekati lokasi pesawat, dan sekarang berada di daerah Carvak. Dia telah meminta agar tim darat itu –bila sudah tiba di lokasi jatuhnya pesawat– tidak menyentuh korban dan pesawat sampai tim SAR udara tiba. Hal tersebut untuk proses penelitian jatuhnya pesawat.
“Hari ini upaya evakuasi korban musibah jatuhnya pesawat Merpati kembali dilakukan. Tim SAR yang menggunakan helikopter Kamov, yang disebut tim udara, telah terbang dari Oksibil; sedangkan tim darat yang terdiri atas prajurit TNI dan masyarakat setempat sedang berjalan kaki menuju lokasi kejadian tersebut,” katanya. ant/kcm

Dibaca: 169 kali

  • Editor : jps

Kirim Komentar