Probolinggo-Surya- Puluhan mahasiswa yang menamakan diri Aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se Jatim berunjuk rasa di halaman Kantor Pemkab Probolinggo, Kamis (30/7).
Mereka menyampaikan tuntutan seputar masalah pendidikan, sosial budaya, ekonomi dan politik. Aksi itu digelarnya setelah diskusi forum BEM se Jatim di Universitas Zainul Hasan, Pajarakan Kabupaten Probolinggo, yang diikuti aktivis BEM dari perguruan tinggi di 38 kota dan kabupaten se Jatim.
Beberapa tuntutan mereka di antaranya, meminta kepada pemerintah kota dan kabupaten supaya menganggarkan biaya pendidikan dengan persentase 20,4 persen, optimalisasi budaya Jawa Timuran, termasuk optimalisasi serta pemberdayaan pasar tradisional. “Kami cuma meminta agar rekomendasi ini dibacakan,” ujar Ulumudin dari STAI Zainul Hasan.
Namun Asisten I Pemkab Probolinggo Abdul Aziz yang menerima kedatangan pengunjuk rasa langsung menolaknya. Masalahnya apa yang dituntut aktivis BEM itu telah lama diberlakukan di daerahnya.
“Apa yang menjadi rekomendasi BEM itu sudah kedaluwarsa di Kabupaten Probolinggo. Anggaran pendidikan kita sejak tahun lalu sudah 32 persen dan kita sudah mengoptimalkan pasar tradisional,” tandasnya.
Namun aksi unjuk rasa mahasiswa itu tidak berlangsung lama. Petugas Polres Probolinggo mengancam akan membubarkan paksa aksi mahasiswa itu lantaran mereka tidak mengantongi izin pemberitahuan ke polisi.
“Anda semua sudah kita terima secara baik-baik. Padahal, anda tidak mengantongi izin pemberitahuan,” tandas Kabag Ops Polres Probolinggo Kompol Hadi Prayitno. st4
Editor : jps