SURABAYA-SURYA- Upaya Developer Siasati Kelesuan Pasar. Sejumlah developer properti mulai mengalihfungsikan produk properti hunian menjadi perhotelan. Strategi ini dilakukan menyiasati lesunya pasar properti, khususnya kelas atas beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, tingginya okupansi perhotelan di Surabaya yang rata-rata di atas 70 persen juga menjadi alasan utama sejumlah developer melakukan alihfungsi produk perumahan ke perhotelan.
Seperti dilakukan PT Bukit Darmo Property Tbk, yang mengalihfungsikan Apartemen Adhiwangsa Tower B menjadi hotel berbintang lima dengan investasi Rp 350 miliar. Langkah itu untuk menyesuaikan tren pasar dan memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan Surabaya Barat.
Presiden Direktur PT Bukit Darmo Property Tbk Philip Tonggoredjo mengatakan, untuk realisasi rencana itu, saat ini pihaknya telah melakukan pembicaraan setidaknya dengan tiga operator perhotelan. Masing-masing operator memiliki standar layanan hotel bintang lima dan berjaringan internasional.
“Nantinya, dari tiga operator itu akan ada satu operator yang dipilih untuk mengoperasionalkan hotel alihfungsi dari satu tower apartemen Adhiwangsa,” kata Philip, belum lama ini.
Hotel yang akan mulai beroperasi penuh pada 2010, menurut Philip, memiliki 260 kamar. Disamping itu dilengkapi convention hall berkapasitas hingga 3.000 tempat duduk. “Kami optimistis hotel yang kami buka akan menjadi salah satu yang terbaik di Surabaya Barat. Karena dilengkapi fasilitas yang saling bersinergi dengan Apartemen Adhiwangsa Tower A dan pusat perbelanjaan moderen,” ucap Philip.
Proses alihfungsi juga dilakukan PT Surya Inti Permata Tbk (SIIP), dari perumahan elit menjadi kondominium dan hotel (kondotel). Ini dilakukan setelah pasar penjualan rumah elit kelas atas mengalami stagnasi dalam setahun terakhir.
Direktur Utama PT SIIP Henry J Gunawan mengatakan, kondotel dengan nama ‘Rich Prada’ berlantai enam dengan 600 unit kamar itu direncanakann beroperasi penuh pada pertengahan 2010. “Strategi itu harus kami laksanakan dengan cepat melihat kondisi pasar rumah kelas atas yang kurang menguntungkan,” kata Henry.
Henry menuturkan, perumahan elit La Premira mulai dialihfungsikan karena penjualannya mengalami setagnasi. Sejak launching perdana pada pertengahan 2008 sampai pertengahan tahun ini, penjualan tidak memenuhi harapan.
“Kami melihat daya beli masyarakat sedang turun dan banyak investor yang enggan menanamkan investasi di sektor properti kelas atas, di sisi lain saat ini banyak masyarakat yang suka melancong dan menginap di hotel. Makanya kami berinisiatif masuk ke bisnis kondotel,” tukasnya.
Jaringan Hotel
Tingginya okupansi hunian hotel juga menarik perusahaan properti kelas atas PT Intiland Development Tbk. Pada pertengahan 2009, Intiland mulai mengembangkan jaringan Whiz Hotel di Indonesia. Bisnis perhotelan, kata Corporate Secretary Intiland Development Theresia Rustandi, merupakan bisnis baru yang sebelumnya lebih berkonsentrasi di properti hunian, kawasan industri, dan gedung perkantoran.
“Optimisme tinggi terhadap pasar perhotelan yang potensinya cukup besar menjadikan kami mulai masuk ke bisnis itu,” kata Theresia.
Tahap awal, jaringan Whiz Hotel dimulai dengan membangun hotel di Daerah Istimewa Jogjakarta dengan 103 unit kamar. Whiz Hotel kedua rencananya dibangun di Semarang dengan 150 kamar. Selanjutnya, Whiz Hotel akan menjajaki potensi pengembangan di berbagai kota besar lain, antara lain Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Malang, Manado, Balikpapan, dan Bali.
“Pengembangan jaringan hotel ini melalui dua skema. Yakni, skema kerja sama strategis dengan pemilik tanah melalui build operate transfer (BOT), maupun manajemen operator,” ucapnya. aru
Editor : jps